Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 47


__ADS_3

Lian pun segera mendekati sang kakek dan duduk di hadapan kakeknya itu, “Ada apa kakek mengundangku kemari?” tanya Lian to the point.


“Apa aku tidak boleh menemui cucuku? Aku merindukannya jadi aku mengundangnya karena jika tidak maka dia pasti tidak akan datang.” Ucap George menyindir Lian.


“Kakek jangan menyindirku. Aku tahu kau mengundangku ke sini bukan karena merindukanku. Semua orang tahu bahwa kita adalah kakek dan cucu yang tidak akrab jadi jangan mengatakan sesuatu yang asing di antara kita.” Ucap Lian.


Alan yang sudah masuk dan mendengarkan perdebatan itu pun hanya diam saja karena dia sudah hafal dengan kejadian seperti itu, “Hah, ternyata kau memang sangat keras kepala. Baiklah aku juga tidak akan lama-lama bicara padamu. Aku mengundangmu ke sini karena dua minggu lagi pertunanganmu akan di adakan.” Ucap George.


“Pertunangan? Dua minggu? Apa aku tidak salah dengar? Kapan aku menyetujui pertunangan ini?” tanya Lian.


“Kakek tidak butuh persetujuanmu karena selama kau masih cucu kakek kau tetap harus menuruti aturan kakek.” Ucap George tegas.


“Aturan kakek? Sejak kapan aku taat akan aturan itu? Sudah aku katakan aku tidak akan pernah menyetujui perjodohan ini. Sekali tidak maka selamanya tidak.” Ucap Lian kesal lalu berdiri berlalu meninggalkan sang kakek.


“Jika kau pergi malam ini dari sini dan tetap menolak perjodohan ini maka jangan harap kau bisa menemui gadis itu lagi.” Ucap George.


Lian yang mendengar itu segera berbalik, “Apa maksud kakek?” tanya Lian.


George tertawa, “Apa kau pikir aku tidak tahu sama sekali mengenai gadis itu? Kau salah jika aku ingin aku bisa saja memisahkanmu dengan gadis itu seperti apa yang aku lakukan kepada ayahmu.” Ucap George.


Lian yang mendengar itu pun menjadi semakin kesal lalu segera mendekati sang kakek, “Kakek aku selama ini masih menghormatimu karena darahmu mengalir dalam darahku tapi aku tidak akan tinggal diam jika kau macam-macam dengan gadisku.” Ucap Lian marah.


“Hahah,, gadismu? Aku ingin lihat sampai kapan dia menjadi gadismu.” Ucap George.


“Kakek!!” ucap Lian berteriak kesal lalu segera meninggalkan Mansion utama. Alan yang melihat tuannya sedang marah pun segera berlari menyusul karena dia tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada tuan mudanya.


George yang melihat kepergian dan kemarahan sang cucu pun hanya menghela nafas, “Apa kau yakin rencana ini berhasil?” tanya George menatap seseorang yang baru saja keluar dari persembunyiannya. Orang itu pun hanya mengangguk.


***


Lian yang saat ini sedang dalam kondisi kurang baik pun hanya bisa diam karena saat ini perasaannya campur aduk antara marah, kesal dan takut jika sang kakek benar akan melakukan apa yang dia katakan.

__ADS_1


Alan yang mengendarai mobil pun hanya diam saja karena tidak tahu harus bersikap seperti apa, “Tuan apa kita akan kembali ke apartemenmu?” tanya Alan memberanikan diri bertanya karena dari tadi dia hanya berputar-putar saja.


“Terserah padamu saja.” Jawab Lian.


Alan pun hanya mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju apartemen tuannya itu.


***


Dua hari kemudian, kini Zea sedang ada di rumah Zia. Yah sejak Zia melahirkan sang adik itu tinggal di sana karena dia juga membantu Zia dalam pembuatan kliniknya. Jadi Zia meminta sang adik itu tinggal bersamanya untuk sementara.


“Zea, Zea,,,” panggil Zia.


