
Kurang lebih setengah jam mereka menunggu Rasti tiba dan selama itu pula mereka berbincang hingga akhirnya kecanggungan yang ada hilang dna bergantikan dengan tawa. Tapi hal itu tidak berlaku untuk seorang pria muda yang berada di antara mereka karena selama dia menunggu sang pujaan hati tiba pikirannya sudah melayang jauh dan membayangkan yang tidak-tidak apalagi saat sudah mendengar suara mobil yang baru saja tiba.
“Assalamu’alaikum! Maaf saya terlambat!” ucap Rasti gugup.
Celine yang melihat sang putri sudah tiba pun segera berdiri, “Hmm,, kau sudah tiba? Ayo sayang duduk di sini.” Pinta Celine. Rasti pun segera mendekati kedua orang tuanya itu dan duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya dan berhadapan dengan seorang pria yang beberapa hari ini tidak saling bertemu.
“Karena semua sudah ada di sini. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang sempat tertunda.” Ucap Andrew memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
“Emm,, anda benar ayo kita lanjutkan berhubung yang kita tunggu sudah ada.” Timpal Gifari tersenyum.
__ADS_1
“Faris, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Alice menatap sang putra. Faris pun yang dari tadi larut dalam pikirannya tambah terpesona oleh kedatangan sang pujaan hati yang beberapa hari ini tidak ditemuinya. Hal itu dia lakukan bukan karena menghindari gadisnya itu hanya saja hal itu dia lakukan untuk meyakinkan perasaannya apa dia benar-benar mencintai Rasti dan terbukti dia sangat merindukan gadis di hadapannya itu.
“Emm,, Ra! Kedatanganku dan orang tuaku kesini untuk menepati janji yang sudah kubuat untukmu dan kau pasti sudah menduganya kan? Aku harap jawabanmu nanti sesuai dengan harapanku.” Ucap Faris tersenyum lalu berdiri mendekati gadisnya itu dan dia segera berlutut di hadapan Rasti yang diapit oleh kedua orang tuanya.
“Ra, aku disini ingin mengungkapkan perasaanku, aku mencintaimu! Dan mungkin beberapa hari ini kau mencariku atau bertanya-tanya karena dia menemuimu, perlu kau tahu aku melakukan itu untuk meyakinkan hatiku karena aku tahu kau tidak akan menikah dengan seseorang yang tidak mencintaimu dan hal itu terbukti bahwa aku memang benar mencintaimu karena aku sangat merindukanmu ketika aku jauh darimu. Ingin rasanya aku menemuimu tapi aku sudah berjanji tidak akan menemuimu sebelum aku melamarmu. Jadi hari ini di hadapan kedua orang tua kita aku ingin kau menjawab pernyatanku, maukah kau menemaniku menghabiskan hari kita bersama? Maukah kau menikah denganku?” tanya Faris sambil menyerahkan sebuah cincin berlian.
Rasti pun segera sadar lalu dia menatap pria di hadapannya itu dengan tersenyum kemudian dia beralih menatap kedua orang tuanya yang hanya di balas dengan senyuman, “Emm,, Maaf sebelumnya sepertinya Rasti,,” Rasti tersenyum menatap perubahan ekspresi di wajah Faris.
“Rasti tidak bisa menolaknya! Aku bersedia menikah denganmu dan bersama menemanimu menghabiskan hari kita bersama.” Lanjut Rasti kemudian yang membuat para orang tua bernafas lega.
__ADS_1
“Jadi?” tanya Faris lagi.
“Apa tuan Faris sudah tidak bisa menjabarkan apa maksud perkataanku?” tanya Rasti balik.
“Ahh terimah kasih! Aku mencintaimu!” ucap Faris lalu segera memasangkan cincin di jari manis Rasti.
“Aku juga mencintaimu kak!” balas Rasti yang membuat Faris girang. Ingin rasanya dia melompat-lompat untuk mengekspresikan kebahagiaannya tapi dia masih sadar bahwa di sana ada calon mertuanya.
Para orang tua yang melihat kebahagiaan di mata kedua anak mereka ikut terharu dan bahagia apalagi Andrew dan Celine. Mereka bahagia melihat sang putri menemukan kebahagiaannya.
__ADS_1