
“Tapi,,”
“Aku mohon kakak! Setidaknya sampai kakak menemukan tempat tinggal.” ucap Rasti.
“Kakak hanya tidak ingin membebanimu dek.” Ucap Zia.
“Kakak gak membebaniku kok, mau ya kak? Jika memang kakak gak mau, setidaknya lakukan ini untuk anak dalam kandungan kakak.” Ucap Rasti.
“Hmm,, baiklah.” Ucap Zia setelah berpikir lama.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat ke rumahku.” Ucap Rasti menggandeng Zia kedalam mobil.
“Rumahmu? Apa orang tuamu gak akan terganggu. Kakak gak ingin mengganggumu dek.” Ucap Zia begitu mereka kedalam mobil.
“Ah, baiklah jika begitu kita ke vila saja.” Ucap Rasti setelah berpikir.
“Vila? Apa kamu punya vila?” tanya Zia.
“Sebenarnya itu vila keluargaku kak. Tapi vila itu terletak dipedalaman, apa gak apa-apa? Tapi kakak tenang saja di vila itu ada paman dan bibi yang tinggal disana. Jadi kakak gak akan sendirian.” Ucap Rasti.
“Kakak suka kok berada dipedalaman. Itu jauh lebih baik.” ucap Zia.
“Ya sudah jika begitu kita ke vila saja.” Ucap Rasti segera melajukan mobilnya menuju vila.
***
Kurang lebih berkendara sekitar 1 jam akhirnya mereka tiba di vila dimana dikelilingi dengan kebun teh di sekelilingnya.
“Ayo kak, kita masuk!” ajak Rasti.
“Apa gak apa-apa kakak disini? Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Zia.
“Kakak tenang saja. Okay?” ucap Rasti.
Tiba-tiba ada yang datang seorang laki-laki mungkin umurnya sudah sekitar 50-an ke atas.
“Ee,, nona muda! Kenapa kembali lagi. Apa ada yang ketinggalan?” ucap Ammar.
“Ouh gak ada kok paman. Gak ada yang ketinggalan. Ohiya apa bibi ada didalam?” tanya Rasti.
“Ada nona.” Jawab Ammar.
“Ouh, baiklah. Kalau begitu Ati masuk dulu. Ah, ohiya paman, paman juga ikut masuk. Aty mau bicara.” Ucap Rasti segera masuk kedalam vila diikuti oleh Zia dan Ammar dari belakang.
“Eehh,, non! Apa ada yang ketinggalan?” tanya Hanifa karena melihat anak majikannya itu kembali lagi.
“Gak ada kok bi. Ohiya kak, kakak duduk dulu.” Ucap Rasti sambil menghadap Zia yang dibelakangnya.
__ADS_1
“Ohiya, paman bibi. Perkenalkan ini kak Zia temanku. Kak Zia ini paman Ammar dan Istrinya bibi Hanifa mereka yang mengurus vila disini.” Ucap Rasti dan Zia hanya menunduk hormat kepada kedua orang tua paru baya dihadapannya.
“Paman bibi, kak Zia akan tinggal disini bersama kalian. Boleh kan?” tanya Rasti.
“Tentu saja non, kami senang ada yang tinggal dengan kami disini.” Ucap Hanifa dan diangguki oleh Ammar.
“Kalau begitu, ayo kak. Aku antar kau kekamarmu. Ohiya apa kamarnya sudah siap bi?” Tanya Rasti.
“Sudah non.” Ucap Hanifa.
“Makasih bi.” Ucap Rasti. Zia pun mengikuti Rasti dari belakang.
“Dek, apa gak masalah kakak tinggal disini?” tanya Zia begitu mereka tiba dikamar.
“Kak, kau sudah menanyakan itu berkali-kali dan jawabannya tetap sama yaitu gak masalah.” Ucap Rasti menatap Zia dalam.
“Makasih dek.” Ucap Zia tulus.
Sementara diluar,
“Siapa itu ya bu?” tanya Ammar.
“Ibu juga gak tahu pak.” Jawab Hanifa.
“Tapi sepertinya gadis itu sangat sopan. Dia juga berhijab.” Ucap Ammar.
“Paman bibi aku titip kak Zia ya. Kak Zia aku pasti akan mengunjungimu tiap akhir pekan.” Ucap Rasti.
“Dek, kakak boleh bicara?” tanya Zia pelan.
“Bicaralah kak!” ucap Rasti.
“Ka-kakak,,” ucap Zia gugup.
“Ada apa kak?” tanya Rasti.
“Kakak akan menceritakan semuanya padamu kepada paman dan bibi juga, nanti setelah itu kalian bisa memutuskan menerima Zia tinggal disini atau tidak. Zia akan menerima keputusan kalian dengan senang hati.” Ucap Zia berusaha meyakinkan hatinya agar bisa menceritakan semuanya.
