
Sampai pagi menyapa Pras dan Faris belum kembali sementara Lian dan Gaby yang sudah tahu apa yang terjadi hanya diam saja karena tidak ingin membuat syok kedua wanita yang sedang saling menenangkan itu.
“Lian, bagaimana apa sudah ada kabar dari mereka?” tanya Zia yang melihat Lian baru saja dari kamarnya.
“Kakak ipar lebih baik kau istirahatlah dulu, kau belum tidur. Kau juga Rasti.” Ucap Lian tidak menjawab pertanyaan Zia.
“Bagaimana aku bisa tidur jika keadaan mereka saja belum di ketahui.” Ucap Zia lalu kembali duduk di sofa yang dari semalam.
“Nona anda harus istirahat.” Ucap Gaby.
Rasti menggeleng, “Kakak!” ucap Zea tiba-tiba bergabung dengan bersama mereka.
“Dear, kenapa gak tidur dulu.” Ucap Lian.
__ADS_1
“Kakak apa kalian tidur di sini?” tanya Zea menatap kedua kakaknya.
“Mereka belum tidur nona.” Jawab Gaby.
“Apa? Kenapa?” tanya Zea karena dia memang tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Zia dan Rasti tidak menjawab mereka hanya dia saja.
“Jika kalian penasaran apa yang sebenarnya terjadi maka bukalah aktifkan data kalian dan bukalah media sosial. Tapi ingat jangan dulu cepat percaya dengan apa yang ada di sana.” Ucap Lian memberitahu karena dia tidak tahu bagaimana lagi membujuk kedua wanita itu.
“Nona anda harus percaya kepada tuan Faris bahwa dia tidak mungkin melakukan ini. Kalian akan menikah sebentar lagi.” Ucap Gaby segera mendekat ke arah Rasti. Sementara Zia hanya diam saja membaca artikel yang memuat sang suami dan calon adik iparnya itu. Dia hanya diam karena saat ini dia sendiri pun gak tahu apa sebenarnya perasaannya. Sakit? tentu saja, hati seorang istri mana yang tidak sakit menerima kenyataan melihat suami sendiri tidur dengan wanita lain di samping berita itu benar atau salah.
Zea yang melihat kedua kakaknya hanya diam saja segera mengambil ponsel Zia dan dia pun kaget begitu melihat berbagai foto dan artikel menyebar di sana, “Apa-apaan ini? aku yakin ini pasti bohong. Kakak ipar tidak mungkin melakukan hal kotor seperti ini. Kakak kau gak boleh percaya dengan berita ini, kita harus menanyakan langsung kepada kakak ipar.” Ucap Zea tapi Zia tetap diam saja lalu dia segera beranjak dari sana menemui ketiga anaknya.
__ADS_1
“Nona!” panggil Gaby kepada Rasti yang hanya diam saja dari tadi.
“Kak!” panggil Zea mendekati Rasti.
Rasti pun segera memeluk Zea dan menumpahkan air matanya, “Dek, sakit!” ucap Rasti menangis.
“Kak, menangislah jangan kau tahan tapi ingat cukup satu kali saja kau menangis.” Ucap Zea membiarkan Rasti menangis di pelukannya.
Sementara Lian menelpon anak buahnya yang ikut memastikan berita itu bohong atau tidak serta membantu kekacauan yang terjadi karena Lian tahu hal ini pasti akan berdampak pada perusahaan kakak iparnya dan sahabatnya itu.
Sementara di kamar Zia memeluk putra bungsunya dengan erat, sang putra yang sudah bangun hanya menatap Zia heran seolah bertanya ada apa dengan bundanya itu, “Bunda!” panggil si kembar dari kamar mereka.
Zia pun segera pergi ke kamar sang putri karena ternyata Zayyan sudah di sana menenangkan Zayyah, “Ada apa sayang?” tanya Zia memeluk putri kecilnya yang tengah menangis itu.
__ADS_1
“Bunda jangan tinggalin ayah.” Ucap Zayyah sesengukkan sambil memeluk Zia erat.