
Kini Zea sudah ada dalam mobil bersama Lian, “Kak, bukankah ini?” tanya Zea begitu melihat mall di hadapannya.
“Ayo masuk!” ajak Lian. Zea pun hanya mengikutinya.
Mereka pun segera menuju ruangan pribadi Lian yang ada di mall, “Kak ini ruangan siapa?” tanya Zea.
Lagi-lagi Lian mengabaikan pertanyaan Zea, “Kamu duduklah di sini.” Ucap Lian.
Zea pun hanya menurut lalu duduk diam mengamati ruangan itu. Tidak lama kemudian Lian kembali, “Ini ruanganku!” jawab Lian tiba-tiba hingga membuat Zea kaget.
Zea pun hanya mengangguk karena dia sudah menduganya begitu melihat foto Lian ada di meja kerjanya. Tidak lama kemudian menyusul juga beberapa pelayan mengantarkan makanan ke dalam ruangan itu.
“Ayo kita makan. Temani aku makan! Aku rindu makan siang bersama denganmu.” Ucap Lian.
Zea pun akhirnya hanya menurut saja karena sejujurnya dia memang merindukan pria di hadapannya itu tapi dia sadar bahwa pria itu adalah pria yang di jodohkan dengan kakaknya. Jadi dia tetap akan menjaga batasnya dan akan berusaha menghapus perasaan yang sudah terlanjut mengakar bahkan mungkin sudah semakin tumbuh di hatinya.
Kurang lebih tiga puluh menit mereka makan siang bersama, Lian pun segera memanggil pelayan untuk membersihkan bekas makan mereka lalu dia segera menuju meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya itu.
“Ini hadiah untuk ujian seminar proposalmu kemarin. Aku mohon terimalah!” ucap Lian sambil menyerahkan sebuah kotak kepada Zea.
Zea sebenarnya ingin menolaknya tapi begitu melihat wajah Lian yang mengharapkannya untuk menerimanya menjadi tidak tega dan akhirnya dia menerimanya, “Terima kasih kak!” ucap Zea.
“Aku harap kau memakainya nanti.” Ucap Lian.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menemaniku makan siang.” Lanjut Lian.
Zea pun tersenyum, “Kak, Apa Zea bisa meminta sesuatu dari kakak?” tanya Zea lembut memandang Lian dalam.
Lian pun memandang Zea dalam seolah-olah ikut bertanya apa yang sebenarnya yang ingin ditanyakan oleh gadis itu, “Boleh!” jawab Lian ragu karena dia merasa bahwa permintaan gadis itu pasti berhubungan dengan sesuatu yang sampai saat ini belum bisa dia terima.
“Kak, aku minta ini terakhir kalinya kita ketemu secara pribadi seperti ini, aku mohon kak jangan mengikutiku. Aku tahu kau datang kan saat aku ujian seminar proposal?” ucap Zea sambil menahan sesuatu yang hendak jatuh dari pelupuk matanya.
Lian pun hanya bisa diam saja karena apa yang dikhawatirkannya memang itulah yang di minta oleh gadis yang dicintainya itu, “Anggap saja kita adalah dua orang asing yang hanya memiliki hubungan kerja sama kak. Aku tahu ini memang sulit bagimu tapi aku mohon lakukan ini karena itu adalah jalan terbaik untuk semuanya. Jangan buat aku ragu melakukan ini kak karena sejujurnya semakin kau berusaha dekat denganku keputusanku pun semakin bimbang. Jangan membuatkan bimbang untuk melupakanmu kak.” Ucap Zea masih menahan air matanya agar tidak jatuh.
Lian pun hanya bisa menghela napas karena entah terbuat dari apa hati gadis dihadapannya ini sehingga rela mengorbankan perasaannya hanya untuk orang lain. Lian tahu bahwa Zea menahan tangis dari tadi, “Bisakah kau jangan mengatakan kata ‘JANGAN’? Asal kau tahu saja semua laranganmu itu ingin kulewati semuanya. Semua yang kau larang ingin kulakukan semuanya. Apa kau ingin menghukumku?” ucap Lian akhirnya.
