Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 165


__ADS_3

“Lagipula bukankah kau ingin kakak segera memiliki anak dan dengan begini kami bisa segera punya anak kan? Kakak juga iri padamu yang sebentar lagi akan memiliki anak padahal kakak lebih tua darimu. Jadi izinkan kakak menikah besok yaa?” lanjut Rasti tersenyum.


“Iss kakak gak lucu tahu.” Ucap Zea.


“Hahahh,, makanya jangan merasa bersalah karena kami melakukan ini untuk kebaikan bersama. Kakak ingin kau hadir begitupun dengan kak Faris yang ingin sahabatnya ikut hadir dalam pernikahannya. Kakak menyayangimu dek! Jadi jangan pernah seperti ini pada keluarga.” ucap Rasti.


“Kakak! Aku menyayangimu!” ucap Zea.


“Kakak juga menyayangimu sayang. Jadi kau mengizinkan kakak menikah besok kan?” tanya Rasti.


“Tentu saja, aku selalu menantikan pernikahanmu kak tapi aku tidak menyangka--” ucap Zea.


“Sstt, jangan bicara sembarangan. Kakak bahagia dengan pernikahan ini walau hanya akad dulu.” Potong Rasti lalu memeluk Zea.


“Zea gak tahu harus membalas dengan apa atas kebaikan kakak.” Ucap Zea.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu membalasnya. Emm cukup dengan keberhasilan operasimu dan keselamatan kedua keponakanku ini.” ucap Rasti mengelus perut Zea yang memang sudah membesar karena sebentar lagi akan memasuki usia 32 minggu.


“Aku akan berusaha kak.” Ucap Zea.


“Bukan berusaha tapi harus. Kakak ingin melihat anak kita bermain bersama nanti dan kita mengawasi mereka bersama.” Ucap Rasti.


“Aku juga sangat mengharapkan itu kak.” Ucap Zea.


“Harapanmu pasti akan menjadi kenyataan. Kakak yakin itu, semua doamu pasti akan terwujud. Jadi kau harus tersenyum sekarang!” ucap Rasti. Zea pun tersenyum.


“Jangan berterima kasih karena aku tidak melakukan ini untukmu. Aku melakukan ini untuk diriku, aku tidak ingin kehilangannya.” Balas Faris.


“Tetap saja aku berterima kasih padamu!” ucap Lian.


“Ya terserah padamu jika begitu.” Ucap Faris lalu mereka segera mendekati Zea dan Rasti yang masih setia berpelukan.

__ADS_1


***


Singkat cerita, kini semua keluarga sudah tiba untuk menghadiri akad nikah Faris dan Rasti yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Semua keluarga turut hadir, Zea dan Lian sudah tidak kembali dari kemarin mereka sudah menginap di kediaman Rasti karena Zea ingin menemani Rasti. Sementara Zia dan Pras beserta anak-anaknya dan Alya bersama Gibran mereka tiba pagi tadi.


Alya dan Gibran sudah mengetahui alasan kenapa akad nikah ini dilaksanakan terlebih dahulu, mereka sedikit bersalah tapi begitu Celine dan Andrew menjelaskan bahwa ini semua memang harus dilakukan bukan karena Zea akhirnya Alya dan Gibran pun mengerti tapi tetap saja ada sedikit rasa bersalah di hati mereka.


Kini tibalah di saat yang di tunggu-tunggu dimana akad nikah akan dimulai karena Faris dan keluarga sudah tiba.


Rasti yang berada di kamarnya sudah siap dengan kebaya nikahnya di temani oleh Zea dan Zia pun merasa gugup walau ini hanyalah akad tapi justru hal inilah inti pernikahan yang akan mengubah statusnya dari seorang gadis menjadi istri. Zia yang menyadari hal itu segera menggenggam tangan Rasti, “Tenang saja, semua akan berjalan baik-baik saja.” Ucap Zia.


Rasti pun tersenyum, “Aku tidak menyangka ternyata begini rasanya menikah. Aku gugup setengah mati bahkan lebih gugup dari menandatangi kontrak kerja sama bernilai miliaran padahal yang akan mengucap ijab qabul kak Faris bukan aku.” Ucap Rasti.


Zia dan Zea pun tersenyum mendengarnya, “Memang begitu kak!” ucap Zea.


“Lebih baik kamu perbanyak membaca istiqfar untuk menenangkan kegugupanmu.” Saran Zia.

__ADS_1


Rasti pun mengangguk mengikuti ucapan Zia.


__ADS_2