
Kini Zia dan Pras sudah tiba di rumahnya Pras.
“Ayo masuk tuan putriku!” ucap Pras membukakan pintu rumah itu untuk Zia.
Zia hanya tersenyum, “Terima kasih!” balas Zia.
“Selamat datang nyonya muda!” ucap pengawal dan asisten rumah tangga yang ada disana menyambut Zia.
Zia pun hanya tersenyum menerima sambutan itu dimana rumah itu dihiasi dengan balon serba pink dan di dinding terdapat tulisan Welcome.
“Terima kasih!” ucap zia kepada semua orang disana.
Para asisten itu pun hanya tersenyum membalas ucapan Zia karena mereka tidak menyangka bahwa istri majikan mereka sangat ramah dan sangat cantik walau kecantikannya tertutupi dengan hijabnya.
Pras pun segera meminta asistennya untuk meletakkan barang-barang Zia dan si kembar ke kamar. Setelah itu Pras mengajak Zia ke lantai dua.
“Masuklah tuan putri, ini kamar utama.” Ucap Pras membukakan pintu kamar.
Zia pun segera masuk dan melihat kamar itu sangat besar dilengkapi dengan ranjang ukuran king size, ada lemari rias, ada kamar mandi yang besar dan tidak lupa walk in kloset yang sangat besar, “Wow, ini sangat besar, warnanya juga,,” ucap Zia mengamati dinding kamar itu yang di dominasi dengan warna pink dan hitam.
“Iya, kamar ini di desain sesuai dengan warna kesukaanmu. Apa kau menyukainya?” tanya Pras.
“Ini sangat besar dan cantik. Aku sangat menyukainya.” Jawab Zia yang masih mengagumi kamar itu.
“Baiklah, biarkan saja dulu ini nanti sebentar pakaianmu kau atur, aku masih ingin membawamu melihat kamar si kembar.” Ajak Pras.
“Kamar si kembar? Apa mereka akan tidur terpisah dengan kita?” tanya Zia.
“Tentu saja. Apa kau ingin mereka tidur dengan kita?” tanya Pras balik.
“Bu-bukan begitu hanya saja mereka masih kecil untuk tidur sendiri.” Ucap Zia menunduk.
“Hahahahh,, aku mengerti. Sudahlah jangan pikirkan apapun mereka pasti tetap akan tidur bersama kita jika kau menginginkannya. Aku hanya menyiapkan kamar mereka saja.” Ucap Pras tertawa.
Zia pun menjadi salah tingkah, dia pun segera ikut suaminya melihat kamar si kembar yang bersebelahan dengan kamar utama. Kamar Zayyan di desain warna biru dan dipenuhi dengan aneka mainan khas cowok begitupun sebaliknya kamar Zayyah di desain warna pink dan dipenuhi aneka mainan khas cewek.
__ADS_1
“Wow, ini sangat indah.” Ucap Zia mengagumi kamar kedua anaknya itu. Di sana kedua anaknya sedang tidur dalam box yang telah disediakan untuk keduanya. Kamar si kembar itu pun saling terhubung.
Setelah itu Pras memperlihatkan ruang kerja mereka yang berada dalam satu ruangan, “Ini ruang kerja kita. Kamu gak keberatan kan ruang kerja kita sama-sama?” tanya Pras kepada Zia.
“Gak kok, ini sangat bagus. Semuanya indah, aku menyukainya kak. Terima kasih!” ucap Zia reflex memeluk suaminya itu. Seketika suasana menjadi canggung, “Maaf, Zia tidak sengaja.” Ucap Zia menunduk.
Pras hanya tersenyum karena sejujurnya dia menyukai sikap Zia itu, itu menandakan bahwa tingkat kewaspadaan Zia terhadapnya semakin berkurang, “Gak apa-apa kok dek, aku menyukainya!” goda Pras.
Zia semakin malu saat Pras menggodanya, “Hahahh,, jangan malu dek.” Ucap Pras segera menggenggam tangan istrinya itu ke bawah. Zia pun hanya bisa mengikuti suaminya. Mereka segera makan siang berdua di bawah.
***
Saat ini Zia sedang ada di kamar utama mereka, dia yang awalnya akan mengatur barangnya setelah makan siang akhirnya menjadi mengamati semua yang ada disana karena barangnya sudah diletakkan oleh asisten rumah tangganya. Zia pun segera melihat si kembar yang dijaga oleh asisten rumah tangga karena Zia belum menggunakan jasa baby sitter. Pras setelah makan siang segera ke kantor karena ada urusan mendadak yang harus dia hadiri.
