Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 119


__ADS_3

Keesokkan paginya, Pras dan Zia bersama si kembar sedang sarapan di meja makan.


“Bunda, mau itu.” Tunjuk Zayyan.


Zia pun segera mengambilkan makanan yang di inginkan oleh putra sulungnya itu.


“Bunda! Zayyah juga mau.” Pinta Zayyan.


Zia pun tersenyum lalu segera mengambilkan makanan yang sama untuk putri satu-satunya itu.


“Ini makanlah yaa sayang-sayangnya bunda.” Ucap Zia.


Zayyan dan Zayyah pun segera makan tanpa di bantu walau mereka baru berusia dua tahun lebih tapi perkembangan mereka jauh di atas umur mereka. Mereka saja baru setahun setengah sudah lancar bicara dan sudah bisa menghafal angka-angka dan banyak lagi.


“Apa ayah bukan sayangnya bunda juga?” tanya Pras pura-pura merajuk.


“Ihh ayah kan sudah besar.” Ucap Zayyah yang diangguki oleh Zayyan.

__ADS_1


“Tapi kan bunda kalian itu adalah istri ayah jadi bunda kalian itu hanya milik ayah.” Ucap Pras.


“No! bunda itu hanya milik kami.” Ucap Zayyan dan Zayyah bersamaan.


“Sudah-sudah jangan bertengkar. Ayo lanjutkan makan. By kamu juga jangan bertengkar dengan anak-anak.” Ucap Zia menatap sang suami.


“Tapi benar loh baby, kamu itu hanya milikku. Selamanya hanya milikku!” ucap Pras.


Zia yang mendengarnya hanya tersenyum jengah, “Terserah deh, malas debat sama kamu by.” Ucap Zia lalu fokus dengan sarapannya karena setelah ini dia masih harus mengurus putra bungsunya.


Setelah sarapan selesai Pras segera ke kantornya dan jangan lupakan dia yang tetap ingin di bantu oleh sang istri untuk memakaikan das dan juga jasnya. Setelah memastikan sang suami pergi Zia pun segera mengurus si kembar yang baru saja mandi dan si bungsu juga.


Setelah ketiga anaknya sudah siap dan rapi dia pun segera berpesan kepada bi Ratna yang memang bertugas menjaga ketiga buah hatinya itu. Lalu dia pun segera siap-siap menuju Celine Foundation yang memang selalu di urusnya walau sang ibu mertua masih tetap mengawasi.


***


Kini mobil Zia sudah keluar dari rumahnya untuk melucur Celine Foundation.

__ADS_1


“Bos, target sudah mulai berjalan!”.


Seseorang yang menerima telepon itu pun hanya tersenyum, “Kalau begitu ikuti dia, jangan dulu lakukan apapun hanya buat dia takut dulu.” Perintahnya.


“Baik bos!” lalu sambungan telepon pun berakhir dan seseorang yang di tugaskan untuk mengikuti Zia segera melaju menyusul Zia dari belakang.


Sementara di sisi lain, “Aku harus membuatmu takut dulu. Jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada kesayanganmu. Ini hanya bentuk pembalasanku agar kau mengerti bagaimana rasanya penderitaanku. Ini baru saja dimulai!” ucap seseorang sambil menatap foto di tangannya.


“Kok aku merasa di ikuti yaa!” ucap Zia yang merasa bahwa mobil di belakangnya itu mengikutinya. Tapi dia segera menepis dugaannya itu.


“Sepertinya itu hanya perasaanku saja.” Ucap Zia tapi saat dia berbelok mobil di belakangnya itu tetap mengikutinya.


“Yaa Allah tolong lindungi hambamu ini.” ucap Zia menambah kecepatan mobilnya dan seperti dugaannya mobil yang mengikutinya itu juga menambah kecepatannya lagi.


Zia yang tidak habis akal pun segera mengingat nomor plat mobil yang dia duga mengikutinya dan dia segera melajukan mobilnya ke kantor polisi terdekat yang berhubung lumayan dekat dengan lokasinya saat ini. Yah Zia mengubah arah tujuannya tapi sebelum itu dia juga sudah menelpon orang kepercayaannya di Celine Foundation bahwa kemungkinan besar dia akan terlambat.


“Kurang ajar, ternyata dia pintar juga.” Umpat seseorang yang dari tadi mengikuti Zia.

__ADS_1


__ADS_2