
Rasti pun kembali mengalihkan pandangannya ke dokumen di hadapannya dan tidak mempedulikan apa yang dilakukan laki-laki itu karena jika di pikir maka hanya akan membuatnya pusing.
“Aaa! Ayo makan dulu! Jangan kerja terus! Aaa,,” ucap Faris tiba-tiba menyodorkan sesendok makanan dan menyuapi Rasti.
Rasti yang kaget dengan hal itu hanya menatap Faris dengan bengong, “Hmm calon istri aku tahu wajahku itu tampan tapi bisakah jangan menatapnya dulu saat ini karena yang penting saat ini itu kau mengisi perutmu. Nanti setelah kenyang nanti kau bisa memandang calon suamimu ini dengan puas dan aku tidak akan melarangnya. Ayo makan! Aaa,,” ucap Faris lagi.
“Apa-an itu? Dasar!” ucap Rasti.
“Hehehh! Ayo makan dulu yaa! Ayo makan dong, lelah tahu sayang tanganku.” ucap Faris sambil menatap tangannya yang dari tadi menyodorkan sendok yang berisi makanan.
Rasti pun hanya tersenyum melihatnya, “Hahah,, siapa suru melakukan itu. Sini biar aku makan sendiri.” Ucap Rasti berusaha mengambil alih sendok dari tangan Faris tapi belum juga sampai di ambil oleh Rasti, Faris segera menjauhnya sambil menggeleng.
“Kamu kerja saja biar aku akan menyuapimu calon istri.” Ucap Faris menyodorkan makanan, Rasti yang melihat itu pun hanya bisa menghela nafas dan segera membuka mulutnya menerima suapan dari Faris.
__ADS_1
“Gitu dong dari tadi!” ucap Faris tersenyum.
“Sudah sini biar aku makan sendiri. Kamu makan juga lagian tanganmu juga masih belum sembuh total kan.” Pinta Rasti tapi lagi-lagi Faris menggeleng.
“Aku ingin menyuapimu calon istri. Tenang saja kok tanganku ini sudah bisa di gerakkan dan tidak sakit lagi.” Ucap Faris.
“Hmm,, ya sudah kalau begitu kamu lebih baik pulang saja deh. Jangan di sini dan aku tidak akan makan lagi.” Ucap Rasti.
“Iss,, jangan gitu dong sayang. Baiklah aku mengalah, kamu bisa makan sendiri.” Ucap Faris dengan berat hati memberikan sendok kepada Rasti karena dia tidak ingin di usir dan pergi dari sini. Dia masih ingin melihat wajah gadisnya itu.
“Kenapa wajahnya cemberut begitu?” tanya Rasti pura-pura.
“Tau ahh malas ngomong sama kamu.” Ucap Faris cuek bahkan tidak melihat Rasti.
__ADS_1
Rasti pun hanya mengangguk, “Baiklah jika begitu, aku akan menghabiskan makanan ini. Apa kamu gak mau makan? Ini enak tau.” Ucap Rasti sambil makan dan tidak ketinggalan menggoda Faris dengan aroma makanan itu.
Faris sebenarnya ingin makan tapi dia malu mengakuinya, “Yakin nih gak mau makan?” tanya Rasti.
“Gak, kamu makan aja.” Jawab Faris cuek.
“Ya sudah kalau begitu akan aku habiskan. Awas aja nyesel.” Ucap Rasti kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Faris hanya melihat Rasti sekilas, “Mau?” tanya Rasti tapi Faris langsung membuang muka. Rasti pun hanya tersenyum dan segera duduk di samping pria itu.
“Ayo hadap sini dulu!” ucap Rasti tapi Faris tetap membelakangi Rasti.
Rasti yang malas pun segera menarik bahu pria itu dan segera menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut Faris, “Kalau di panggil oleh calon istri itu tidak boleh menolaknya.” Ucap Rasti setelah menyuapkan makannan itu.
__ADS_1
Faris pun hanya bisa mengunyah dan menelan makanan itu dengan pasrah karena jujur saja makanan itu terasa lebih enak menurutnya begitu Rasti yang menyuapi mungkin karena ada bekas bibir Rasti di sana.