
“Jika sekali saja kau mengatakan tidak menginginkannya aku bisa mengabulkan perkataanmu. Jadi apa keputusanmu masih sama?” tanya Lian.
“Hahah,, keputusanku tetap masih saja kak. Aku tidak di ajari untuk mengambil sesuatu yang bukan milikku.” Jawab Zea.
“Aku milikmu Zea, selamanya milikmu. Kata siapa aku milik orang lain. Ayo kita lari dan pergi dari sini.” Ajak Lian.
“Kak, aku tahu kau laki-laki yang baik untuk itulah aku mencintaimu hanya saja di saat sama aku harus mengalami patah hati tapi aku tetap bangga cinta pertamaku adalah pria yang baik dan bertanggup jawab. Jadi jangan mengajakku melakukan hal ini, jangan pernah mengubah penilaianku padamu kak. Aku ingin menyimpanmu dalam memoriku sebagai laki-laki bertanggung jawab bukan sebagai laki-laki brengsek yang meninggalkan tunangannya saat hari pertunangan. Aku memang mencintaimu tapi kita hanya di takdirkan untuk menjadi kakak dan adik ipar.” Ucap Zea lembut dan tersenyum walau saat ini hatinya sedang menangis.
Lian pun tersentuh dengan ucapan gadis yang dia cintai itu, “Baiklah jika memang itu maumu, aku akan melakukannya. Aku akan menerimanya sebagai tunanganku. Aku akan mencoba mencintainya walau itu sulit tapi aku akan berusaha. Aku harap kau juga bahagia dan menemukan seseorang yang bisa kau cintai dan juga mencintaimu.” Ucap Lian akhirnya.
__ADS_1
Zea yang mendengar itu bahagia walau di sisi lain hatinya terasa sakit mendengar perkataan itu tapi inilah yang terbaik, “Aku bangga padamu kak. Selamat tinggal.” Ucap Zea lalu segera pergi dari sana karena jika tidak maka di pastikan dia tidak akan bisa menahan air matanya lebih lama lagi.
“Hatimu terbuat dari apa Zea? Apa aku harus menerima ini? Aku hanya takut tidak bisa menepati janji yang telah ku buat untukmu.” Gumam Lian sambil melihat punggung wanita yang dia cintai yang sudah menghilang di balik tembok.
Sementara di sisi lain tanpa mereka sadari ada yang melihat hal itu.
***
“Dek, tolong yaa kakak minta bantuanmu untuk memandikan Zayyan dan Zayyah.” Pinta Zia kepada adiknya.
__ADS_1
Zea pun tersenyum, “Okay kak.” Jawabnya lalu segera menuju kamar kedua keponakan kembarnya itu dan segera memandikan keponakanya lalu dia juga membantu kedua keponakannya itu untuk memakai pakaian mereka.
“Terima kasih dek.” Ucap Zia karena melihat kedua anaknya sudah siap.
“Ya sudah kalau begitu ayo sana kau juga siap-siap, Rasti sudah menunggumu. Ohiya gaunmu ada di kamarmu, Rasti sudah mengirimnya dan kakak meletakkannya di sana.” Ucap Zia.
Zea pun mengangguk dan segera menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah dia membersihkan dirinya dia kaget karena sudah ada beberapa orang yang menunggunya, “Nona kami di perintahkan oleh nona Rasti untuk mempercantik anda karena nona Rasti ingin bridesmaidnya tambah cantik.” Jawab tukang make up itu.
Zea pun hanya mengangguk karena percuma dia menolak mereka sudah di sini, dia pun hanya bisa menurutinya. Sekitar satu jam mereka melakukan make up padanya dan kini mereka membantunya memakai gaunnya. Zea pun menatap gaun itu dengan seksama dan dia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan gaun itu, “Kok beda?” gumam Zea, dia merasa bahwa gaun itu lebih mewah dari yang di cobanya.
__ADS_1
“Apa gaun ini sudah benar?” tanyanya.