Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 26


__ADS_3

Pras pun segera menggendong Zia dan membaringkannya diranjang, “Apa kau yakin?” tanya Pras lagi.


Zia tidak menjawabnya dan hanya mengalungkan tangannya di leher sang suami. Pras pun mengerti. Dan terjadilah yang harus terjadi malam itu. Untuk pertama kalinya secara sadar dan diselimuti cinta, terjadilah hubungan antara kedua insan yang memang saling mencintai itu. Kini raga dan jiwa mereka telah menyatu. Pras memperlakukan Zia dengan sangat lembut karena dia tidak ingin menyakiti wanitanya itu.


Keesokan paginya tepat pukul 04.00 Pras segera terbangun dan menatap Zia yang saat ini masih terlelap dalam pelukannya. Dia segera mengecup kening Zia sambil menatap wajah cantik istrinya.


“Good morning baby!” ucap Pras begitu melihat Zia membuka matanya.


Zia yang melihat itu hanya tersenyum, “Good morning!” balas Zia malas


“Sedikit lagi adzan loh.” Ucap Pras.


Zia pun lagi-lagi terbengong menatap suaminya, seketika dia mengingat apa yang telah terjadi semalam. Zia tiba-tiba merasa malu, “Kenapa? Apa istriku ini sedang malu sekarang?” goda Pras segera bangun dan menggendong Zia ke kamar mandi.


“Kakak, turunkan Zia!” bisik Zia.


Pras tidak mendengarkannya dan menurunkan Zia begitu tiba di kamar mandi. Mereka pun mandi wajib bersama. Setelah itu mereka segera melakukan sholat subuh berjamaah.


***


Kini mereka sudah tiba dibandara. Di sana sudah menunggu Celine, Andrew, Gibran, Alya, Zea dan Rasti. Pras menggandeng Zia dengan posesif seolah-olah dia takut Zia terlepas dari jangkauannya. Semua keluarga yang melihat itu hanya tersenyum.


“Kakak ipar!” ucap Rasti berteriak segera berlari mendekati Zia dan ingin memeluknya tapi Pras menghalanginya, “Mau ngapain?” tanya Pras tajam.


“Ouh God, aku hanya ingin memeluk kakak iparku kak. Kenapa sih kau?” ucap Rasti.


“Kak!” panggil Zia menatap Pras. Pras yang ditatap oleh Zia seketika luluh dan membiarkan Rasti memeluk istrinya. Zea yang melihat itu pun segera berlari untuk memeluk kakaknya juga.


“Kalian akan berangkat?” tanya Andrew kepada putranya.


“Iya pih.” Jawab Pras.


Sementara Alya dan Celine bergantian memeluk Zia, “Ma, Mih, Zia titip Zayyan dan Zayyah ya.” Ucap Zia.


“Pokoknya kau jangan pikirkan apapun, nikmati bulan madumu.” Ucap Alya tersenyum.


“Iya sayang, mami dan mamamu akan menjaga si kembar.” Ucap Celine.


“Terima kasih.” Ucap Zia memeluk kedua ibunya itu.


“Baby, ayo kita pergi.” ajak Pras segera menggandeng Zia posesif.


Semua orang mendengar panggilan Pras seketika tersenyum begitu juga Gibran. Zia yang melihat itu segera memeluk papanya, “Papa!” peluk Zia.


“Hey, masa iya putri papa cengeng sih. Nikmati waktumu dengan baik sayang. Jangan khawatirkan si kembar, kami akan menjaganya.” Ucap Gibran membelai kepala putrinya.


Zia pun melepas pelukannya dan beralih kepada ayah mertuanya, “Baik-baik disana sayang, katakan pada papi dan mami jika Pras menyakitimu. Biar kami yang akan memberinya pelajaran.” Ucap Andrew memeluk Zia.


“Terima kasih pih.” Ucap Zia.


“Apa semuanya sudah siap?” tanya Andrew menatap Pras.


“Semuanya sudah siap pih.” Ucap Pras.


Pras pun segera mengajak Zia dan dari belakang para orang tua mengikuti, “Bukankah kita harus naik pesawat yang sana?” tanya Zia.

__ADS_1


“Kalian akan berangkat dengan pesawat pribadi nak.” Jawab Andrew.


“Pesawat pribadi? Bukankah?” tanya Zia heran.


“Iya kalian akan menggunakan pesawat pribadi. Itu lebih nyaman.” Ucap Celine.


“Lalu bagaimana dengan tiket itu? Rugi dong papi dan mami membelikannya? Bukankah itu tiket kelas eksekutif?” tanya Zia.


“Gak rugi sayang.” Jawab Pras.


“Iya, beneran kakak ipar gak rugi kok.” ucap Rasti.


“Apa kalian?” tanya Zia.


“Iya benar baby. Mereka yang akan menggantikan kita naik pesawat itu. Mereka akan ikut.” Ucap Pras.


“Apa Zea juga ikut?” tanya Zia menatap adiknya.


