
“Nona, tuan ayo lebih baik kita segera melihat pakaian kalian. Ingin yang akad dulu atau resepsi?” tanya Rina.
“Kami ingin melihat keduanya.” Ucap Faris.
“Baik tuan, tunggu sebentar.” Ucap Rina lalu segera berlalu mengambilkan pesanan Faris dan Rasti.
“Apa dia juga yang melayanimu fitting waktu itu?” tanya Faris menatap Rasti.
Rasti pun menoleh kepada Faris lalu mengangguk, “Iya, dia yang melayaniku dan Zea waktu itu. Dia juga orang yang membantuku menjalankan rencanaku terkait gaun pertunangan Zea.” Jawab Rasti.
__ADS_1
“Emm,, aku ingin bertanya kenapa kau tidak melanjutkan pertunanganmu dengan Lian. Bukankah dia tampan dan mapan bahkan mungkin lebih mapan dariku. Apa kau tidak memiliki perasaan sama sekali padanya?” tanya Faris karena dia memang belum mengetahui seluk beluk hal ini.
Rasti pun tersenyum, “Gak, aku gak menyukainya. Aku dan tuan Lian bertemu hanya dua kali dan itu pun pertemuan kami tidak pernah berdua, aku selalu pergi bersama Zea dan dia selalu datang bersama asistennya dan kami selalu makan berempat. Awal pertemuan kami aku sempat tertarik padanya dan menurutku dia adalah tipe calon suamiku karena dia mirip dengan kakak yang memiliki sifat dingin dan saat itu juga aku belum menyadari bahwa dia menyukai adikku.Tapi saat pertemuan kedua kami, aku akhirnya menyadarinya bahwa dia bukan tidak bisa menyukaiku hanya saja sudah ada wanita yang dia cintai. Aku menyadarinya karena dia hanya memandangi Zea saat dari awal kami tiba sampai pulang padahal Zea saat itu hanya menunduk. Mereka bagaikan orang tidak saling kenal lalu akhirnya aku menyadari bahwa mereka saling mencintai saat wisuda Zea. Untung saja belum terlambat, aku belum menyukainya dan aku pun melakukan apa yang menurutku benar karena aku memang tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak mencintaiku. Selain itu juga aku tidak mungkin menyakiti adikku yang bahkan hanya diam merelakan pria yang dicintainya akan bertunangan denganku.” Jelas Rasti panjang lebar. Faris yang mendengarnya pun kagum dengan hubungan Zea dan Rasti yang saling merelakan dan dia juga bersyukur Rasti melakukan itu karena dengan begitu kini gadis itu sebentar lagi akan jadi miliknya.
“Aku mencintaimu.” Bisik Faris, Rasti pun hanya memandang calon suaminya itu lalu tersenyum.
***
Sementara di sisi Lian dan Zea, kini mereka sedang di rumah sakit karena Zea tiba-tiba pingsan dan untunglah segera di bawa ke rumah sakit karena jika tidak maka sesuatu akan terjadi pada mereka. Penyakit Zea juga sudah mulai mempengaruhi kandungannya, kandungannya sudah mulai melemah karena jantungnya yang memang sudah melemah.
__ADS_1
Lian yang di perusahaannya segera datang ke rumah sakit begitu George menelpon bahwa Zea di bawah ke rumah sakit.
“Apa ada yang sakit?” tanya Lian.
“Boo kau sudah menanyakan hal itu dari tadi. Apa kau tidak bosan mengatakannya, aku saja yang hanya mendengarnya bosan.” Jawab Zea.
Lian pun langsung memeluk istrinya itu, “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.” Ucap Lian yang sudah menangis.
Zea pun membalas pelukan suaminya itu, “Aku baik-baik saja boo. Kau jangan khawatirkan apapun.” Ucap Zea menenangkan sang suami walau di sisi lain dia juga takut jika dia harus pergi meninggal sang suami dan kedua anaknya yang bahkan mungkin tak bisa dia lihat.
__ADS_1