
“Bagaimana jika kita melakukan akad dulu!” ucap Rasti.
Faris pun menepikan mobilnya terlebih dahulu karena tidak ingin sesuatu yang terjadi pada mereka, “Kakak pun sudah memikirkan ini dan sepertinya ini memang rencana yang paling baik karena kita gak mungkin mengadakan pesta besar-besaran sementara Zea sedang sakit.” Ucap Faris yang memang memikirkan hal yang sama seperti Rasti.
“Sepertinya kita memang sepemikiran. Kalau begitu ayo kita lakukan itu. Ayo kita menikah tapi akad dulu sebelum Zea melakukan operasinya agar dia dan Lian tetap bisa hadir. Aku tidak ingin adikku gak ada dalam pernikahanku.” Ucap Rasti.
Faris pun mengangguk, “Baiklah ayo kita lakukan tapi kita tetap harus membicarakan ini dengan kedua orang tua kita dan keluarga yang lain.” Ucap Faris.
“Kalau begitu malam ini kita bicarakan dengan mereka. Di rumah kak Pras dan kak Zia saja. Biar Rasti yang akan mengundang mereka kesana.” Ucap Rasti.
Lalu dia kembali menatap Faris, “Tapi apa kakak yakin akan melakukan ini? Aku takut kakak mau melakukan ini hanya karena permintaanku.” Lanjut Rasti.
Faris pun tersenyum dan langsung menatap Rasti dalam, “Hey, kau adalah calon istriku dan gadis yang aku cintai, aku melakukan ini juga karena aku tidak ingin kau pergi lagi dan pernikahan kita batal lagi. Selain itu juga aku ingin sahabatku juga ikut hadir dan merasakan kebahagiaanku. Jadi mengapa kita tidak melakukan akad dulu dan untuk pestanya nanti, lagian juga hanya akadlah yang paling penting. Jadi mengapa aku tidak yakin melakukan ini sedangkan yang akan aku nikahi adalah dirimu gadis yang aku cintai. Aku justru takut kau yang tidak yakin dengan keputusanmu.” Ucap Faris.
Rasti pun tersenyum, “Aku sangat yakin dengan keputusanku kak. Jadi ayo kita menikah!” ucap Rasti.
Faris pun tersenyum, “Let’s go sayang.” ucap Faris lalu dia segera melanjutkan kembali perjalanan mereka.
__ADS_1
***
Malamnya di rumah Zia dan Pras kini telah berkumpul anggota keluarga Rasti dan Faris untuk mendengarkan apa yang akan di bicarakan oleh keduanya.
“Kenapa meminta kami kesini? Apa kalian ingin membahas pernikahan kalian?” tanya Andrew setelah mereka berkumpul.
Rasti pun tersenyum mendengar Andrew bicara, “Papi memang hebat bisa langsung menebak apa yang kami ingin sampaikan.” Ucap Rasti.
“Sudahlah katakan saja apa yang kalian inginkan, mami sudah sangat penasaran.” Ucap Celine.
“Nak, apa kalian memang ingin membahas pernikahan kalian?” tanya Alice.
Rasti dan Faris pun mengangguk, “Ya sudah jika begitu kita segera hubungi vendor lagi.” Ucap Celine.
“Gak maksudnya jangan karena--” ucap Rasti.
“Karena apa? Bukankah kalian ingin mengadakan pernikahan kalian lalu kenapa kita tidak menghubungi mereka.” Ucap Celine.
__ADS_1
“Mami sabar ihh, Rasti belum selesai bicara.” Ucap Rasti.
“Ya sudah kalau begitu katakan saja sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan.” Ucap Gifari.
Rasti dan Faris pun saling memandang satu sama lain dan mengangguk, “Kalian kenapa sih, katakan saja. Gak usah buat penasaran.” Ucap Celine.
“Ouh astaga mami, ini juga mau bicara tapi mami selalu saja memotongnya.” Ucap Rasti.
“Iss bagaimana kalian lama mana masih saling memandang lagi padahal kami sudah penasaran.” Ucap Celine.
“Mami sudah. Ayo katakan apa yang ingin kalian sampaikan.” Ucap Andrew.
“I-itu,,” ucap Faris menatap Rasti kembali.
“Rasti dan kak Faris sudah sepakat menikah tapi kami akan melakukan akad dulu tanpa pesta.” Sambung Rasti.
“Apa?”
__ADS_1