“Dek, apa yang kau pikirkan?” tanya Zia sambil menepuk bahu Zea.


Zea pun segera sadar dari lamunannya, “Ada apa kak? Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Zea.


Zia pun hanya menggelengkan kepalanya, “Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan hingga kakak memanggil pun tak kau sahuti?” tanya Zia menatap sang adik.


Zia pun tidak memaksa adiknya itu bicara karena dia tahu jika Zea sudah ingin bicara pasti akan mengatakannya kepadanya.


“Kak, Zea pergi keluar sebentar ya!” izin Zea.


“Kemana?” tanya Zia.


“Hmm,, mungkin ke taman sebentar.” Jawab Zea.


“Baiklah. Ingat kamu hati-hati.” Pesan Zia.


Zea pun hanya mengangguk lalu berlalu dari kamar putra ketiga Zia itu.


“Sebenarnya apa yang kau pikirkan dek?” gumam Zia sambil melihat kepergian sang adik itu. Zia tahu adiknya itu pasti sedang memikirkan sesuatu karena tidak biasanya adiknya itu tidak fokus dan satu hal yang pasti adiknya itu terlihat murung selama dua hari terakhir ini.

__ADS_1


***


Zea pun kini sudah sampai di taman, dia pun duduk di bangku yang ada di taman itu sambil menatap anak-anak yang berlarian di sana. Ada yang di temani oleh orang tua mereka ada juga yang datang bersama pengasuh mereka. Ada juga beberapa pasangan muda mudi yang sepertinya sedang berkencan di sana. Zea yang melihat itu pun tersenyum dan tiba-tiba dia teringat kepada Lian.


“Zea, apa yang kau pikirkan?” ucap Zea setelah sadar dari lamunannya.


“Kak, aku ikhlas jika kau memang harus menikah dengan kakak tapi kenapa hanya mulutku yang bisa mengatakan hal itu tapi hatiku tidak rela kak. Kenapa kita harus bertemu di saat begini.” Ucap Zea frustasi lalu sedikit memejamkan matanya.


Saat dia membuka matanya dia melihat seorang pria tampan sambil menyodorkan segelas minuman kepadanya, “Anda siapa?” tanya Zea.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan dari Zea tapi dia langsung duduk di samping Zea, “Hey, anda siapa?” ulang Zea.


“Hah, tidak bisakah kau menerima minuman ini dulu? Kau tenang saja saya orang baik kok.” jawab pria itu santai.


“Kenapa saya harus menerima minuman darimu sedangkan kita tidak saling mengenal.” Ucap Zea segera berdiri lalu pergi dari sana.


Pria itu pun berdiri, “Apa setelah kau mengetahui namaku kita bisa berteman?” teriak pria itu segera mendekati Zea.


“Saya tidak peduli siapa kau dan terserah kau melakukan apa.” Ucap Zea cuek.


Pria itu pun tersenyum, “Ouh, ayolah gadis cantik jangan acuh seperti itu. Tapi tenanglah kau tidak perlu minta maaf karena aku ini pria pemaaf sebelum kau meminta maaf dan karena aku berbaik hati aku akan dengan suka rela memberi tahu namaku padamu. Aku,,” ucapan pria itu terpotong karena Zea segera pergi meninggalkan pria itu bicara sendiri.


“Dasar pria aneh.” Ucap Zea menggerutu.


“Aku datang kesini ingin mencari udara segar tapi tidak taunya justru bertemu dengan pria aneh. Apa aku sangat sial hari ini?” gumam Zea.


Sementara pria itu segera di dekati oleh seorang pria lagi, “Tuan muda kita,,”


“Kenapa?” tanya pria itu.


“Kita harus segera pulang karena tuan dan nyonya sudah menunggu anda.”

__ADS_1


Sementara sang pria hanya menatap kepergian Zea, tiba-tiba dia melihat ada beberapa orang yang sepertinya sedang mengikuti Zea dan segera menangkapnya, “Susul gadis itu.” Ucap pria itu segera berlari masuk mobilnya.


__ADS_2