Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 54


__ADS_3

Sementara di sebuah ruangan ada seorang pria yang tetap masih saja berkutat dengan dokumen di hadapannya padahal besok sudah pertunangannya.


Drt,, drt,, drt,,


Suara dering ponsel Lian dan Alan yang bergantian dari tadi berdering tapi yang punya ponsel tidak berniat sama sekali mengangkatnya karena dia sudah tahu siapa itu yang menelponnya dan apa tujuannya.


“Tuan, kakek anda sudah menelpon berkali-kali.” Ucap Alan yang sudah bosan mendengar ponselnya berdering terus dari tadi.


“Biarkan saja. Dia pasti akan bosan sendiri.” Ucap Lian malas dan tetap fokus dengan dokumen di hadapannya.


Drt,, drt,, drt,,


Alan yang sudah bosan melihat ponsel berdering pun melihatnya, tiba-tiba dia kaget, “Tuan!” panggil Alan.


“Sudah biarkan saja.” Ucap Lian kesal.


“Tapi tuan i-ini,,” ucap Alan segera mengangkat ponsel tuannya yang berdering itu karena dia tidak ingin tuannya itu menyesal jika tidak mengangkatnya.


“Halo, Assalamu’alaikum nona Zea, apa ada yang bisa saya bantu.” Ucap Alan begitu dia mengangkat ponsel tuan mudanya.

__ADS_1


“Wassalamu’alaikum. Iya tuan Alan. Apa bisa saya bicara dengan tuan Lian tapi jika dia gak sibuk.” Ucap Zea.


Lian yang mendengar Alan menyebut nama Zea pun menghentikan pekerjaannya lalu mendengar suara karena dia tidak percaya dengan asistennya. Alan pun segera meloudspeaker ponsel tuannya itu agar bisa di dengar. Lian yang mendengar suara yang begitu dia rindukan segera mengambil ponsel dari tangan asistennya.


“Iya, ada apa Zea?” tanya Lian.


Lama tidak ada suara, Lian pun memastikan bahwa masih tersambung atau tidak, “Masih tersambung.” Gumam Lian.


“Zea, Zea, kau masih di sana kan?” tanya Lian.


“Hmm,, iya tuan Lian. Apa bisa tuan Lian datang ke hotel A sekarang?” tanya Zea setelah menetralkan perasaannya begitu mendengar suara Lian.


“Baiklah, kalau begitu aku tunggu.” Ucap Zea lalu segera mengakhiri panggilan teleponnya.


Lian pun segera mengambil jasnya dan memakainya lalu segera berlalu tanpa memedulikan lagi dokumen, “Hmm,, tuan bagaimana dengan dokumen ini?” tanya Alan menggoda tuannya.


“Alan kau kerjakan saja aku masih punya urusan.” Ucap Lian berlalu.


“Tadi gak mau sekarang langsung saja pergi begitu orang yang di cintai menelpon, memang cinta itu bisa mengubah segalanya.” Gumam Alan yang kini segera menyelesaikan dokumen yang ditinggalkan tuan mudanya.

__ADS_1


***


“Terimah kasih nak, sudah mau membantu kakek.” Ucap George menatap Zea.


Zea pun tersenyum, “Kakek gak usah berterima kasih.” Balas Zea lalu segera menyibukkan dirinya dengan beberapa persiapan akhir pertunangan Rasti dan Lian.


Kurang lebih 30 menit Lian sudah sampai di hotel A, tapi begitu dia sampai dia baru sadar bahwa hotel ini akan menjadi tempat pertunangannya. Tapi dia segera menghilangkan pikiran buruknya lalu segera menuju lantai 10 hotel itu sesuai dengan inbox Zea.


Begitu dia tiba, “Akhirnya kau datang juga.” Ucap George begitu melihat cucunya tiba.


Lian pun mengabaikan kakeknya, dia hanya mencari seseorang yang menyuruhnya datang kesini, “Siapa yang kau cari?” tanya George.


“Kakek, di mana dia?” tanya Lian menatap tajam kakeknya.


“Siapa maksudmu?” tanya George pura-pura tidak tahu.


“Kakek jangan main-main denganku, di mana dia? Kau tahu siapa yang aku bicarakan?” ucap Lian menahan emosinya.


“Dia sudah pulang.” Jawab George santai.

__ADS_1


Lian pun segera berbalik meninggalkan kakeknya tapi berhenti begitu mendengar, “Ingat, kau harus menepati janjimu jika kau tidak ingin ada yang terjadi padanya. Kamu tahu kakek tidak main-main.” Ucap George.


__ADS_2