
Lian pun hanya tersenyum lalu dia memandang seseorang yang sedang menunduk di sudut.
Tanpa ada yang menyadari Rasti pun melihat arah pandangan Lian. Lagi-lagi dia hanya diam tanpa ada yang tahu apa yang dia pikirkan.
Lian pun cukup lama ada di sana. Satu yang dia pahami bahwa keluarga itu sangat rukun dan saling menyayangi satu sama lain. Kini dia mengerti kenapa Zea memintanya menikahi Rasti tapi tetap saja hal itu tidak mengubah pilihannya karena baginya cinta itu tidak bisa di paksakan.
Lian pun akhirnya pamit pergi setelah bicara cukup lama. Sebelum keluar Lian kembali menatap gadis yang masih saja diam di sudut dengan memandang ponselnya dan hal itu tidak luput dari pandangan Rasti. Tanpa sengaja Zia melihat itu.
***
Dua hari berlalu, kini Zia sudah di izinkan pulang ke rumah. Zia ditemani oleh sang suami mengurus kepulangannya karena keluarga lain sudah lebih dulu ada di rumah Zia dan Pras untuk menyambut anggota baru keluarga mereka.
“Baby, apa masih sakit?” tanya Pras saat membantu sang istri mengganti pakaiannya.
Zia hanya tersenyum, “Kenapa selalu menanyakan hal itu? Zia baik-baik aja kok.” jawab Zia.
“Aku hanya khawatir jika ada yang harus terjadi kepadamu. Kamu adalah jantung hatiku.” Goda Pras.
“Berhentilah menggodaku suamiku.” Ucap Zia.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk melakukan pengecekan terakhir sebelum Zia dan putranya pulang. Setelah semua di pastikan baik-baik saja Pras segera melakukan pembayaran.
Singkat cerita, kini mereka sudah tiba di rumah dengan di sambut oleh seluruh keluarga dan seperti biasa Zia dan Pras terabaikan karena yang di sambut hanyalah sang putra. Celine dan Alya berebutan untuk menggendong cucu ketiga mereka itu. Pras yang menggendong sang putra dari rumah sakit pun hanya bisa memberikannya kepada Rasti karena dia tidak bisa memilih siapa yang harus dia berikan putranya karena dia tidak ingin menyakiti kedua ibunya itu.
Zia pun hanya tersenyum ketika melihat sang suami yang kesusahan memutuskan untuk memilih. Untunglah Rasti juga datang jadi sang suami punya pilihan lain.
__ADS_1
“Pras, kau jahat kenapa memberikannya kepada Rasti? Kami yang sudah tiba di sini lebih dulu.” Protes Celine.
Pras yang tidak bisa menjawab apa-apa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Mami gak usah lebay deh, kakak memberikannya kepadaku karena kalian itu berebutan.” Ucap Rasti langsung berlalu membawa sang keponakan ke dalam meninggalkan Celine dan Alya.
Celine dan Alya yang ditinggalkan begitu saja pun segera masuk agar bisa segera melihat sang cucu. Sementara Pras hanya bisa menghela nafas lega, Zia yang melihat itu tertawa, “Baby, kau menertawakan penderitaanku?” tanya Pras karena melihat sang istri tertawa.
“Tentu saja. Kasihannya dirimu.” Ucap Zia tetap tertawa.
“Sudahlah lupakan itu, ayo kita masuk!” ucap Pras menghentikan Zia tertawa lalu membantu sang istri masuk ke rumah.
Zia dan sang putra pun di sambut dengan bahagia. Seluruh keluarga antusias menyambut anggota baru keluarga mereka itu. Si kembar juga terlihat bahagia menyambut adik mereka itu terbukti dengan Zayyan dan Zayyah yang tidak pernah meninggalkan sang adik. Jika sang adik di gendong oleh Celine maupun Alya maka si kembar pun ada di samping mereka.
Pras dan Zia yang melihat itu pun bahagia karena si kembarlah yang mereka khawatirkan tapi untunglah si kembar menerima adik mereka itu dengan baik. Pras dan Zia pun bertekad untuk selalu membagi kasih sayang mereka sama rata karena mereka tahu si kembar juga masih membutuhkan kasih sayang mereka.
***
“Ee,, karena kita berkumpul di sini semua, aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting.” Ucap Andrew.
Seluruh keluarga pun melihat kearah Andrew yang bicara, “Ada apa sih pih?” tanya Rasti.
“I-itu pertunanganmu dengan tuan Lian akan di adakan dua minggu lagi. Papi sudah bertemu dengan tuan George dan kami sudah menyepakati itu.” Jawab Andrew.
“Pertunangan?” tanya Rasti tapi matanya melihat seseorang yang sedang duduk menunduk di samping si kembar.
“Yah, kalian harus segera meresmikan hubungan kalian.” Ucap Andrew.
__ADS_1
“Selamat dek!” ucap Zia memeluk Rasti yang memang saat itu sedang ada di samping Rasti.
Seluruh keluarga pun memberikan selamat kepada Rasti tidak lupa juga dengan Zea, “Selamat kakak!” ucap Zea tersenyum. Rasti pun memeluk Zea dengan erat seolah mengisyaratkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang mengetahuinya.
Seluruh keluarga pun sibuk membahas pertunangan Rasti. Zea yang memang dari tadi bermain dengan si kembar pun mengajak si kembar ke kamar mereka karena sepertinya si kembar sudah mengantuk.
Sesampainya di kamar Zea segera membantu kedua keponakannya itu membersihkan diri lalu menggantikan pakaian mereka. Setelah itu membantu menidurkan kedua keponakannya itu.
Setelah memastikan keponakannya itu tertidur dia mengambil ponselnya lalu membuka galeri ponselnya di mana di sana ada fotonya dengan Lian saat dia wisuda, “Kenapa sangat sakit saat mendengar kau akan bertunangan kak?” gumam Zea meneteskan air matanya. Sejujurnya saat tadi mendengar Andrew memberitahukan pertunangan Rasti itu dia kaget hanya saja dia segera mengubah ekspresinya dan mencoba mengalihkan perhatiannya dengan si kembar padahal jika dia mau dia ingin mengatakan bahwa hatinya sangat sakit mendengar itu.
“Kenapa aku harus merasakan sakit begini? Bukankah memang dari awal dia adalah tunangan kakak?” gumam Zea sambil menghapus air mata yang sudah menetes di pipinya.
Tiba-tiba ada yang masuk tanpa mengetuk pintu, Zea dengan refleks segera berpura-pura tertidur karena dia tidak ingin keluarganya tahu bahwa dia sedang menangis.
Orang itu pun hanya sebentar di kamar itu lalu keluar.
***
Sementara di sisi lain, “Tuan kakek anda menelpon menyuruh anda untuk datang ke Mansion utama karena ada sesuatu yang harus dia sampaikan.” Ucap Alan saat mereka baru saja kembali menemui klien.
Lian pun hanya melihat asistennya itu sekilas, “Kalau begitu kita temui dia karena aku juga ingin mengatakan sesuatu pada kakek.” Ucap Lian segera masuk ke mobil. Alan pun ikut masuk dan segera melajukan mobil tuannya itu menuju Mansion utama.
Sekitar tiga puluh menit mereka di jalan, kini mobil Lian sudah tiba di Mansion utama. Lian pun segera turun dan masuk menemui sang kakek.
“Kau sudah tiba?” sambut sang kakek yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Lian pun segera mendekati sang kakek dan duduk di hadapan kakeknya itu, “Ada apa kakek mengundangku kemari?” tanya Lian to the point.