“Iya kak. Aku ikut.” Jawab Zea tersenyum.


“Kakak ipar tenang saja, kami akan pergi berdua. Kami tidak akan mengganggu kalian.” Ucap Rasti.


“Awas saja jika kalian mengganggu.” Ucap Pras.


“Kakak!” ucap Zia menatap suaminya.


“Becanda sayang.” Ucap Pras.


“Hahahh, kasihan kakak. Kamu tipe suami takut istri kak.” Ledek Rasti.


“Sudah-sudah jangan bertengkar. Apa kalian sudah cek in?” tanya Andrew.


Akhirnya mereka pun segera berangkat, Pras dan Zia dengan pesawat pribadi keluarga Mahendra sementara Rasti dan Zea menggunakan pesawat komersil.


***


Kurang lebih 17 jam kini Zia dan Pras sudah tiba di Bandar Udara Internasional Zurich.


“Kakak, Kakak ipar!” panggil Rasti begitu melihat Zia dan Pras. Yah, pesawat mereka tiba 15 menit yang lalu.


Zia pun hanya tesenyum segera menghampiri kedua adiknya itu, sementara Pras hanya mengantar istrinya lalu kembali lagi untuk mengurus pesawatnya.


“Kak, aku tidak menyangka sekarang aku ada di Swiss.” Ucap Zea.


Zia pun hanya tersenyum memeluk adiknya itu. Rasti juga ikut tersenyum mendengar Zea mengatakan itu.


“Sayang ayo kita ke hotel.” Ucap Pras tiba-tiba datang dan segera memanggil mobil yang sudah dia pesan.


Mereka berempat pun menuju hotel, mereka menempati hotel yang sama tapi berbeda lantai. Kamar yang ditempati oleh Pras dan Zia adalah kamar khusus honeymoon dan Zea dan Rasti mereka juga hanya memesan satu kamar tapi kelas master grand suite.


“Wow, ini sangat indah kak.” Ucap Zia begitu masuk kamar hotel.


“Kamu menyukainya?” tanya Pras seraya memeluk Zia dari belakang.


“Ya aku sangat menyukainya. Terima kasih sudah mengajakku kesini.” Ucap Zia berbalik dan membalas pelukan suaminya erat.

__ADS_1


“Aku bahagia jika kamu bahagia sayang.” Ucap Pras.


Setelah itu mereka segera menata pakaian mereka di dalam lemari yang disediakan. Lalu mereka mandi setelah itu mereka makan malam.


***


Keesokan paginya mereka sarapan berdua di restoran terdekat karena Rasti dan Zea sudah pergi jalan-jalan lebih dulu. Setelah makan mereka pergi jalan-jalan menikmati kota Swiss.


Kini mereka sedang bersantai di Danau Zurich, “Kak, aku jadi merindukan Zayyan dan Zayyah.” Ucap Zia sambil menatap sang suami yang kini sedang berbaring di pangkuannya.


“Sama aku juga merindukan mereka.” Ucap Pras.


Akhirnya mereka pun menelpon orang rumah untuk melihat kedua anak mereka itu. Cukup lama mereka bicara dengan si kembar.


“Baby, kamu ingin kemana lagi?” tanya Pras sambil memperbaiki hijab Zia.


“Zia tidak ingin kemana-mana lagi.” Jawab Zia.


“Kok gitu sih jawabnya, baby jika kamu memang ingin pergi kemana begitu maka katakan. Jika aku bisa mewujudkannya maka aku akan mewujudkannya.” Ucap Pras.


“Baiklah jika begitu, aku akan memikirkannya. Tapi jika nanti kita pergi lagi, ayo kita ajak si kembar.” Ucap Zia.


“Baiklah, kita akan mengajak mereka.” Ucap Pras.


Zia pun tersenyum lalu mencium pipi sang suami sekilas, “Terima kasih.” Ucap Zia.


“Jangan berterima kasih sayang. Ini sudah pantas kamu dapatkan. Aku justru yang berterima kasih karena kau memberiku kesempatan.” Ucap Pras memeluk Zia erat.


Mereka pun menghabiskan waktu mereka disana dan baru kembali ke hotel setelah asar.


“Kakak ipar!” panggil Rasti.


“Kalian baru pulang juga?” tanya Zia.


“Iya kamu baru saja pulang.” Ucap Zea.


“Kalian darimana saja? Kok gak ketemu kakak?” tanya Zia.


“Itu rahasia kakak ipar, yang pasti kami bersenang-senang. Iya kan Zea?” ucap Rasti.


“Iya kak.” Jawab Zea.


“Baby, ayo kita masuk.” Ajak Pras begitu memarkirkan mobil dan menggandeng Zia masuk.


“Huh, dasar posesif.” Ledek Rasti.


Zea pun hanya tersenyum bahagia melihat itu karena akhirnya kakaknya menemukan kebahagiaannya setelah melewati begitu banyak masalah.


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊

__ADS_1


Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😉


Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh😁🥺🙏🏻


__ADS_2