Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 76


__ADS_3

Singkat cerita, kini Faris dan Rasti sudah ada di sebuah restoran dan sudah pasti mereka berada di ruang VIP. Untuk pertama kalinya Faris yang begitu bersemangat hingga dia tiba di restoran 20 menit sebelum jam perjanjian di sepakati. Dia pun menunggu Rasti sambil memesan minumannya.


Sudah lebih 5 menit dari jam perjanjian kini Rasti belum juga muncul, “Dimana dia? Kenapa dia belum tiba? Bukankah dia tidak menyukai keterlambatan? Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya Faris khawatir.


Faris pun segera menelpon Reno untuk menanyakan apa Rasti masih di kantor atau bagaimana pada asisten Rasti. Tidak lama dia mendapatkan balasan dari Reno mengatakan bahwa Rasti sudah berangkat setengah jam yang lalu.


“Dari kantornya ke sini tidak sampai 15 menit kenapa dia belum tiba?” Faris pun menjadi khawatir, dia pun segera keluar dari restoran tapi saat dia keluar dia melihat Rasti baru saja masuk di pintu restoran dengan kaki yang sedikit tertatih. Faris yang melihat itu segera masuk, bukan karena tidak ingin menolong Rasti hanya saja dia tahu tipe wanita seperti Rasti tidak ingin terlihat lemah. Maka lebih baik dia berpura-pura tidak tahu saja.


“Maaf saya sangat terlambat tuan.” Ucap Rasti merasa bersalah dan segera duduk di hadapan Faris.


“12 menit, it’s ok.” Jawab Faris melihat jam tangannya.


“Sekali lagi maaf sudah membuat anda menunggu. Apa anda sudah lama?” tanya Rasti.


“Tenang saja kok aku juga baru saja tiba.” Jawab Faris tersenyum.

__ADS_1


“Hmm,, baiklah.” Ucap Rasti mengeluarkan beberapa dokumen, Faris pun memperhatikan Rasti dengan seksama tiba-tiba dia melihat ada darah di lengan Rasti.


“Apa anda nona Rasti tidak ingin memesan minum dulu?” tanya Faris menawarkan. Dia berpura-pura tidak melihat luka Rasti.


“Apa saya perlu saya pesankan?” tanya Faris. Rasti pun mengangguk.


Faris segera memanggil pelayan, “Oreo Milkshake satu ya.” Ucap Faris dan Rasti bersamaan.


Pelayan itu mengangguk dan segera berlalu, “Terima kasih tuan!” ucap Rasti.


“Untuk?” tanya Faris tersenyum.


“Apa susahnya sih mengatakan jika terharu aku mengingat minuman kesukaanmu.” Gumam Faris tapi masih bisa di dengar oleh Rasti tapi Rasti berusaha mengabaikannya.


Mereka pun segera membahas beberapa saran yang ingin di ubah oleh Rasti dan Faris hanya memandang wajah di depannya itu yang serius menjelaskan dengan tersenyum, “Sangat cantik!” batin Faris memuji Rasti.

__ADS_1


“Tuan, apa anda mendengarkan penjelasan saya?” tanya Rasti menyadari bahwa Faris hanya memandangnya.


Faris pun seketika tersadar, “Hmm,, maaf apa bisa kamu jelaskan lagi?” pinta Faris.


Rasti pun hanya menghela nafasnya, “Baiklah saya akan ulangi tapi ingat tuan harus serius mendengarnya jangan memandang seseorang. Ingat jaga pandangan.” Sindir Rasti.


Faris pun hanya tersenyum mendengar sindiran itu, “Siapa suru kau lebih menarik dari pada dokumen-dokumen itu.” Gumam Faris yang tentu saja bisa di dengar oleh Rasti karena mereka hanya berdua di dalam ruangan itu.


“Tuan aku mohon seriuslah.” Ucap Rasti.


“Hmm,, iya.” Ucap Faris.


Akhirnya Faris pun mendengarkan saran Rasti itu dengan seksama karena tidak ingin membuat Rasti bertambah kesal walau menurutnya kecantikan Rasti bertambah saat dia sedang kesal.


Akhirnya setelah kurang lebih 30 menit mereka berdiskusi semuanya telah di setujui.

__ADS_1


“Terima kasih tuan, kita akan memulai pelaksanaanya mulai dua hari lagi.” Ucap Rasti.


Faris pun mengangguk, “Jika ada yang di butuhkan nona Rasti jangan sungkan menelpon. Menelpon secara pribadi pun boleh.” Ucap Faris.


__ADS_2