
“Hmm,, baiklah kakak gak akan canggung. Hmm,, menurutmu apa tuan Lian menyukai gadis lain?” tanya Rasti.
Zea yang mendengar pertanyaan itu dari kakaknya menjadi kaget karena tidak menyangka akan tiba saatnya dia menjawab pertanyaan seperti itu dari kakaknya, “Kenapa kakak menanyakan pertanyaan begitu kepada Zea? Apa kakak merasa bahwa tuan Lian menyukai gadis lain?” tanya Zea balik karena dia tidak tau harus bereaksi seperti apa.
Rasti yang tengah mengemudi pun hanya menganguk-nganguk, “Entah kenapa aku merasa dia menyukai gadis lain dan sepertinya dia tidak menginginkan perjodohan ini.” ucap Rasti.
Zea pun hanya tersenyum mendengar pernyataan Rasti karena memang seperti itulah yang terjadi, “Kakak harap itu hanya perasaan kakak saja dek.” Lanjut Rasti tersenyum tapi tidak ada yang tahu apa yang sedang ada di pikirannya saat ini.
Zea pun hanya diam mendengarnya. Rasti pun lanjut mengemudikan mobilnya mengantar Zea terlebih dahulu lalu kembali ke kantornya.
***
Seminggu berlalu,
“Hans, bagaimana perkembangan pembangunan klinik istriku?” tanya Pras kepada asistennya.
“Pembangunannya sudah dimulai tuan dan semuanya berjalan lancar sejauh ini.” jawab Hans.
“Bagus!! Aku suka kerjamu, kamu akan menerima bonus dua kali lipat untuk ini.” puji Pras tersenyum.
“Terimah kasih tuan.” Jawab Hans senang karena mendapatkan bonus dari tuan mudanya itu walau Pras memang selalu memberikan bonus kepadanya.
Di sisi lain, Zea disibukkan dengan seminar skripsinya yang akan dilakukan tiga hari lagi. Yah, Zea menyelesaikan skripsinya dan akan ikut wisuda gelombang pertama. Dia ingin segera menyelesaikan kuliahnya.
“Dek, semuanya sudah siap?” tanya Zia kepada adiknya yang dari tiba pagi tadi masih saja fokus di laptopnya mempelajari skripsinya.
“Kak, Zea takut.” Ucap Zea memeluk kakaknya itu yang kini sedang mengandung yang kini memasuki usia 8 bulan.
Zia pun memeluk adiknya itu, “Jangan takut sayang, bukankah seminar proposal saja sudah kau lalui lalu kenapa sekarang adik kakak itu menjadi penakut.” Ucap Zia menggoda adiknya itu.
__ADS_1
“Kakak!!” ucap Zea semakin mengeratkan pelukannya.
“Dek, kau gak lupa kan bahwa kakak,,”
Belum selesai Zia bicara, Zea langsung melepaskan pelukannya karena dia langsung mengerti bahwa saat ini kakaknya itu sedang mengandung calon keponakannya, “Maafkan aunty sayang melupakanmu.” Ucap Zea segera mengelus perut kakaknya itu.
Zia pun hanya tersenyum melihat itu, “Gak apa-apa kok aunty.” Ucap Zia menirukan suara anak kecil.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama karena mereka memang merindukan kebersamaan mereka ini. Zia pun menemani adiknya itu mempelajari skripsinya tidak lupa juga di temani oleh dua keponakannya yang sedang dalam masa aktif-aktifnya.
***
Tiga hari kemudian, kini Zea sedang melakukan seminar skipsinya, semuanya berjalan lancar semua pertanyaan dari pengujinya mampu dia jawab dengan baik hingga dia memperoleh nilai sempurna. Dengan adanya itu dia menjadi lulusan mahasiswa kebidanan pada angkatan itu dengan nilai terbaik dan bahkan mengalahkan nilai-nilai para seniornya.
“Selamat dek! Ciee,, cie,, gelar nilai terbaik!” ucap Zia memberi selamat kepada adiknya itu begitu keluar dari ruang seminar skripsinya.
“Terimah kasih kak.” Jawab Zea memeluk kakaknya.
“Terimah kasih kakak ipar sudah menyempatkan datang kesini.” Jawab Zea menerima buket bunga itu.
