
Singkat cerita, kini Lian sudah di bar dengan di temani oleh Alan tentunya karena dia tidak ingin tuan mudanya itu sendiri.
Lian ternyata datang kesana tidak minum dia hanya ingin menenangkan dirinya dengan tidur di sana. Dia datang dan langsung memesan tempat private di sana. Alan pun bersyukur tuannya itu tidak minum, “Alan, apa aku tidak pantas mendapatkan cintaku? Apa selamanya aku akan terus kehilangan orang yang kucintai? Apa aku tidak pantas dicintai? ” tanya Lian sedih.
“Tuan, jangan mengatakan hal itu.” Ucap Alan ikutan sedih.
“Hahhah,, Alan apa kau juga sedih? Aku iri padamu yang bisa bebas menentukan pilihanmu sendiri yang tidak di kekang oleh aturan ini itu.” Ucap Lian lalu segera tertidur, mungkin karena terlalu lelah.
Alan pun hanya diam saja karena dia tahu bagaimana penderitaan tuannya itu. Tuannya itu harus kehilangan kedua orang tuanya saat dia masih berusia 14 tahun dan saat ayahnya baru saja bisa mencintai ibunya dengan tulus justru kedua orang tuanya harus pergi meninggalkannya.
Sejak saat itu Lian menjadi orang yang tidak tersentuh hingga dia diam-diam mendirikan usahanya sendiri. Dia bersekolah ke luar negeri itu juga karena kakeknya yang memintanya tapi hal itu dia gunakan untuk mendirikan usahanya dan ternyata dia berhasil karena dia berpikir jika dia nanti punya usaha sendiri maka pasti sang kakek tidak akan menindasnya dan bisa melindungi orang yang dia cintai sendiri tapi buktinya kini dia masih belum bisa.
Alan yang dari usia 5 tahun sudah ikut ayahnya Lian pun menjadi tahu dan Alan satu-satunya orang yang di percayai oleh Lian. Alan adalah anak yatim piatu yang diambil oleh ibunya Lian untuk menemani sang putra karena dia tahu bahwa Lian kecil kesepian. Untuk itulah kenapa Alan sangat menghormati dan menyayangi tuannya itu karena berkat tuannya itu dia bisa hidup seperti saat ini karena jika ibunya Lian tidak memaksa sang suami membawa Alan maka saat ini Alan pasti hidup di jalanan seperti anak jalanan lainnya.
***
Sementara di sisi Zea, kini dia memikirkan siapa sebenarnya yang berniat ingin menculiknya.
“Dek, kau kenapa lagi? Kenapa kau akhir-akhir ini kakak perhatikan lebih sering melamun? Apa kau punya masalah?” tanya Zia kepada adiknya karena lagi-lagi dia melihat sang adik itu melamun bahkan saat ini mereka sedang makan malam adiknya itu hanya mengaduk-ngaduk makanannya.
Zea yang di tegur oleh kakaknya pun seketika sadar, “Heheh,, gak ada kok kak.” Jawab Zea.
Zia pun hanya mengangguk, “Kalau begitu lanjutkan makanmu.” Ucap Zia.
Pras yang melihat interaksi kedua kakak beradik itu pun hanya diam saja tidak ikut campur.
***
“Baby, kenapa kamu menanyai adikmu begitu tadi?” tanya Pras saat mereka kini sudah ada di kamar mereka.
“Hmm,, aku hanya merasa bahwa dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku dan dia memang memiliki sifat pendiam tapi dia masih lebih ceria di banding aku dia masih bisa bergaul dengan yang lain daripada aku tapi akhir-akhir ini aku merasa dia lebih sering melamun. Aku yakin dia pasti punya masalah tapi dia tidak ingin siapapun mengetahuinya.” Ucap Zia panjang lebar.
__ADS_1
Pras yang melihat istrinya itu bicara pun hanya bisa memandang sang istri, “By, jangan memandangku seperti itu.” Ucap Zia.
“Hahahah,, kamu juga tidak berubah istriku masih saja malu jika aku pandang. Sudahlah kamu jangan memikirkan itu, Kamu lebih baik sekarang memikirkan kesehatanmu, kamu baru saja melahirkan. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padaku dan untuk masalah adikmu hubby yakin dia bisa menyelesaikannya sendiri karena dia sudah dewasa. Kita jangan ikut campur.” Ucap Pras segera menarik sang istri duduk di pangkuannya.