“Kak, kau bisa tinggal disini tanpa harus mengatakan apapun. Aku tahu kau orang baik. Aku tidak ingin memaksamu mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin kau ingat.” ucap Rasti segera memeluk Zia.
“Tapi kakak gak bisa menutupi sesuatu hanya untuk mendapat belas kasih dek. Jadi kamu jangan merasa khawatir.” Ucap Zia.
Sementara Ammar dan Hanifa yang melihat itu bingung karena mereka mengetahui bahwa putri majikan mereka itu baru saja kembali lalu tiba-tiba dia membawa seorang teman yang dipanggilnya kakak.
“Paman bibi, Zia akan menceritakan semuanya. Zia tidak ingin memulai kehidupan dengan kebohongan.” Ucap Zia.
Zia pun menceritakan semuanya kepada mereka tanpa ada yang terlewati, Rasti yang mendengarnya pun menangis sambil memeluk Zia erat karena dia tidak membayangkan bahwa itu terjadi pada wanita tulus seperti Zia. Sementara Hanifa dan Ammar pun ikut sedih mendengarnya karena mereka tidak menyangka masih ada seorang gadis yang kuat melewati cobaan seberat itu. Hanifa yang juga seorang ibu ikut sedih dan memeluk Zia untuk menguatkannya.
__ADS_1
“Zia gak apa-apa bi. Zia baik-baik aja kok. Sekarang kalian harus memutuskan mau menerima Zia tinggal disini atau tidak karena Zia tidak ingin kalian menanggung malu untuk Zia.” Ucap Zia setelah menghapus airmata yang tetap jatuh dipipinya padahal sudah berusaha dia tahan.
“Kami pasti menerimamu tinggal disini nak. Kau tenang saja kami akan melindungimu. Kami akan menganggap kamu anak kami. Begitu kan pa?” Tanya Hanifa dan diangguki oleh suaminya itu.
“Makasih paman, bibi sudah menerimaku disini.” Ucap Zia tulus.
“Dek, apa kamu akan pulang?” tanya Zia kepada Rasti yang daritadi memeluknya.
“Kak, ayo kita cari laki-laki bajingan itu.” Ucap Rasti berapi-api.
Zia hanya tersenyum, “Sudahlah, mungkin ini memang takdir kakak. Kakak ingin berdamai dengan takdir dek.” Ucap Zia tersenyum.
“Ah, kakak kau memiliki hati malaikat. Aku mengagumimu!” ucap Rasti memeluk Zia lagi.
Tiba-tiba Zia jadi mengingat Zea karena adiknya itu selalu mengatakan itu padanya. Tiba-tiba dia meneteskan airmata.
“Ada apa kak? Apa kakak sakit? Apa pelukanku terlalu erat?” tanya Rasti khawatir melihat Zia meneteskan airmata.
“Gak kok dek, kamu hanya mengingatkan kakak pada adik kakak saja.” Ucap Zia.
“Apa kakak punya adik juga?” tanya Rasti.
“Iya, kakak punya adik perempuan sekarang usianya mau 22 tahun.” Ucap Zia.
“Ah, pasti dia sangat bahagia memiliki kakak seperti kakak.” Ucap Rasti dan Zia hanya tersenyum.
Mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka sampai Rasti pamit pergi.
“Paman bibi, Ati titip kakak ya. Ohiya kak, ini nomor ponselku.” Ucap Rasti.
“Kakak bisa menelponku kapan saja.” Sambungnya.
Zia pun hanya tersenyum, “Makasih dek!” ucap Zia memeluk gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu. Rasti pun membalas pelukan Zia dengan erat karena dia sangat bahagia karena bisa merasakan pelukan dari seorang kakak perempuan karena selama ini dia kesepian. Rasti pun segera pulang karena maminya sudah menelponnya.
Sepuluh hari berlalu dengan cepat, Zia pun hidup dengan Hanifa dan Ammar di vila itu dengan identitas sebagai anak angkat dari Hanifa dan Ammar yang ditinggal mati oleh suaminya dan untunglah semua pekerja dikebun teh itu juga ikut menyayangi Zia.
Zia pun membuat usaha kecil-kecilan disana yaitu membuat keripik singkong dengan beraneka rasa dengan memanfaatkan singkong yang ada dibelakang vila itu. Dia menggunakan sisa uangnya sebagai modal dan untunglah para pekerja disana sangat menyukai camilan yang dibuat oleh Zia.
Kehidupan Zia pun kembali lebih berwarna di vila itu karena dia tetap merasa memiliki keluarga utuh walau terkadang dia merindukan keluarga kandungannya. Rasti pun menepati janjinya untuk menemani Zia akhir pekan dan tentu saja usaha yang dibuat Zia disetujui oleh Rasti bahkan dia mempostingnya disosmednya.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