Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 50


__ADS_3

Keesokkan harinya, kini Rasti dan Zea sudah tiba di butik yang sudah menjadi langganan Celine untuk melakukan fitting. Mereka pun segera masuk ke dalam butik itu dan segera di sambut oleh karyawan yang ada di sana karena Celine memang sudah menjadi langganan mereka. Jadi tentu saja mereka sudah mengenal Rasti.


“Nona anda sudah tiba? Ayo masuk!!” ucap karyawan wanita.


“Terima kasih!” jawab Rasti. Zea pun hanya mengikuti kakaknya itu sambil melihat beberapa gaun di sana.


“Nyonya sudah mengatakan bahwa anda akan kesini dan kami sudah menyediakan beberapa gaun yang cocok untuk anda. Apa anda ingin segera mencobanya?” tanya karyawan wanita itu.


“Hmm,, boleh. Tapi apakah calon tunanganku sudah kesini mencoba pakaiannya?” tanya Rasti.


“Belum nona.” Jawab karyawan itu sambil menyuruh seseorang untuk membawakan beberapa gaun ke ruangan Rasti.


Rasti pun hanya mengangguk, “Jika dia datang segera layani dia dengan baik karena calon tunanganku itu sangat sibuk.” Pinta Rasti. Karyawan wanita itu pun hanya mengangguk.


Zea yang duduk di sofa yang ada di ruangan itu pun hanya bisa diam saja mendengarkan perkataan kakaknya yang menyebut Lian calon tunangannya. Ingin rasanya Zea berteriak bahwa saat ini hatinya sangat sakit mendengar hal itu tapi Zea sadar bahwa itulah kenyataannya. Dia bisa apa jika memang sudah begitu, dia hanya bisa mengikhlaskan orang yang dia cintai itu bersanding dengan kakaknya yang juga orang yang dia sayangi.


Baginya keluarga adalah nomor satu, berkorban begitu saja bukanlah sesuatu yang sulit.


“Nona, silahkan lihat yang anda sukai.” Ucap karyawan wanita itu kepada Rasti begitu beberapa gaun ada di hadapannya.


“Dek, kau suka yang mana?” tanya Rasti memandang Zea.


Zea pun segera berdiri mendekati kakaknya itu, “Hmm,, kakak pilih saja yang kakak sukai karena Zea gak begitu tahu tentang fashion.” Jawab Zea jujur sambil tersenyum.


“Gak, kau harus memilih lebih dulu karena kau itu bridesmaidku. Aku ingin kau mengenakan gaun yang sama denganku saat pertunanganku. Jadi kau harus memilihnya.” Ucap Rasti.


“Kak!” ucap Zea menatap Rasti.


“Ah, baiklah. Hmm,, gaun mana yang paling cantik dan mewah yang ada di sini? Aku ingin mencobanya.” Ucap Rasti.


“Gaun yang ada di sini adalah gaun andalan kami nona dan ini adalah gaun yang baru saja di buat.” Ucap Karyawan itu.


Rasti pun mengangguk, “Baiklah kalau begitu aku ingin mencoba yang ini.” ucap Rasti segera memilih gaun yang baru saja di buat itu.


Karyawan itu pun mengambilkannya, Rasti pun segera ke ruang ganti dan memakainya. Tidak lama kemudian dia keluar, “Dek, bagaimana menurutmu?” tanya Rasti kepada Zea.

__ADS_1


Zea pun terpaku melihat Rasti, “Kak, kau sangat cantik mengenakannya. Itu sangat cocok untukmu.” Ucap Zea dengan mata berbinar.


“Benarkah?” tanya Rasti dan Zea pun hanya mengangguk.


“Hmm,, baiklah aku memilih ini. Zea kau pilihlah gaun yang ingin kau pakai. Kau tidak bisa menolaknya.” Ucap Rasti.


“Ah, gak lebih baik kau coba saja dulu gaun ini juga. Aku juga ingin melihatmu memakainya.” Ucap Rasti lalu segera menarik Zea untuk memakai gaun yang di kenakannya.


Zea pun hanya bisa menurut. Tidak lama kemudian, “Kak!” panggil Zea.


