Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 104


__ADS_3

Faris pun tersenyum mendengar itu, “Baiklah aku jamin akan sembuh dengan cepat nanti dan aku dan keluargaku akan segera menemui keluargamu.” Jawab Faris serius.


“Hmm,, terserah saja. Sekarang lebih baik ayo beres-beres.” Ucap Rasti. Faris pun mengangguk dan mereka mulai mengatur barang mereka.


Singkat cerita kini Faris dan Rasti sudah berada di mobil menuju rumah Faris dengan Rasti sebagai sopirnya dan tentu saja dengan menggunakan mobil Rasti karena mobil Faris masih dalam perbaikan.


Kurang lebih 45 menit mereka tiba di kediaman Faris, Rasti pun segera masuk ke dalam kediaman itu begitu pintu gerbang di buka setelah Faris memperlihatkan wajahnya kepada satpam di kediamannya itu.


“Hati-hati!” ucap Rasti sambil membukakan pintu untuk Faris.


Faris tersenyum, “Tenang saja!” jawab Faris.


“Tuan muda!” ucap pengawal yang ingin membantu Faris.


“Tenang saja, saya gak apa-apa.” Ucap Faris menolak.


“Ayo masuk!” ajak Faris menatap Rasti.


“Emm,, lebih baik lain kali saja.” Tolak Rasti.

__ADS_1


“Hmm,, sebelumnya kamu sudah pernah menolak untuk masuk dan saat itu kamu berjanji akan masuk lain kali. Jadi hari ini kau tidak boleh menolaknya lagi. Ayo masuk!” akak Faris lalu menarik lengan Rasti dengan tangan kirinya.


Rasti pun hanya bisa menurut walau saat ini sejujurnya dia merasa gugup, “Kalian bawa barang-barang di sana ke dalam.” Pinta Faris kepada pengawal.


“Faris!” panggil Alice heboh begitu mengetahui bahwa sang putra sudah kembali. Dia pun segera berlari menyambut Faris dan memeluknya. Gifari hanya berjalan pelan menyusul sang istri dari belakang.


“Mih, jangan kuat-kuat memeluknya.” Ucap Faris.


“Ahh maaf mami lupa bahwa tanganmu terluka.” Ucap Alice melepas pelukannya dan kini matanya menatap seorang gadis di samping putranya.


“Selamat siang tante, om” sapa Rasti kepada kedua orang tua Faris.


“Doakan saja Mih!” jawab Faris menatap Rasti yang tengah malu.


“Kok gitu, cepatlah Ris kamu lamar dia untuk menjadi menantu mami.” ucap Alice.


“Sudah kulakukan tapi ya begitulah,,” ucap Faris.


Alice pun menatap Rasti dengan intens, “Mih, jangan menatap calon menantu kita seperti itu. Kau membuatnya takut!” timpal Gifari.

__ADS_1


“Ahh,, maaf sayang! Ayo masuk!” ucap Alice mengajak Rasti masuk dan duduk di sofa di ruang keluarga lalu Alice segera meminta pelayan di sana untuk membawakan minuman dan beberapa camilan.


Sementara Faris dan Gifari yang ditinggalkan hanya bisa saling pandang, “Pih, apa aku telah di lupakan?” tanya Faris kepada papinya.


“Sepertinya begitu. Ayo kita masuk bergabung dengan mereka.” Ajak Gifari pada putranya.


***


Sementara di sisi lain, “Nyonya!” ucap pelayan kaget yang melihat Zea pingsan di kamar mandi.


Pelayan lain yang mendengar teriakan pun segera berlari menuju kamar nyonya mereka. Begitupun dengan George yang sibuk membaca Koran segera menuju kamar cucu menantunya itu begitu mendengar teriakan.


“Ada apa ini?” tanya George masuk.


“Nyonya tuan. Dia pingsan!” jawab pelayan yang menemukan Zea.


“Apa? Zea pingsan? Segera panggilkan dokter.” Ucap George lalu dia masuk dan tidak lupa menelpon Lian. Lian yang mendengar sang istri pingsan pun segera pulang walaupun dia harus membatalkan rapat yang harus dia hadiri.


Tidak lama dokter datang bersamaan dengan kedatangan Lian. Dokter itu pun segera memeriksa Zea dan seketika raut wajahnya berubah.

__ADS_1


“Ada apa dengan istriku?” tanya Lian menatap Edward tajam.


__ADS_2