“Bi, apa mereka belum bangun?” tanya Zia.
“Mereka baru saja bangun nyonya tapi tidur lagi.” Jawab asisten rumah tangga.
“Ah, bibi bisa memanggilku dengan Zia, ohiya siapa nama bibi?” tanya Zia segera membangunkan putrinya karena dia harus menyusui kedua anaknya itu jadi dia bangunkan karena mereka sudah lama tidur.
“Ah, baiklah terserah bibi saja jika begitu.” Ucap Zia segera menyusui putrinya tidak lama kemudian putranya pun terbangun, Zia pun segera menyusui putranya setelah putrinya itu selesai. Zia pun menghabiskan harinya itu bersama si kembar karena dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Usahanya saja Rasti sudah menelpon bahwa semuanya baik-baik saja.
***
Tidak terasa sudah seminggu Pras dan Zia menikah dan selama ini mereka selalu tidur terpisah. Yah mereka sekamar tapi Pras tetap tidur di sofa untuk menghormati Zia selain itu juga dia tidak ingin kebablasan jika harus tidur seranjang dengan Zia karena sesungguhnya dia juga sulit mengontrol gairahnya hanya dengan melihat Zia padahal istrinya itu memakai pakaian tertutup bahkan hingga saat ini Pras belum melihat bagaimana rambut istrinya itu.
Saat ini Zia baru saja selesai mandi keramas, dia pun menggunakan kamar itu dengan leluasa karena Pras sudah pergi ke kantor tapi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, “Kakak kau disini?” tanya Zia yang saat itu tidak memakai hijabnya karena dia baru saja keramas.
Pras yang melihat rambut istrinya yang sangat cantik, rambut Zia sangat tebal dan hitam serta sangat terawat dan sangat panjangnya sepinggang. Zia pun segera mangambil selimut untuk menutup rambutnya, “Jangan ditutup! Itu sangat cantik. Aku ingin melihatnya, bolehkan?” tanya Pras menatap wajah cantik istrinya yang tidak ditutupi hijab itu.
Zia pun akhirnya tidak jadi mengambil selimut untuk menutupi hijabnya. Pras pun tersenyum mengerti, itu berarti Zia mengizinkannya untuk melihat rambutnya. Pras pun segera membawa Zia ke lemari hiasnya dan mendudukannya disana lalu Pras mengambil handuk, setelah itu Pras membantu mengeringkan rambut istrinya itu.
“Sangat cantik, sangat wangi!” ucap Pras mengecup puncak kepala Zia yang sudah kering.
“Apa kakak tidak terlambat?” tanya Zia memberanikan diri menatap mata suaminya.
__ADS_1
“Apa kau lupa suamimu ini bosnya, jadi gak apa-apa terlambat sekali.” Ucap Pras tersenyum lalu menyisir dan mengikat rambut istrinya.
Zia pun hanya diam dan membiarkan Pras menyentuh rambutnya. Pras pun lalu mengambil hijab istrinya dan membantu memakaikannya, “Kak, biar Zia saja.” Ucap Zia.
“Apa kakak gak boleh membantu? Kakak ingin memakaikannya.” Ucap Pras. Zia pun akhirnya membiarkan suaminya itu memakaikan hijab itu untuknya.
“Sekarang kau semakin cantik!” ucap Pras selesai memakaikan hijab istrinya. Zia pun hanya tersenyum mengakui bahwa suaminya itu memang pandai memakaikan hijab.
“Terima kasih.” Ucap Zia memandang suaminya.
Cup
Pras segera mengecup kening Zia, “Ya sudah jika begitu kakak pergi dulu. Kamu baik-baik dirumah. Aku akan cepat kembali.” Ucap Pras segera mengambil dokumen yang memang akan dia ambil.
“Kakak!” panggil Zia berdiri mendekati suaminya.
“Ada apa?” tanya Pras.
Zia segera meraih tangan suaminya dan menciumnya, Pras yang melihat itu hanya tersenyum dan kembali mengecup kening Zia.
“Aku pergi!” pamit Pras. Zia pun hanya mengangguk.
Pras pun segera pergi dengan semangat, dia merasa moodnya saat ini sangat baik. Zia pun setelah keluar dari kamarnya dan menemui si kembar yang masih dijaga oleh bibi Ratna karena Zia tidak ingin menggunakan jasa baby sitter. Akhirnya bi Ratna yang membantunya mengurus si kembar.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh🙏🏻😁🥺
__ADS_1