
Tiba-tiba Lian menyadari sesuatu, “Kakak ipar, di mana istriku?” tanya Lian.
“Hahahhh,, kau sudah lama tiba dan baru menyadari bahwa istriku gak ada.” balas Pras tertawa.
“Ouh ayolah kakak ipar katakan di mana istriku. Dia sudah kesini tadi dan mobilnya juga ada di depan.” Ucap Lian yang memang melihat mobil sang istri ada di depan.
“Hmm,, dia pergi dengan Rasti membeli camilan.” Jawab Pras lalu segera mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan kepada adiknya bahwa Lian ada sudah tiba.
Ting
“Dek, suamimu sudah ada di rumah kakak. Kita harus membeli beberapa camilan agar dia tidak curiga nanti.” Ucap Rasti. Zea pun hanya mengangguk, mereka sudah tiba di rumah sakit dan segera menemui dokter karena mereka sudah membuat janji lewat online.
***
Singkat cerita, kini Rasti dan Zea baru saja tiba, “Kakak kami pulang.” Ucap Rasti begitu dia masuk. Seketika dia terdiam melihat siapa yang duduk bersama Pras dan Lian.
“Kenapa diam kak?” bisik Zea tersenyum.
“Rasti ayo sini mana camilannya.” Ucap Zia segera mendekati Rasti.
“Sayang kalian dari mana sih?” ucap Lian segera mendekati sang istri.
__ADS_1
“Kakak gak lihat kami dari membeli ini.” Jawab Zea.
“Jangan pergi jauh-jauh sayang, kakak merindukanmu.” Ucap Lian.
“Dasar bucin.” Ucap Pras meledek.
“Emang kakak gak?” Tanya Rasti balik.
“Kau?” ucap Pras malas menatap Rasti tajam.
“Sudahlah jangan ribut. Apa kalian tidak bisa tidak berdebat jika bertemu?” Tanya Zia yang sudah bosan dengan pedebatan kedua kakak beradik itu jika bertemu.
“Maaf kakak ipar.” Ucap Rasti manja.
“Jangan manja kepada istriku. Cepat sana kau cari suami agar ada tempat kau manja-manja.” Ucap Pras.
“Kakak ipar, lihatlah kakak dia meledekku. Aku sudah diam tapi dia yang memulainya.” Ucap Rasti mengadu.
Zia pun hanya tersenyum, “Tapi memang benar apa yang di katakan kakakmu dek. Cepatlah cari suami. Masa iya kau akan terus menerus manja kepada kami.” Goda Zia.
Rasti pun menatap Zia dan Pras malas, “Hmm,, jangan menggodaku dan apa kalian pikir mencari suami itu segampang mengedipkan mata.” Ucap Rasti mengambil camilan lalu membukanya.
__ADS_1
“Hmm,, bagaimana ada yang di depan mata tapi masih mencari.” Ucap Pras.
Uhuk uhuk
Faris yang mendengar itu segera terbatuk karena dia memang sementara minum, “Pelan-pelan bro, tidak ada yang akan merebutnya darimu jika kau tidak terlambat.” Ucap Lian tersenyum.
Faris pun hanya bisa menunduk malu, “Hmm,, kakak ipar aku lapar.” Ucap Rasti lalu menuju dapur.
Zia dan Pras yang melihat itu hanya tersenyum, “Apa kau tidak ada yang ingin kau ambil di dapur Faris?” Tanya Pras.
Faris pun menatap Pras, “Apa boleh?” izin Faris.
“Tentu saja kau boleh melihat isi dapur, siapa tahu aja ada yang kau sukai di sana. Tapi ingat hati-hati.” Balas Pras.
Faris pun mengangguk dan segera menuju dapur menyusul Rasti yang saat itu sedang mengambil sesuatu di kulkas, “Hmm kenapa mereka jadi menyebalkan begitu.” Gumam Rasti.
“Apa yang menyebalkan?” Tanya Faris dan membuat Rasti kaget karena tiba-tiba saja ada suara.
“Tuan Faris kenapa kau ada di sini?” Tanya Rasti balik setelah mengontrol kekagetannya.
“Hmm,, aku ingin melihat sesuatu di dapur ini dan jika ada sesuatu yang indah dan kusukai aku sudah mendapat izin untuk membawanya.” Ucap Faris tersenyum menatap Rasti.
__ADS_1
“Ouh begitu. Ya sudah lihatlah, semoga segera menemukannya.” Ucap Rasti berlalu kembali menuju ruang tamu dengan es krim di tangannya.
“Aku sudah menemukannya dan sudah memutuskannya akan membawanya tapi nanti.” Timpal Faris lalu mengikuti Rasti.