
“Zea! Aku mencintaimu!” Teriak Lian.
Zea pun dengan cepat mengerem motornya mendengar teriakan Lian yang dimana sudah membuat beberapa orang memandang ke arah mereka. Lian yang melihat Zea menghentikan motornya segera berlari mendekati Zea.
“Kak, apa yang kamu katakan? Jangan bercanda hal yang seperti itu kak.” Ucap Zea begitu Lian sudah ada di dekatnya.
“Aku gak bercanda, aku sungguh mencintaimu Zea.” Ucap Lian sungguh-sungguh.
Zea pun diam lalu menatap dalam Lian untuk mencari kebohongan di sana tapi tidak dia temukan, “Kak, aku anggap hal ini tidak pernah terjadi. Jangan lakukan ini lagi.” Ucap Zea lalu segera melajukan motornya meninggalkan Lian berdiri di sana.
Lian pun hanya bisa menghela nafasnya karena dia sudah menduga bahwa gadis itu tidak akan percaya perasaannya tapi Lian juga bertekad akan meyakinkan gadis itu bagaimanapun caranya.
***
Seminggu berlalu, “Hans, bagaimana? Apa mereka ingin menjualnya?” tanya Pras.
“Maaf tuan. Rumah sakit itu adalah rumah sakit terbesar di kota ini dan mereka tidak ingin menjualnya.” Jelas Hans.
“Sepertinya memang sulit. Baiklah jika begitu lebih baik aku membuat rumah sakit sendiri.” Ucap Pras kemudian.
“Hans kamu carilah lokasi yang strategis untuk membangun rumah sakit untuk istriku.” Ucap Pras.
Hans pun hanya bisa mengangguk, “Tuan sebelum anda membeli dan mencari lokasi saya ingin memberikan ini.” ucap Hans menyerahkan dokumen.
Pras pun segera melihatnya, “Ouh jadi mereka ingin menjual saham mereka padaku?” tanya Pras. Hans pun mengangguk, “Baiklah jika begitu belilah, jika aku tidak bisa menjadi pemilik rumah sakit itu maka setidaknya aku menjadi pemegang saham tertinggi.” Ucap Pras tersenyum.
Hans pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tuannya tersenyum, “Jadi apa tuan tetap ingin mencari lokasi?” tanya Hans.
“Tentu saja. Aku akan membuat rumah sakit sendiri atas nama istriku.” Ucap Pras tersenyum.
“Rumah sakit? Apa yang kalian bicarakan?” tanya Zia masuk tiba-tiba ke ruangan Pras.
“Eee sebelumnya Assalamu’alaikum.” Salam Zia lalu menyalami tangan suaminya dan meletakkan kotak makan siang untuk suaminya.
__ADS_1
“Apa yang kalian bicarakan? Rumah sakit?” tanya Zia lagi.
Hans dan Pras pun hanya saling memandang, “Hmm,, gak ada kok baby.” Jawab Pras berbohong.
“Kamu membohongiku. Kak Hans apa yang diperintahkan oleh tuanmu ini kepadamu?” tanya Zia menatap asisten suaminya itu.
Hans pun terdiam karena takut salah bicara dan melihat tatapan tajam dari tuannya, “Honey, jangan menatap asistenmu seperti itu.” Ucap Zia tanpa melihat suaminya.
Pras pun hanya bisa menghela nafasnya, “Kak Hans apa kau tidak bisa bicara?” tanya Zia tajam.
“Ee,, bisa nyonya.” Jawab Hans gugup, pasalnya ini adalah kali pertama dia melihat Zia bersikap serius.
“Honey, katakan kau ingin membuat apa?” tanya Zia segera menatap suaminya.
Pras pun akhirnya tidak bisa mengelak lagi diapun segera menjelaskan semuanya kepada Zia, “Ouh suamiku, kau ingin membuat rumah sakit hanya karena rumah sakit tempatku bekerja tidak ingin menjualnya padamu?” tanya Zia tidak percaya.
Pras pun mengangguk, “Suamiku saat kita membuat sesuatu harus di dasari ketulusan bukan karena ingin bersaing. Apa lagi ini adalah sebuah rumah sakit tempat dimana orang-orang yang membutuhkan pertolongan datang. Jadi kita harus membuatnya dengan ketulusan.” Jelas Zia.
Zia pun hanya tertawa melihat suaminya seperti itu, “Kau sangat lucu suamiku. Kak Hans carikan saja lokasi seperti yang suamiku katakan tapi aku tidak ingin membuat rumah sakit di sana tapi aku ingin membuat klinik di sana. Apa boleh suamiku?” izin Zia.
