
“Makanlah!” ucap Rasti menyuapi Faris tapi Faris tidak membuka mulutnya.
“Kenapa?” tanya Rasti.
“Sudahlah biar aku makan sendiri. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, terima kasih sudah datang. Kau lebih baik ke kantor saja, aku tidak ingin hanya karena aku kau terlambat.” Ucap Faris mengambil makanan dari tangan Rasti dan mencoba makan sendiri walau susah.
Rasti pun hanya tersenyum, “Gak apa-apa sekali terlambat, bukankah kita tidak harus selalu perfect?” ucap Rasti
“Emm,, baiklah jika begitu. Terima kasih atas pengertiannya, akhirnya aku bisa shoping juga hari ini.” lanjut Rasti.
“Shoping?” tanya Faris.
“Iya shoping. Kenapa emang?” tanya Rasti.
“Bukankah ini bukan hari libur?” tanya Faris.
“Emang nanti harus hari libur jika ingin shoping?” tanya Rasti balik.
“Gak juga sih.” Jawab Faris.
“Ya sudah saya izin shoping dulu yaa.” Ucap Rasti.
“Emm,, itu lalu bagaimana dengan perusahaanmu?” tanya Faris.
Rasti hanya tertawa, “Hahah,, anda lucu tuan bilang saja jika ingin di temani di sini. Kenapa malu mengatakannya.” Ucap Rasti.
Faris pun tertawa melihat Rasti tertawa, “Baiklah, bisakah kau menemaniku hari ini?” tanya Faris.
__ADS_1
“Emm,, aku pikir-pikir dulu.” Jawab Rasti.
“Ouh ayolah!” pinta Faris.
“Tergantung,,” ucap Rasti.
“Tergantung apa?” tanya Faris.
“Tergantung seberapa banyak kau menghabiskan sarapanmu.” Ucap Rasti.
Faris yang mendengar itu pun segera makan sarapannya dengan terburu-buru sampai terbatuk.
“Pelan-pelan! Gak ada yang berebut makanan dengan anda.” Ucap Rasti memberikan air kepada Faris.
Reno yang diam dari tadi melihat percakapan dua orang itu berbicara, “Tuan, nona saya,,” panggil Reno.
“Emm,, baiklah. Tuan, nona saya pamit.” Izin Reno. Faris dan Rasti pun hanya mengangguk.
“Lihat saya sudah selesai makan. Apa kau akan menemani saya di sini?” tanya Faris begitu selesai menghabiskan sarapannya.
“Belum.” Ucap Rasti.
“Kenapa?” tanya Faris.
Rasti hanya tersenyum lalu mengambil makanan yang dia bawa dan membukanya, “Anda harus habiskan semua makanan ini.” ucap Rasti.
Faris pun melihat banyaknya makanan di hadapannya hanya bisa menelan ludah karena dia sudah kenyang walaupun dia menyukai makanan yang di bawa Rasti, “Kenapa? Apa anda tidak bisa menghabiskannya?” tanya Rasti.
__ADS_1
“Emm,, akan saya makan. Mana?” tanya Faris mulai mengambil makanannya tapi di tahan oleh Rasti.
“Gak usah, saya bercanda kok. Makan ini saja, ini sup bisa mempercepat penyembuhan luka. Ayo di minum.” Ucap Rasti menyuapi Faris dengan sup yang dia buat tadi.
“Bagaimana? Apa tidak enak?” tanya Rasti begitu Faris minum supnya.
“Enak, sangat enak! Siapa yang membuat ini?” tanya Faris.
“Emm,, tentu saja pelayan mami.” jawab Rasti cepat.
“Saya pikir kau yang membuatnya tapi terima kasih yaa sudah membawakannya.” Ucap Faris dan Rasti pun hanya tersenyum lalu dia mulai mengatur makanan yang dia bawa ke tempatnya semula agar tetap hangat.
“Kenapa?” tanya Rasti saat Faris menahan tangannya.
“Saya ingin makan itu.” Ucap Faris menunjuk makanan yang dia inginkan.
Rasti pun hanya tersenyum, “Sebentar saya ambilkan.” Ucap Rasti lalu menyuapkan kepada Faris.
“Ohiya saya serius ingin bertanya, bagaimana dengan perusahaanmu jika kau di sini?” tanya Faris.
“Kakak yang akan mengurusnya.” Ucap Rasti kembali menyuapkan makanan ke mulut Faris.
“Kakakmu? Kenapa?” tanya Faris.
“Tentu saja karena saya harus merawat anda sampai sembuh. Emm,, makanya cepatlah sembuh agar saya bisa cepat kembali ke perusahaan.” Jawab Rasti.
“Jadi kamu akan menjaga saya sampai sembuh?” tanya Faris berbinar dan hanya di balas dengan anggukan oleh Rasti.
__ADS_1