
“Thanks sayang.” ucap Pras memeluk sang istri begitu mereka sudah berada di ruangan Pras.
Hans yang memang masih ada di dalam ruangan itu pun hanya bisa diam saja melihat pemandangan yang membuatnya iri itu, “Tuan, ini laporan atas rapat tadi. Saya letakkan di meja saya pamit undur diri.” Ucap Pras lalu tanpa menunggu jawaban dari Pras dia segera keluar karena batinnya sudah meronta-ronta ingin menikah juga namun sayang kekasih hatinya sampai saat ini belum juga mau menikah.
Setelah lama Zia membiarkan sang suami memeluknya langsung mendorongnya, “Lepas by aku masih marah padamu, aku belum memaafkanmu. Kau sudah menipuku!” ucap Zia.
Pras pun tersenyum, “Maaf untuk semuanya sayang. maafkan suamimu ini.” ucap Pras.
Flashback on
Beberapa jam yang lalu, saat Pras setelah mengambil dokumen di lemarinya dan segera memberikan kepada sang istri.
Zia pun menerimanya, “Apa ini?” tanya Zia lalu membuka dan mulai membaca dokumen itu.
__ADS_1
“I-ini? Bagaimana bisa? Kenapa bisa ada tanda tanganku di sini? Aku sepertinya tidak pernah menandatangani berkas ini.” tanya Zia beruntun setelah membaca dokumen itu yang ternyata adalah saham perusahaan sebesar 15% serta dia juga sebagai pemilik sementara dari 15% saham milik ketiga anaknya sampai mereka cukup usia untuk saham itu.
“Maaf sudah menipumu. Kau ingat berkas yang kau tolak saat malam resepsi pernikahan kita dan menyuruhku untuk merobeknya. Aku memang melakukan itu tapi setelah Zeyyan lahir saat papi menyerahkan sahamnya aku berinisiatif kembali memberikan saham untukmu. Aku tahu jika aku memintamu menandatanganinya secara langsung pasti akan kau tolak maka aku menggunakan kesempatan saat kau menandatangani untuk surat izin pengoperasian klinikmu. Maaf sudah menipumu baby tapi saat ini aku bersyukur untung saja aku melakukan itu.” Ucap Pras.
“Jadi apa maksud semua ini?” tanya Zia menatap sang suami.
“Aku ingin meminta bantuanmu istriku sekiranya kau menolongku menyelamatkan perusahaan, saat ini Kimy memiliki 33% saham perusahaan lebih tinggi 1% dari saham milikku dan aku yakin saat rapat nanti dia akan memintaku turun dari jabatan presdir. Aku tidak takut untuk turun dari jabatan itu tapi hanya saja aku tidak ingin perusahaan yang di bangun oleh papi hancur di tangan wanita itu. Jadi bisakah kau membantuku istriku?” pinta Pras.
“Jadi apa hubby ingin aku mengembalikan sahamku?” tanya Zia.
“Jadi maksudmu aku akan kau jadikan presdir? No, aku menolaknya.” Ucap Zia.
Pras pun tersenyum, “Gak apa-apa sayang, aku rela jika kau yang jadi presdirnya asal bukan wanita itu.” Ucap Pras.
__ADS_1
Zia pun segera memukul suaminya itu, “Bisa gak sih serius dikit. Aku ini takut nanti jadi presdir dan justru membuat perusahaan papi hancur nanti.” Ucap Zia.
“Tenang ada aku sayang! Mau kan membantu suamimu ini?” tanya Pras memeluk Zia.
Zia pun menatap sang suami, “Emm,, aku pikir-pikir dulu. Sudahlah sana kau pergilah ke kantor aku akan memikirkan apa yang akan aku lakukan.” Usir Zia. Pras pun hanya mengangguk lalu segera berlalu tidak lupa dia mencium kening sang istri, “Aku menunggu kedatanganmu!” ucap Pras.
Flashback off
“Aku akan memaafkanmu jika kau menemukan adikku. Aku tidak ingin pernikahannya batal.” Ucap Zia.
Pras pun mengangguk, “Aku akan segera menemukannya!” ucap Pras kembali memeluk sang istri.
“Ayo kita pulang!” ajak Pras.
__ADS_1
“Emang urusannya sudah selesai?” tanya Zia.
“Biarkan Hans yang bereskan semuanya.” Ucap Pras lalu membuatnya terkekeh memikirkan penderitaan asisten suaminya itu.