Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 116


__ADS_3

Lian pun hanya menatap sahabatnya itu.


“Tenang bro, aku tidak akan merebutnya darimu karena aku sudah memiliki calon istri yang tidak kalah cantik dan paket sempurna dari istrimu. Jadi hentikan tatapanmu itu.” Ucap Faris begitu menyadari tatapan kecemburuan di mata sahabatnya itu.


“Syukurlah deh jika kau tahu diri.” Balas Lian lalu menutup matanya.


“Dasar bucin tidak tahu tempat.” Gumam Faris yang masih bisa di dengar oleh Lian.


“Aku masih bisa mendengarnya. Jangan memakiku.” Balas Lian.


“Hehheh,, sudahlah jangan pikirkan itu. Aku kesini hanya ingin melihatmu! Jangan sedih lagi.” Ucap Faris perhatian.


Lian yang mendengar perhatian dari laki-laki itu menjadi bergidik ngeri, “Ouh dasar! Aku ini masih normal boy.” Maki Faris begitu menyadari tatapan sahabatnya.


“Ahh syukurlah!” ucap Lian sambil mengelus dadanya.


“Ah lebih baik aku pulang saja karena sepertinya semuanya sudah kau persiapkan dan sudah tidak ada yang bisa aku bantu. Lebih baik aku fokus saja untuk kesembuhanku. Boy aku pamit yaa!!” ucap Faris pamit lalu dia pun segera berdiri.


Lian yang melihat sang sahabat berdiri dia pun segera berdiri, “Apa kau datang kesini hanya untuk itu?” tanya Lian.

__ADS_1


Faris pun mengangguk, “Memangnya untuk apa lagi? Aku hanya ingin memastikan sahabatku ini masih baik-baik saja atau tidak.” Ucap Faris.


“Dasar kau! Apa kau menyumpahiku?” ucap Lian lalu tanpa sengaja dia memukul tangan kanan Faris yang terluka.


“Aw sakit boy! Apa kau ingin membunuhku?” tanya Faris menatap Lian tajam lalu mengelus lengannya yang kembali terasa nyeri.


“Ouh maaf bro. Aku lupa tanganmu masih terluka!” ucap Lian.


“Huh! Untung kau sahabatku jika tidak sudah kulempar kau dari sini.” Balas Faris.


“Hehhehh maaf yaa bro. Apa masih sakit?” tanya Lian.


Lian yang melihat kepergian sahabatnya pun hanya bisa tertawa, “Wa’alaikumsalam. Terima kasih sudah datang bro setidaknya kedatanganmu membuatku sedikit melupakan masalahku.” Ucap Lian lalu segera kembali ke kursi kebesarannya.


“Alan, apa ada rapat yang harus aku hadiri hari ini?” tanya Lian menatap asistennya itu yang dari tadi hanya diam saja mengamati pertengkarannya dengan Faris.


Alan yang di panggil tiba-tiba pun menjadi kaget, “Ahh gak ada tuan.” Jawab Alan.


Lian pun hanya mengangguk lalu kembali memfokuskan dirinya ke dokumen di hadapannya karena jujur saja dia tidak bisa fokus memikirkan kesehatan sang istri.

__ADS_1


***


Sementara di rumah Zia dia yang memang tidak pergi ke klinik hari ini pun hanya menghabiskan waktunya dengan si kembar yang sedang aktif-aktifnya dan juga si bungsu yang sudah bisa telungkup kesana kemari. Selain itu juga dia pusing memikirkan kesehatan adiknya.


“Bunda!” panggil Zayyah sambil menarik baju Zia.


Zia pun segera menatap putrinya itu, “Ada apa sayang? Apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Zia.


“Bunda kenapa? Apa bunda sedih?” tanya Zayyah balik.


Zia pun tersenyum, “Bunda gak kenapa-kenapa kok sayang. Bunda baik-baik aja.” Balas Zia.


“Lalu kenapa bunda seperti melamun?” tanya Zayyah lagi.


“Bunda hanya sedang,,” ucap Zia terpotong.


“Bunda! Adik pup!” teriak putra sulungnya.


Zia pun akhirnya tidak melanjutkan perkataanya lalu langsung segera mendekati putra bungsunya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan putranya itu. Tidak lama dia keluar dari kamar mandi bersamaan dengan bunyi pesan dari handphonenya.

__ADS_1


“Siapa sih yang mengirim pesan iseng begini?” tanya Zia setelah membaca pesan itu lalu dia segera melempar ponselnya ke ranjang dan segera menggantikan baju sang putra.


__ADS_2