Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 108


__ADS_3

Zia yang mendengar penuturan sang adik segera mendekati Zea, “Maaf!” ucap Zia.


Zea yang mendengar sang kakak meminta maaf segera melepas pelukan sang suami dan menatap sang kakak, “Kak kenapa kau minta maaf. Aku tahu kau pasti tidak mungkin memintaku membunuh anakku sendiri hanya saja kau pasti terpaksa melakukan ini tapi aku mohon kak jangan mencoba menyuruhku melakukan itu lagi setidaknya sampai aku melahirkan mereka. Aku janji akan melakukan pengobatan apapun yang kalian inginkan tapi setelah kedua anakku lahir.” jawab Zea memeluk sang kakak erat.


“Tapi kau tahu kan resikonya?” tanya Zia.


Zea pun mengangguk, “Aku tahu semuanya kak tapi aku tidak akan pernah melakukan itu sampai aku melahirkan mereka. Aku tahu kehamilanku ini akan memburuk penyakitku tapi aku tidak akan pernah bisa membunuh mereka. Mereka anakku kak! Aku hanya butuh dukungan kalian. Aku mohon!” ucap Zea.


“Baiklah jika memang itu yang kau inginkan kita akan mencobanya tapi ingat jika penyakitmu semakin parah kita harus tetap melakukannya. Kakak tidak mau kehilanganmu dan kakak yakin semuanya tidak mau kehilanganmu terutama suamimu.” Ucap Zia memandang Lian yang mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan sang istri.


“Aku akan berusaha kak.” Jawab Zea tersenyum.


“Ya sudah kalau begitu kita tetap harus melakukan pemeriksaan tapi yang tidak akan membahayakan janinmu. Mau yaa? Jangan menolak.” Ucap Zia.

__ADS_1


Zea pun mengangguk dan mereka segera menuju ruangan yang sudah di sediakan untuk pemeriksaan Zea dan seperti kesepakatan mereka hanya melakukan pemeriksaan biasa saja karena Zea menolak pemeriksaan lebih mendalam. Begitupun obat yang diberikan dia tidak akan mengonsumsi obat yang akan membahayakan kandungannya dan semua keluarga menyetujuinya karena yang bisa mereka lakukan saat ini hanya bisa menyetujui dan mempercayai keputusan yang di ambil Zea walau di sisi lain mereka khawatir hal ini akan memburuk kesehatan Zea.


***


Ting


From : Tn. Faris


“Apa kabar calon istriku?”


“Ada apa? Kenapa kau memandang saya seperti itu?” tanya Rasti begitu menyadari tatapan sang asisten.


“Hehhehe,, gak ada kok bu bos.” Jawab Gaby cengesan.

__ADS_1


“Ya sudah sana kau pergi bekerja lagi.” Ucap Rasti. Yah, Rasti sudah masuk kerja lagi karena Faris sudah di rumahnya dan tangan Faris juga tinggal dalam masa penyembuhan dan sudah bisa di gerakkan walau masih tetap harus di jaga.


To : Tn. Faris


Saya baik-baik saja tuan. Sebaiknya tuan menjaga diri anda saja dengan baik dan cepatlah sembuh.


Rasti pun segera mengirimkan pesan itu dan tidak lama kemudian pesan kembali masuk.


From : Tn. Faris


“Kok tuan lagi? Bukan calon suami yaa? Emm,, tapi semuanya di maafkan karena kamu memberi perhatian dan mengisyaratkan untuk tidak sabar ku lamar dan ku nikahi, tenang saja aku akan cepat sembuh dan tanganku itu sudah bisa di gerakkan dan tenang saja aku pasti akan segera datang untung melamarmu ke rumah orang tuamu. Tunggulah yaa calon istri!”


Rasti pun segera membukanya dan seketika wajahnya memerah dan memeriksa kembali pesan sebelumnya, “Ahhh malunya!” teriak Rasti menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Ting


“Tenang saja calon istri jangan malu apalagi sampai wajahnya memerah. Ingat itu bukan janji tapi akan kubuktikan. Tunggu saja yaa! Miss you calon istri, selamat bekerja! Aku tidak akan mengganggu.” Pesan dari Faris muncul lagi.


__ADS_2