Setelah itu mereka menuju restoran untuk merayakan kelulusan Zea walau masih harus melakukan revisi sedikit pada skripsinya. Tidak jauh dari tempat itu ada sepasang mata yang melihat itu tengah tersenyum seolah-olah ikut berbahagia melihat senyum wanitanya. Yah,, siapa lain jika bukan Lian, dia sudah ada disana sejak tadi sejak Zea masih di dalam ruangan mengikuti seminarnya dia bahkan mengosongkan jadwalnya hanya untuk hari ini.
Dia sudah bahagia melihat bahwa wanitanya itu baik-baik saja walau untuk kali kedua dia pun akan terlambat memberikan hadiahnya walau hadiah itu sudah dia bawa. Tapi dia tetap bahagia selama gadis itu bahagia.
***
“Maaf dek, kakak terlambat! Ini hadiah untukmu! Selamat yaa atas kelulusanmu.” Ucap Rasti lalu segera memeluk adiknya itu.
Zea yang melihat itu pun segera membalas pelukan kakaknya, “Ah, kakak gak apa-apa kok. Zea justru berterimah kasih karena kakak menyempatkan datang walau Zea tahu pasti kakak sangat sibuk” balas Zea.
__ADS_1
“Hey, mana mungkin kakak tidak datang di hari kelulusan adik kakak sendiri.” Ucap Rasti.
Pras dan Zia yang melihat kedua adik mereka itu akrab hanya tersenyum, “Sudah-sudah ayo kita makan!” ajak Pras karena berhubung pesanan mereka sudah datang.
Mereka pun makan siang bersama untuk merayakan kelulusan Zea.
***
“Tuan, kau datang?” tanya Alan begitu melihat tuannya karena Lian tidak memiliki jadwal
Lian pun hanya mengangguk, “Apa ada yang harus aku tanda tangani?” tanya Lian langsung duduk di kursi kebesarannya.
“Hmm,, itu tidak ada tuan.” Jawab Alan.
“Ah baiklah.” Ucap Lian memejamkan matanya karena dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Alan pun membiarkan tuan nya itu sendiri karena dia tahu tuan nya itu sedang tidak baik-baik saja.
Sementara di sisi lain, “Tuan, ini laporan yang anda minta.” Ucap seorang pria dengan setelan jas warna hitam khas orang kepercayaan.
“Hmm,, baiklah kau boleh pergi. Kau harus melaporkan semua kegiatan yang gadis itu lakukan.” Ucap George menatap orang kepercayaannya itu.
“Tentu tuan.” Orang kepercayaannya itu pun pergi.
Sementara George segera membuka amplop dan membacanya. Setelah selesai membacanya dia pun tersenyum.
***
Dua minggu berlalu, kini hari wisuda Zea dilakukan dan sudah hampir sebulan ini Zea pun tidak melihat Lian terakhir kali mereka ketemu yaa saat Zea menemani Rasti makan siang bersama Lian. Pasti ada rasa rindu dihati Zea pada pria itu tapi dia berusaha untuk menutupinya karena dia tahu hal itu tidak boleh dia lakukan. Tapi entah kenapa semakin dia ingin melupakan pria itu justru bayangan pria itu semakin terbayang-bayang di benaknya.
Semua keluarga datang ke wisuda Zea, tidak seperti wisuda sang kakak yang hanya di hadiri oleh Rasti, Hanifa dan Ammar. Wisuda Zea kali ini dihadiri oleh seluruh keluarganya bahkan Celine dan Andrew pun ikut hadir karena mereka sudah menganggap Zea seperti anak mereka sendiri.
__ADS_1
Seluruh rangkaian acara wisuda Zea pun berjalan lancar dan semua dilalui dengan tawa namun jauh di lubuk hatinya dia mengingkan kehadiran seseorang. Akhirnya setelah selesai semua dia meminta izin kepada keluarganya untuk mengelilingi kampusnya dengan alasan memuaskan hatinya sebelum meninggalkan kampus itu. Seluruh keluarga pun mengerti dan meninggalkan Zea disana tapi dengan syarat Zea harus pulang sebelum sore hari karena akan di adakan acara barbeque di rumah Zia dan Pras untuk merayakan kelulusan Zea tentunya.