Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 115


__ADS_3

“Tuan Faris bagaimana jika aku harus kehilangan adikku? Aku tidak ingin kehilangannya tapi aku hanya bisa mendukung keputusan yang dia ambil walau dengan berat hati.” Lanjut Rasti.


Faris yang melihat Rasti sedih pun mendekatinya lalu menepuk bahunya perlahan, ingin rasanya dia memeluk gadis itu tapi dia sadar bahwa mereka masih terhalang tembok pernikahan, “Aku yakin mereka pasti bisa melewati ini dan adikmu itu wanita kuat. Selain itu juga ada kita yang akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya.” Ucap Faris.


“Aku tahu tapi aku hanya takut.” Ucap Rasti.


“Jangan takut ada calon suamimu di sini yang akan selalu ada untukmu.” Ucap Faris mencoba mencairkan suasana.


“Dasar tidak tau keadaan.” Ucap Rasti lalu mencubit pinggang Faris.


“Aw sakit sayang.” ucap Faris mengadu.


“Bodo amat!” balas Rasti tersenyum lalu segera kembali membaca dokumen di hadapannya.


Faris yang melihat Rasti kembali tersenyum pun ikutan tersenyum karena setidaknya dengan itu dia bisa mengalihkan kesedihan gadisnya itu.

__ADS_1


“Calon istri aku izin pulang dulu yaa!! Aku harus melihat sahabatku.” Izin Faris.


“Pergi saja dan perlu diingat anda itu sudah di usir dari tadi hanya saja anda yang tidak ingin pergi.” balas Rasti.


“Hehheh,, baiklah sekarang calon suamimu ini akan pergi. Ohiya kamu baik-baik di sini yaa! Jangan khawatirkan apapun, semuanya akan baik-baik saja. Assalamu’alaikum aku pamit yaa sayang!” ucap Faris lalu segera berlalu tapi sebelum itu dia mengajak hijab Rasti terlebih dahulu.


Rasti yang kesal dengan hijabnya pun hanya bisa memandang tajam Faris tapi hanya di balas senyuman oleh laki-laki itu, “Waalaikumsalam. Hati-hati!” ucap Rasti yang hanya mendapat anggukan dan senyuman dari pria itu.


“Huh, semoga semuanya akan baik-baik saja seperti harapan kita.” Ucap Rasti lalu dia segera kembali melanjutkan tumpukan dokumen di hadapannya.


Di sisi lain, “Tuan, ini daftar dokter spesialis jantung terbaik se-asia.” Ucap Alan menyerahkan dokumen kepada Lian.


Lian pun menerimanya, “Terimah kasih Alan.” Jawab Lian lesu menatap dokumen itu.


“Tuan anda jangan khawatir nyonya muda pasti bisa menjalani ini. Dia itu wanita kuat.” Ucap Alan menguatkan tuannya.

__ADS_1


“Aku juga tahu tapi saat ini keadaannya tidak memungkinkan. Aku pasti tidak se khawatir ini jika dia sudah menjalani pemeriksaan menyeluruh. Masalahnya saat ini dia tidak ingin melakukan itu.” Balas Lian sedih.


Alan pun akhirnya hanya diam saja karena dia tidak tahu lagi harus bagaimana menguatkan tuannya itu karena dia tahu tidak ada yang salah di antara mereka. Tuannya sangat mengkhawatirkan istrinya sementara nyonyanya mengkhawatirkan keselamatan kedua anak mereka.


“Ahhh Alan aku harus bagaimana?” teriak Lian frustasi.


Tiba-tiba, “Tenang boy, kita akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istrimu dan juga anakmu.” Ucap Faris masuk dan mendengar teriakan frustasi sahabatnya.


Lian yang melihat kedatangan sahabatnya pun hanya menatap Faris sekilas, “Kau tahu darimana?” tanya Lian.


“Apa itu penting? Saat ini lebih baik kita memikirkan apa yang akan di lakukan untuk kedepannya.” Ucap Faris langsung duduk ke sofa dalam ruangan itu.


“Aku sudah melakukan itu tapi dia,,” ucap Lian tidak melanjutkan perkataannya lalu segera duduk di sofa depan sahabatnya itu.


Faris pun hanya diam lalu mengambil dokumen yang ada di tangan Lian kemudian membacanya, “Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah mendukung keputusannya. Ingat kau harus lebih kuat darinya. Kau itu suaminya! Jangan sampai terlihat lemah di hadapannya. Aku yakin istrimu itu wanita yang kuat.” Ucap Faris.

__ADS_1


Lian pun hanya menatap sahabatnya itu.


__ADS_2