
“Saya mencintaimu!” jawab Faris tegas.
Rasti lagi-lagi kaget mendengarnya, “Tuan, apa anda sedang dalam mode mengerjai saya saat ini. Tuan hentikan ini, lelucon ini sama sekali gak lucu.” Ucap Rasti lalu melepaskan tangan Faris yang masih menahan lengannya.
“Saya serius Ra. Saya mencintaimu! Saya gak tahu sejak kapan rasa itu timbul tapi yang pasti saya telah jatuh cinta pada gadis yang memiliki sifat cuek diluar tapi manja ketika bersama keluarganya. Saya mencintai gadis yang memiliki aturan keterlambatan adalah sesuatu hal yang fatal. Saya mencintai gadis yang menjadi partner kerja saya. Saya mecintai gadis yang pernah menjadi mantan calon tunangan sahabat saya sendiri. Sungguh Ra, saya mencintaimu entah sejak kapan itu.” Ucap Faris tulus.
Rasti yang mendengar pengakuan itu pun hanya bisa diam sambil menatap mata Faris dalam untuk mencari kebohongan di sana tapi sayang dia tak menemukannya, “Tuan lebih baik anda tidur dulu. Untuk ini kita bicarakan nanti.” Ucap Rasti.
Faris pun hanya bisa menurutinya karena dia tidak ingin memaksa Rasti menerima perasaannya karena dia yakin gadis itu masih ragu.
__ADS_1
Tidak lama Faris pun tertidur dan Rasti hanya bisa menatap pria itu dengan perasaan yang tidak menentu. Dia tidak menyangka bahwa seorang pria yang pertama kali ketemu dengannya saat menjadi pendamping pertunangan Zea dan Lian kini pria itu mengungkapkan perasaannya kepadanya. Dia sebagai seorang wanita tentu saja ragu karena mereka baru bertemu beberapa bulan yang lalu walau tidak dapat di pungkiri bahwa dia merasa nyaman jika di dekat pria itu.
“Maaf tuan aku belum bisa menjawab perasaanmu ini karena jujur aku bingung dan tidak percaya bahwa kau akan melakukan ini walau di sisi lain aku juga mungkin sudah menyukaimu tapi aku tidak ingin perasaan ini nanti akan menyakitiku. Maaf jika aku egois aku hanya berusaha melindungi diriku saja.” Gumam Rasti memandang Faris yang tidur tapi siapa sangka bahwa Faris mendengar hal itu karena dia hanya pura-pura tidur.
“Aku akan meyakinkanmu bahwa aku memang benar-benar mencintaimu.” Batin Faris.
***
“Terima kasih sudah menjagaku Ra! Maaf jika merepotkanmu.” Ucap Faris.
__ADS_1
“Gak apa-apa tuan. Ini sudah kewajibanku sebagai teman.” Jawab Faris.
“Teman? Ra, aku tidak ingin hanya menjadi temanmu, aku ingin menjadi suamimu.” Ucap Faris.
Rasti tertawa, “Kenapa kau tertawa, apa permintaanku itu lucu?” tanya Faris.
Rasti menggeleng, “Bukan. Hanya saja jika memang anda ingin menjadi suamiku bukankah harus melamarku secara resmi? Lagipula panggilan teman untuk anda sudah cocok kok bukankah dalam hubungan suami istri di sebut juga dengan teman hidup?” ucap Rasti.
Faris pun tersenyum mendengar perkataan Rasti, “Apa perkataanmu ini bisa ku anggap sebagai persetujuanmu?” tanya Faris.
__ADS_1
“Emm,, kita jalani saja dulu tapi ingat aku tidak ingin memiliki hubungan pacaran atau apalah itu karena kita sudah dewasa. Umur kita bukan lagi waktunya main-main hanya saja ini aku lakukan untuk meyakinkan hatiku saja dan aku harap selama aku meyakinkan hatiku anda akan sabar menunggunya. Selain itu juga jika anda ingin melamarku secara resmi maka anda ahrus sembuh dulu untuk bertemu dengan keluarga besarku. Untuk itu cepatlah sembuh jika memang serius ingin menjadi suamiku.” Ucap Rasti. Semalaman dia meyakinkan hatinya untuk mengambil keputusan ini.