Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 42


__ADS_3

Zea pun mengelilingi kampusnya dengan berjalan kaki tanpa tahu kemana tujuannya. Dia seperti menyerahkan kepada kakinya untuk membawanya kemana. Zea yang sudah merasa bahwa dia sudah berjalan agak jauh pun melihat sekeliling dan betapa kagetnya dia karena saat ini dia sedang ada di tempat dia biasa mengerjakan skripsi maupun proposal. Dimana tempat itu juga menjadi tempat pertama kalinya Lian mengungkapkan perasaannya padanya.


Zea melihat sekeliling lalu tersenyum karena ternyata bukan hanya hatinya yang merindukan sosok pria itu tapi ternyata kakinya juga merindukan tempat itu, “Kenapa kau membawaku kesini? Apa kau tahu aku merindukannya?” Zea bertanya kepada kakinya seolah-olah kakinya itu bisa menjawabnya.


Zea pun duduk di tempat itu sambil berharap bisa melihat Lian ada di sana, “Hey, apa aku sudah gila berharap dia ada di sini? Zea sadarlah dia itu calon kakak iparmu. Kamu harus melupakannya!” ucap Zea miris karena perkataannya tidak sesuai dengan hatinya.


“Tapi Ya Allah ini sangat berat. Kenapa aku harus jatuh cinta kepada pria yang sudah di jodohkan dengan kakakku? ” ucap Zea menertawakan dirinya.


Zea pun menutup matanya sambil bernafas berat menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang ada di tempat itu. Cukup lama dia melakukan hal itu seolah-olah hal itu bisa menghilangkan beban dihatinya. Setelah itu Zea pun membuka matanya dan kaget begitu melihat siapa yang ada di hadapannya, berdiri dengan tersenyum sambil membawa buket bunga di tangannya, “Hahahh,, apa segitu besarnya rasa rinduku padanya hingga aku harus berhalusinansi melihatnya seperti ini? Zea sadarlah, dia tidak mungkin ada disini.” Zea bicara pada dirinya sambil tertawa karena dia melihat Lian ada di hadapannya.


Lian yang mendengar pengakuan dari gadis yang di cintainya itu hanya tersenyum karena ternyata bukan hanya dia yang merindukan gadis itu. Lian pun tersenyum mendengar perkataan gadis itu yang hanya menganggapnya halusinasi. Yah,, Lian ada di sana dia sudah ada sejak tadi dia pun mengikuti gadis itu sejak tadi. Dia hanya mencari kesempatan bagaimana cara mendekati gadis itu. Jika kalian bertanya apa Lian mendengar semua pengakuan gadis itu tentu saja tidak karena Lian mengikuti gadis itu dengan mobil dan baru saja turun begitu Zea menutup matanya.


“Ah,, tapi kenapa ini terasa nyata?” tanya Zea sambil menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan seksama.


“Tidak tidak, ini gak mungkin. Mana mungkin dia datang! Hahahh,, kau juga bodoh Zea, kau yang memintanya untuk menjauh tapi kenapa kau sekarang sangat mengharapkan dia ada di sini. Kau memang bodoh mengharapkan seseorang yang sudah jelas-jelas akan menjadi kakak iparmu nanti.” Lagi-lagi Zea menertawakan dirinya.

__ADS_1


Lian yang melihat dan mendengar itu pun merasa sedih mendengar pengakuan gadisnya itu tapi di sisi lain dia juga gemas melihat gadis itu yang tidak mempercayai keberadaannya. Lian yakin jika nanti gadis itu sadar bahwa dia memang ada di sana dan mendengar pengakuannya pasti gadis itu akan sangat malu.


Zea terus bicara dan hanya menganggap bahwa Lian itu halusinasinya. Lian yang gemas melihat itu tidak bisa menahan dirinya untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Lian tau apa yang dia lakukan itu di larang dalam agama tapi apa salahnya dia memeluk gadis yang di cintainya itu sekali saja untuk mengobati kerinduannya. Bukankah cinta tidak pernah salah? Yang salah itu nafsu manusia yang mengatasnamakan cinta.