Zia pun mengangguk, “Kau benar by.” Jawab Zia membenarkan.
***
Keesokkan paginya, Zea pun menyibukkan dirinya dengan ketiga keponakannya karena hanya dengan dia memiliki kesibukan baru bisa melupakan masalah hatinya saat ini.
Sementara di sisi lain, Rasti saat ini masih saja sibuk dengan proyek yang dia kerjakan yang sudah masuk tahap akhir.
“Nona, ini laporannya.” Ucap Gaby sambil menyerahkan laporan tentang proyek mereka.
Rasti pun segera memeriksanya, “Huh, syukurlah semuanya berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, karena proyek ini mengalami berjalan baik dan kita mengalami keuntungan katakan kepada semua bahwa hari ini aku akan mentraktir semuanya makan siang.” Ucap Rasti.
Gaby pun tersenyum, “Baik nona hal ini akan aku sampaikan kepada mereka.” Ucap Gaby berbalik.
“Untuk hari ini nona belum memiliki kegiatan lain tapi besok nona harus melakukan fitting untuk pertunangan nona.” Jelas Gaby.
“Ah, aku hampir melupakannya. Terima kasih sudah mengingatkanmu Gaby.” Ucap Rasti.
“Itu sudah menjadi tugas saya nona.” Jawab Gaby lalu dia pun pamit untuk mempersiapkan acara makan siang mereka.
***
“Kakak ipar!!” panggil seseorang begitu masuk.
“Zea, aku merindukanmu.” Ucap Rasti begitu melihat Zea yang ada di ruang keluarga bersama si kembar.
Zea pun menerima pelukan dari Rasti, “Zea juga merindukan kakak.” Jawab Zea.
__ADS_1
Tiba-tiba Zayyan dan Zayyah pun menarik pakaian Rasti dari bawah, “Hey, ada apa boy, girl?” tanya Rasti langsung jongkok menyamakan tingginya dengan kedua bocah menggemaskan itu.
Tanpa menjawab kedua balita itu langsung memeluk Rasti, “Ouh sepertinya mereka merindukanmu dek.” Ucap Zia yang baru saja keluar dari kamar putra ketiganya.
Rasti pun tersenyum lalu membalas pelukan kedua bocah itu erat, “Aunty juga merindukan kalian.” Ucap Rasti.
Zia dan Zea pun hanya tersenyum melihat itu, “Bagaimana pekerjaanmu? Semuanya baik-baik saja kan?” tanya Zia begitu si kembar melepaskan pelukannya.
“Alhamdulillah kakak ipar semuanya berjalan lancar dan ini aku baru saja kembali dari makan siang bersama mereka.” Ucap Rasti.
“Syukurlah jika begitu. Ohiya kamu jangan lelah-lelah ingat pertunanganmu sedikit lagi loh.” Ucap Zia.
Rasti pun tersenyum, “Kau tenang saja kakak ipar aku pasti akan menjaga diriku dengan baik. Emm,, bicara tentang pertunangan aku ingin adikku ini menjadi mendampingku. Bisa yaa Zea?” ucap Rasti mengalihkan pandangannya kepada Zea.
“Maksud kakak?” tanya Zea.
“Aku ingin kau menjadi bridesmaidku. Please!! Kau kan tahu aku tidak memiliki teman.” Mohon Rasti.
“Tapi,,” tolak Zea.
“Ouh ayolah jangan menolaknya.” Ucap Rasti.
“Sudahlah dek terima saja.” Ucap Zia. Akhirnya Zea pun menerimanya karena sudah tidak punya pilihan lain lagi.
“Baiklah karena kau sudah menyetujuinya maka besok kau harus ikut aku untuk fitting.” Ucap Rasti.
“Fitting? Kenapa aku juga harus ikut kak? Emang bridesmaid juga harus melakukan fitting?” tanay Zea.
“Tentu saja dan kau tidak boleh menolaknya.” Ucap Rasti.
“Ah, terserahlah. Percuma juga kau menolak kakak pasti tetap akan memaksanya.” Ucap Zea tertawa tapi tidak ada yang tahu apa itu tawa bahagia atau kesedihan.
__ADS_1