
Singkat cerita, kini Lian dan Zea sudah tiba di pantai yang akan menjadi tempat lamaran Lian untuk Zea.
“Wow, ternyata kalau malam di sini bagus yaa.” Ucap Zea begitu turun dari mobil dan melihat pemandangan malam pantai.
“Apa kau menyukainya?” tanya Lian.
Zea pun mengangguk, “Kak, ini sangat indah. Terima kasih sudah mengajakku kesini.” Ucap Zea.
“Sudah, ayo kita jalan-jalan dulu.” Ucap Lian.
Mereka pun menikmati udara malam pantai itu dengan bahagia. Zea memang sangat menyukai pantai untuk itulah dia begitu menikmatinya hingga tanpa dia sadari Lian sudah tidak ada di sampingnya.
“Kak Lian lihatlah ombaknya.” Ucap Zea sambil menujuk ombak.
“Kak!” panggil Zea lagi karena tidak mendapat sahutan dari Lian. Dia pun melihat ke sekelilingnya dan tidak menemukan Lian.
“Kak, kau dimana?” ucap Zea sambil mencari.
Dia pun mengambil ponselnya dan segera menelpon Lian tapi sayang ternyata ponsel Lian ada di dalam tasnya, “Ah, kakak kenapa kau meninggalkan ponselmu di sini.” Ucap Zea begitu menyadari ponsel Lian.
__ADS_1
“Kak, kau dimana? I-ini sama sekali gak lucu.” Gumam Zea sambil melihat sekeliling.
“Apa kau berniat meninggalkan aku di sini kak?” tanya Zea mulai putus asa. Zea pun segera jongkok di pantai itu. Dia mulai menangis.
Tiba-tiba ada yang ikut jongkok di hadapannya, “Sayang!” panggil Lian.
Zea yang menyadari suara Lian pun segera melihatnya dan memeluk pria di hadapannya itu tanpa memperdulikan orang lain, “Kak, kau dari mana? Aku pikir kau akan meninggalkanku di sini sendiri. Aku takut kak.” Ucap Zea yang masih memeluk Lian erat.
“Maaf!!” ucap Lian lalu segera melepas pelukan Zea dan menghapus air mata di pipi wanitanya itu. Dia merasa bersalah telah membuat Zea menangis.
“Jangan pergi!!” ucap Zea.
Zea yang melihat itu pun hanya bisa diam, “Jadi kakak meninggalkanku untuk mengambil ini?” tanya Zea.
Lian pun mengangguk, “Ah, kakak jahat.” Ucap Zea.
“Maaf!” ucap Lian.
“Ayolah jawab! Will you marry me?” ulang Lian.
__ADS_1
Tidak mendapat jawaban Lian justru mendapat cubitan dari Zea, “Bukankah aku sudah tunangan kakak lalu kenapa masih bertanya apa aku bersedia menikah denganmu karena aku pasti akan menyetujuinya.” Ucap Zea.
Lian pun tersenyum lalu segera memasangkan cincin itu di jarinya Zea, “Baiklah karena kau sudah menerima lamaran kakak maka jangan harap kau bisa lepas dariku.” Ucap Lian.
Zea pun hanya tersenyum menanggapinya karena dia tidak menyangka saat ini dia bisa merasakan ini bersama pria yang di cintainya yang bahkan dulu hanya ada dalam khayalannya.
Setelah itu mereka pun segera menuju restoran di pantai itu yang sudah di booking oleh Lian sebelumnya untuk dia melakukan dinner bersama Zea.
Keesokkan harinya Lian dan George datang ke rumah orang tua Zea untuk melakukan lamaran secara resmi dan di sepakati pernikahan akan di lakukan dua minggu lagi karena Lian tidak ingin lama-lama menikah.
“Dasar kau tidak sabaran.” Ucap George begitu Lian mengatakan ingin segera mempercepat pernikahannya dengan Zea.
“Maafkan cucuku ini tuan Gibran.” Ucap George.
“Hahah,, memang seperti itulah anak muda.” Timpal Gibran.
“I-itu dengan kek, papa aja gak keberatan.” Ucap Lian.
“Dasar kau.” Ucap George.
__ADS_1
Hal itu membuat tawa di acara lamaran itu.