“Apa kau pikir aku masih halusinasimu?” tanya Lian memeluk Zea.


Zea yang kaget karena di tarik oleh pria di hadapannya yang hanya dia anggap halusinasinya pun menjadi sadar begitu mendengar suara yang begitu dia kenal dan sangat dia rindukan berbisik di telinganya. Zea pun segera melepaskan pelukan Lian itu dan menatap pria di hadapannya untuk memastikan bahwa pria itu bukan ada di halusinyasinya, “Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau tidak percaya saya ada di sini? Apa kamu pikir aku ini halusinasimu?” tanya Lian beruntun menatap manik mata gadis yang sangat dia rindukan itu dengan dalam.


Zea pun akhirnya sadar dan percaya bahwa pria itu ada benar benar ada di hadapannya, “Kakak datang?” tanya Zea tanpa sadar.


Zea yang mendengar itu pun menjadi merona malu karena sekarang dia sadar dan menyesali semua perkataannya tadi yang mengungkapkan segalanya. Zea pun melepaskan pelukan Lian lalu menunduk karena malu. Dia sadar saat ini pasti wajahnya itu sudah memerah dan dia tidak ingin Lian melihat itu.


Lian pun tertawa melihat reaksi gadis itu yang sudah dia duga akan seperti itu, “Hahahh,, apa sekarang kau sedang malu? Padahal tadi kau mengatakan sangat merindukan kakak dan berharap kakak ada di sini. ” goda Lian sambil tertawa.


Zea pun semakin malu. Lian yang melihat itu pun menghentikan tawanya dan kembali menarik gadis itu ke pelukannya, “Maaf sudah menertawakanmu dek! Tapi jujur kakak menyukai kejujuranmu itu” bisik Lian. Zea pun berusaha melepaskan pelukan Lian tapi sayang Lian sangat erat memeluknya, “Kakak akan berpura-pura tidak mendengarnya. Anggap saja kakak tidak mendengar apapun. Kakak tidak akan mengungkitnya, Janji! Tapi biarkan kakak memelukmu seperti ini. Kakak merindukanmu dek, sangat!” ucap Lian sambil meletakan kepalanya di bahu gadis itu sambil berusaha sekuat-kuatnya menghirup aroma gadis yang sangat dia cintai itu.

__ADS_1


Zea yang mendengar pengakuan itu pun diam saja dan tanpa sadar dia pun membalas pelukan Lian itu karena sejujurnya dia memang sangat merindukan pria itu. Cukup lama mereka berpelukan seolah-olah itu bisa mengobati kerinduan mereka.


Setelah pelukan mereka lepas suasana pun menjadi canggung. Tidak ada yang ingin memulai membuka pembicaraan, “Ee,, ini untukmu! Selamat yaa dek untuk kelulusanmu! Ah, buketnya jadi penyok.” Ucap Lian akhirnya memecahkan kecanggungan itu.


Zea pun tersenyum dan menerima buket itu, “Terima kasih kak!” balas Zea.


Lagi-lagi suasana kembali hening.


“Zea!” panggil Lian.


Zea pun melihat ke arah Lian, “Bisa gak kamu ikut bareng kakak?” izin Lian.


“Kakak hanya ingin mengajakmu makan untuk merayakan kelulusanmu. Bisa gak?” lanjut Lian begitu melihat pandangan gadis itu seolah-olah bertanya kemana Lian mengajaknya.


Zea pun tersenyum lalu mengangguk, saat ini yang ada di pikiran Zea yaitu setidaknya kali ini dia ingin merasakan bagaimana bersama dengan orang yang dicintai walau hanya beberapa jam saja. Untuk kali ini Zea ingin egois. Lian pun segera menarik lengan Zea dan membawanya ke mobil begitu gadis itu menganggukan kepalanya. Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang melihat itu.

__ADS_1


__ADS_2