Pras pun segera mengangguk menyetujui, “Terserah padamu istriku. Aku akan melakukan apapun untukmu.” Ucap Pras bersemangat.
“Terima kasih honey sudah berencana membuatkan rumah skait untukku tapi aku tidak ingin memiliki rumah sakit sendiri. Bagiku klinik sendiri sudah cukup, yang terpenting tujuan kita membuat itu untuk kebaikan.” Ucap Zia.
Pras pun mengangguk menyetujui, “Kamu memang hebat istriku.” Ucap Pras segera mengecup kening istrinya. Hans yang melihat itu pun hanya diam saja karena dia sudah terbiasa dengan pemandangan itu.
Akhirnya mereka pun makan siang bersama, Hans juga ikut bergabung dengan mereka atas permintaan Zia.
***
Sementara di sisi lain, Zea selalu menghindari Lian sejak Lian mengatakan mencintainya seminggu yang lalu. Entah kenapa Zea melakukan itu hanya saja dia seperti merasa tidak nyaman akan hal itu tapi di sisi lain dia juga merindukan sosok itu. Zea tidak mengerti akan perasaannya.
Lian pun tetap tidak menyerah mengikuti Zea walau selalu di hindari seperti saat ini tidak sengaja mereka ketemu di restoran. Zea yang melihat Lian ada di sana beserta para koleganya pun menjadi enggan masuk tapi karena dia datang bersama teman-temannya maka dia tetap masuk.
__ADS_1
Lian yang menyadari keberadaan Zea pun terus memandangnya, Zea juga menyadari tatapan itu menjadi merasa risih. Akhirnya dia meminta izin ke kamar mandi.
“Huh, kenapa harus ketemu dengannya sih? Zea ada apa denganmu? Anggap saja tidak ada yang terjadi? Kenapa kamu selalu memikirkan perkataannya? Bukankah kamu menyuruhnya melupakan kejadian itu” gumam Zea.
Zea pun segera keluar dari kamar mandi, “Tunggu, kenapa kau menghindari saya?” tahan seseorang.
Zea pun segera memandang orang yang menahannya yang sudah dipastikan bahwa itu adalah orang yang ingin di hindarinya, “Tuan Lian, anda ada di sini?” tanya Zea pura-pura.
“Jangan pura-pura dek, kamu tahu kan saya ada di sini. Jawab kenapa kamu menghindari kakak? Apa karena masalah seminggu yang lalu?” tanya Lian menatap Zea dalam, ingin rasanya dia memeluk gadis di hadapannya itu karena telah membuatnya merindukan gadis itu selama seminggu ini. Tapi tak dia lakukan karena dia tidak ingin gadis itu makin membencinya.
“Tuan lepaskan tangan saya. Saya tidak ingin ada gosip yang nanti akan menimpa anda. Dan saya tidak menghindari anda, saya hanya sibuk saja dengan proposal.” Ucap Zea menunduk karena dia berbohong.
Lian pun segera melepas lengan Zea yang di pegangnya dari tadi lalu melihat Zea yang menunduk. Dia tahu gadis itu sedang berbohong, “Baiklah jika memang kau sibuk tapi ingatlah bahwa saya tidak akan menyerah sampai kau menjawab perasaan saya. Satu lagi saya akan pastikan kau menjawab perasaan saya. Selain itu juga saya tidak peduli dengan gosip yang beredar.” ucap Lian lalu pergi.
Zea pun hanya menatap kepergian Lian, “Maaf kak, aku takut jika perasaanku ini akan menjadi beban untukmu. Kau pantas mendapatkan gadis lain yang lebih baik dariku.” Gumam Zea meneteskan air mata. Cepat-cepat Zea segera menghapus air matanya dan segera kembali ke tempat bersama teman-temannya dan melihat sekeliling yang ternyata sudah tidak ada Lian di sana. Zea pun hanya bisa menghela nafasnya.
Sementara dari sudut lain, “Kau mencariku dek. Kenapa sulit membuatmu mengakui bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama untukku.” Gumam Lian.
Yah Zea sudah menyadari perasaannya kepada Lian tapi sekuat hati dia menyembunyikannya karena dia tahu level keluarga mereka berbeda. Walau dia memiliki kakak ipar yang sama-sama pengusaha tapi dia tetaplah berasal dari keluarga yang sederhana.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😉
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh
🙏🏻😁🥺
__ADS_1