Rasti pun melihat Zea lalu tersenyum dengan kagum, “Kau sangat cantik memakainya. Ini terlihat lebih cocok di tubuhmu.” Ucap Rasti.


“Kak, ini berat!! Aku tidak ingin memakai pakaian seperti ini. Lagian ini adalah pertunanganmu, aku hanya bridesmaid jadi aku akan memilih gaun yang lebih sederhana. Aku tidak cocok memakai gaun seperti ini.” ucap Zea.


“No, sudah ku katakan bahwa kau tidak boleh menolaknya. Aku ingin kalian mengukur badannya dan aku ingin gaun satu lagi dan sama dengan gaun itu.” Ucap Rasti kepada karyawan wanita itu.


“Baik nona.” Jawab karyawan itu.


“Kakak!” mohon Zea tapi Rasti langsung menggeleng. Mau tidak mau pun Zea lagi-lagi hanya bisa menurutinya. Dia pun segera melepaskan gaun itu.


Sedangkan karyawan wanita itu segera mengukur badan Zea setelah dia selesai melepas gaunnya.


***


Sementara di luar butik, “Tuan, anda tidak akan masuk?” tanya Alan karena tuannya itu tidak masuk juga padahal sudah sekitar 15 menit mereka di sana.


“Nanti setelah dia keluar, aku belum siap untuk bertemu dengannya.” Jawab Lian lemah.


Alan pun hanya mengangguk mengerti, tiba-tiba dia melihat, “Tuan!!” panggil Alan.


“Hmm,, kenapa?” tanya Lian membuka matanya.


“I-itu,,” tunjuk Alan keluar.


Lian pun melihat ke arah yang di tunjuk oleh asistennya itu, “Huh,, dia juga datang menemani calon tunanganku melakukan fitting? Apa hatinya terbuat dari besi Alan hingga begitu tegar melihat orang yang dia cintai bertunangan dengan orang lain?” tanya Lian tertawa.

__ADS_1


“Apa aku harus melepaskannya Alan? Sungguh, hatiku sangat sakit melihatnya.” Ucap Lian lagi.


Alan pun hanya bisa diam mendengarkan tuannya itu.


Sementara di sisi lain, Zea saat akan masuk ke mobil dia merasa bahwa Lian ada di sini, dia pun melihat sekitar, “Ada apa dek?” tanya Rasti.


“Ah, gak ada kok kak.” Ucap Zea.


“Ya sudah ayo masuk. Bukankah kamu hari ini akan mengambil surat izin pratikmu?” ucap Rasti.


Zea pun hanya bisa mengangguk dan segera masuk. Rasti pun segera melajukan mobilnya begitu Zea masuk, “Aku yakin kak Lian ada di sana tadi.” Ucap Zea dalam hati.


Sementara Lian yang melihat mobil yang membawa calon tunangannya dan orang yang di cintainya itu pergi hanya bisa menghela nafas, “Ayo Alan kita masuk. Segera selesaikan ini.” ucap Lian segera keluar dan masuk ke dalam butik melakukan fitting.


***


“Tuan, ada yang ingin menemui anda.” Bisik asisten yang selalu menemani George.


“Siapa?” tanya George.


“Dia,,” ucap asistennya itu.


“Ouh, kalau begitu segera temui dia.” Ucap George segera keluar begitu mengetahui siapa yang ingin menemuinya.


“Tuan!!” sapanya.


“Duduklah.” Ucap George.


Orang itu segera duduk di hadapan George, “Bagaimana?” tanya George.


“Semuanya sudah berjalan sesuai rencana.” Jawabnya.


“Baguslah. Aku harap semuanya tidak akan ada kendala nanti.” Ucap George tersenyum.


“Terima kasih sudah menyetujui keinginan saya.” ucapnya.

__ADS_1


“Aku yang harus mengucapkan terima kasih padamu karena jika tidak ada dirimu aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Jawab George.


Orang itu pun tersenyum lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka untuk rencana selanjutnya. Setelah selesai orang itu pun segera berlalu pergi.


__ADS_2