
“Tuan apa yang ada katakan?” ucap Rasti malu.
“Kenapa? Apa kau malu di dengar oleh orang tuaku? Tenang saja mereka tidak akan protes karena kau itu calon menantu mereka.” Ucap Faris. Alice dan Gifari yang masih mendengar ucapan putranya itu hanya tersenyum.
“Hmm,, sejak kapan aku menyetujui untuk jadi calon menantu mereka dan juga calon istrimu tuan Faris terhormat?” tanya Rasti menyembunyikan senyumnya.
“Kau bukannya sudah mengatakan akan menjalani ini?” tanya Faris.
“Menjalani apa?” tanya Rasti pura-pura tidak tahu.
“Ouh ayolah Ra jangan mengerjaiku.” Ucap Faris.
“Hahahhh,, apa sekarang anda mengerti bagaimana rasanya di kerjai. Makanya jangan mengerjai seseorang jika tidak ingin di kerjai. Hah, sudahlah aku akan pulang jika tidak aku akan terlambat nanti. Aku pamit!” ucap Rasti segera masuk mobilnya.
“Ra!” panggil Faris menatap Rasti yang sudah di dalam mobilnya.
Rasti pun menurunkan kaca jendela mobilnya lalu tersenyum, “Aku pamit! Assalamu’alaikum calon suamiku.” Ucap Rasti lalu segera menaikkan kaca mobilnya dan segera menghidupkan mobilnya.
Faris yang mendengar itu hanya bisa terdiam sambil tersenyum sehingga tidak menyadari bahwa mobil Rasti sudah keluar dari gerbang rumahnya.
“Cie,, cie,, yang di sebut calon suami hingga membuatnya tidak menyadari bahwa dia sudah pulang.” Goda Alice mendekati sang putra yang masih diam saja.
Faris pun tersadar lalu melihat sekeliling dan ternyata benar bahwa mobil Rasti sudah pergi dia pun segera berlari menuju luar gerbang, “Wa’alaikumsalam calon istriku.” Teriak Faris walau mobil Rasti sudah lumayan jauh.
__ADS_1
“Percuma teriak dia sudah jauh makanya jangan bengong.” Ucap Alice lagi.
“Mih, aku ingin cepat sembuh dan kita akan melamarnya nanti. Please yaa mih!” ucap Faris.
“Hmm,, oke deh!” ucap Alice tersenyum lalu segera mengajak sang putra masuk ke dalam.
Sementara di sisi lain, “Hmm,, kenapa aku mengatakan itu. Ahh malunya!” ucap Rasti memukul bibirnya.
“Aw sakit!” ucap Rasti mengeluh.
***
“Sayang, besok kita ke rumah sakit yaa.” Ucap Lian saat mereka berdua setelah sholat isya.
“Gak apa-apa sayang hanya saja aku ingin melihat perkembangan anak kita.” Ucap Lian.
“Emm,, tapi sepertinya besok belum jadwal kita memeriksa kandunganku.” Ucap Zea.
“Gak apa-apa sayang. Aku hanya tidak ingin ada sesuatu yang terjadi.” Ucap Lian.
“Ya sudah jika begitu.” Jawab Zea.
Lian pun segera membawa sang istri ke pelukannya lalu mengecup kepala sang istri berulang kali.
__ADS_1
***
Keesokkan paginya, Lian tidak pergi ke perusahaannya karena dia harus menemani Zea melakukan pemeriksaan.
“Boo kenapa kakek juga ikut?” tanya Zea melihat George ikut bersama mereka.
“Apa kakek tidak bisa ikut melihat perkembangan cicit kakek?” tanya George.
“Emm,, bukan begitu kek hanya saja kakek juga butuh istirahat yang banyak.” Jawab Zea.
“Tenanglah nak kakek ini masih kuat.” Jawab George.
“Hahahh,, baiklah kakek ikut saja. Ayo kita pergi. Ayo suamiku!” ajak Zea menggandeng sang suami.
Singkat cerita, kini mereka sudah tiba di rumah sakit dan di sana sudah ada Zia, Alya dan Gibran yang menunggu.
“Dek!” panggil Zia segera memeluk sang adik erat begitu Zea tiba.
“Kakak kalian di sini?” tanya Zea lalu beralih memeluk Alya dan Gibran.
“Tentu saja kami di sini, kami juga ingin melihat calon cucu kami.” Jawab Gibran menyembunyikan kesedihannya.
“Kenapa kalian semua tiba-tiba ingin melihat anakku?” ucap Zea.
__ADS_1