“Kak! Aku mohon.” Mohon Zea.
Lian pun yang memang tidak rela melihat Zea memohon seperti itu bahkan bukan untuk sesuatu yang dia lakukan, “Baiklah, aku akan melakukan semua yang kau minta. Aku harap kau akan bahagia melihatnya.” Ucap Lian akhirnya tapi dia tidak benar-benar mengatakan itu karena dia tidak mungkin semudah itu melupakan gadis yang sudah tersimpan di lubuk hatinya. Dia hanya mencoba menuruti keinginan gadis itu.
***
Kini terlihat ada sepasang pria berbeda umur sedang bersitegang di sebuah ruang tamu, “Kek, aku ingin membatalkan pertunangan itu, apapun caranya.” Ucap Lian.
“Apa kau tidak lagi menyayangi orang tuamu? Apa kau tidak menghormati keinginan ayahmu lagi? Dan asal kau tahu saja jika kau menolak perjodohan ini maka siap-siap saja kau kehilangan perusahaan.” Ucap George.
Lian pun yang mendengar ancaman kakeknya itu hanya tertawa, “Kek, aku tidak takut hidup miskin dan satu hal lagi jangan lupa bahwa mall A adalah milikku sendiri. Itu adalah hasil kerja kerasku sendiri. Jadi aku pasti tidak akan pernah kesulitan. Jangan mengamcamku dengan perusahaan karena memang dari awal aku tidak ingin menjadi pewaris dari kekayaan kakek tapi kakek sendirilah yang memaksaku.” Ucap Lian balik.
__ADS_1
George pun hanya bisa menghela napasnya karena ternyata cucunya ini memang sangat keras kepala, “Kenapa aku harus memiliki cucu keras kepala sepertimu.” Ucap George.
“Kek, kenapa juga aku harus memiliki kakek sepertimu yang semena-mena memaksaku melakukan sesuatu yang tidak ingin kulakukan. Apa kakek lupa aku adalah pria bebas. Aku tidak suka aturan kakek yang selalu menerapkan perjodohan. Cukup ayah yang menuruti keinginan kakek menikahi gadis yang tidak dia cintai dan harus melepaskan gadis yang dia cintai hanya untuk keegoisan kakek. Tapi aku tidak sama dengan ayah yang akan melepaskan gadis yang aku cintai hanya untuk menerima perjodohan konyol.” Ucap Lian. Dia memang sudah mengetahui bahwa ayah dan ibunya menikah karena dijodohkan. Dia juga tahu bahwa ayahnya harus meninggalkan gadis yang dicintainya hingga gadis itu pun melakukan bunuh diri. Akibatnya pun ibunya hidup tanpa cinta dari ayahnya, ibunya bisa merasakan cinta ayahnya nanti sebulan sebelum kejadian naas itu menimpa mereka. Untuk itulah Lian tidak ingin mengulangi kejadian yang sama.
“Kau?” ucap George.
“Kek, lebih baik kau pikirkan bagaimana perjodohan konyol itu batal. Aku yakin ayah pasti tidak akan menjodohkanku seperti itu.” Ucap Lian lalu segera pergi meninggalkan kakeknya.
George pun hanya tersenyum melihat cucunya yang bersikeras untuk menolak perjodohan. Sejujurnya George memang menyukai sikap cucunya itu yang pantang menyerah memperjuangkan cintanya tidak seperti anaknya yang selalu menuruti permintaannya hingga membuatnya kehilangan gadis yang sangat dia cintai. Jika saja dulu anaknya memiliki sifat seperti Lian maka mungkin anaknya itu akan menikahi gadis yang dia cintai.
“Kau tenang saja nak, kakek akan melakukan sesuatu untukmu.” Gumam George tersenyum lalu meraih teleponnya, “Apa kau sudah menemukan informasinya?” tanya George pada seseorang begitu sambungan telepon terhubung.
*
*
Maaf yaa ceritanya sudah masuk tentang kisah adik Zia tapi tenang saja Zia dan Pras tetap ada kok.
*
*
Happy reading guys !!😊
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys !! 🙏🏻😉