Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 157


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa jam akhirnya kini Rasti dan rombongan tiba di tanah air yang sudah sebulan yang lalu dia tinggalkan. Rasti pun menghirup dalam-dalam udara kota kelahirannya ini, “Nona!” sapa sopir yang menjemputnya.


“Kita bertemu lagi pak!” balas Rasti tersenyum di balas senyuman oleh supir pribadinya itu.


“Kak, aku tunggu di mobil!” pamit Rasti kepada Faris yang sibuk dengan urusan jet pribadi. Faris pun tersenyum lalu mengangguk mengiyakan ucapan calon istrinya itu.


Rasti dan Shani serta beberapa bodyguard pun segera ikut Rasti keluar dan menuju mobil yang menjemput mereka.


Kurang lebih 30 menit akhirnya Faris pun selesai dengan urusannya dan kini sedang menuju mobil Rasti yang masih menunggunya. Faris tersenyum lalu segera masuk ke kursi di samping kemudi karena Rasti dan Shani sudah duduk bersama di bangku kedua. Lalu setelah memastikan semua sudah selesai mobil Rasti pun segera melaju menuju kediaman Mahendra.


***


Singkat cerita, kini mobil rombongan Rasti dan Faris sudah masuk kediaman Mahendra. Di sana sudah ada Celine, Andrew, Alice dan Gifari menyambut kedatangan mereka.


Rasti pun segera turun lalu tersenyum memandang ke empat orang itu. Setelah itu dia segera berlari kecil menuju pelukan Celine yang sudah merentangkan kedua tangannya menyambutnya, Rasti pun segera berhambur ke dalam pelukan sang mami, “Dasar anak nakal!” ucap Celine sambil air matanya menetes karena merindukan putrinya itu.

__ADS_1


“Maaf Mih!” balas Rasti lalu dia melepas pelukan maminya dan menatap sang papi.


“Kenapa lama pulangnya hah?” ucap Andrew, Rasti pun segera berhambur memeluk papinya itu.


“Maaf Pih.” Ucap Rasti lagi.


Setelah dia selesai memeluk kedua orang tuanya dia segera menatap kedua orang tua calon suaminya, “Maaf mami, papi!” ucap Rasti kepada keduanya.


Alice pun tersenyum lalu segera memeluk calon menantunya itu, “Gak apa-apa sayang, kami mengerti. Sekarang sudah puas kan jalan-jalannya?” tanya Alice.


Rasti yang mengenal siapa itu segera melepas pelukan Alice dan menatap siapa itu lalu tersenyum dan segera berlari ke arah orang itu yang sudah merentangkan tangannya menyambut pelukan Rasti, “Dasar nakal! Kenapa larinya lama.” Ucap orang itu mengelus kepala Rasti yang di tutupi hijab itu.


“Terima kasih kak Zia sudah mengirimnya menjemputku!” balas Rasti dalam pelukan Zia. Yah orang itu Zia dia dan suami ikut menyambut kedatangan Rasti.


“Tentu saja kakak harus mengirimnya jika tidak mungkin kau pulang tinggal kerangka!” ucap Zia. Perkataan Zia itu membuat orang di sana tertawa.

__ADS_1


“Kakak kau membuatku malu!” ucap Rasti menyembunyikan wajahnya dalam dada Zia.


“Sudah-sudah lebih baik kau lepaskan pelukanmu dari istriku!” ucap Pras sinis menatap adiknya itu yang masih memeluk Zia erat.


Rasti pun menatap sang kakak tidak kalah sinis, “Kakak ipar lihatlah kakak, aku baru tiba tapi dia tidak memelukku justru memarahiku.” Adu Rasti yang membuat senyuman di wajah para orang tua dan Faris yang gemas dengan tingkah calon istrinya itu.


“Untuk apa aku memeluk tubuh keringmu itu. Aku lebih baik memeluk istriku!” ucap Pras.


“Kakak ipar!” adu Rasti manja.


“Hubby!” panggil Zia menatap sang suami.


“Iss kau ini yaa! Selalu saja memanfaatkan kakak iparmu. Ya sudah sini jika mau di peluk!” ucap Pras merentangkan tangannya.


Rasti pun tersenyum lalu melepas pelukannya dari Zia dan segera berhambur ke pelukan kakaknya. Zia pun tersenyum melihat itu karena dia tahu suaminya dan Rasti itu saling menyayangi satu sama lain tapi kasih sayang mereka di curahkan lewat pertengkaran dan perdebatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2