
Lian pun segera memeluk istrinya itu, “Dear aku hanya takut kehilanganmu!” ucapnya sambil menghirup dalam-dalam aroma sang istri.
Zea pun membalas pelukan suaminya itu, “Boo ayo mandi dulu yaa! Nanti lanjut lagi jika ingin peluk.” Ucap Zea setelah lama sang suami hanya memeluknya.
Lian pun segera melepas pelukannya lalu mengecup kening sang istri, “Baiklah anak-anaknya papa baik-baik yaa di dalam perut mama. Jangan nakal tolong jaga mama yaa!” ucap Lian bicara pada anaknya lalu tidak lupa juga mengecup perut sang istri. Setelah itu dia segera pergi untuk membersihkan dirinya.
Zea pun segera menyusul sang suami tapi tiba-tiba dia melihat George yang menghapus air matanya, “Kakek kenapa menangis? Apa ada yang sakit?” tanya Zea khawatir.
George menggeleng, “Kakek gak sakit nak. Kakek hanya terharu melihat kalian.” Ucap George.
“Ahh kakek Zea pikir kakek kenapa.” Ucap Zea tersenyum.
__ADS_1
“Heheh,, maaf yaa nak sudah membuatmu khawatir. Ayo sana pergilah temani cucu manja kakek itu.” Ucap George.
“Tapi kakek beneran gak apa-apa kan? Apa ada sesuatu yang kakek butuhkan? Biar Zea ambilin.” Ucap Zea.
George menggeleng, “Kakek bener gak sakit nak dan kakek juga gak butuh sesuatu. Kakek keluar hanya bosan saja di kamar dan akhirnya melihat kalian. Sudah sana jangan khawatirkan kakek karena jika kakek butuh sesuatu kakek akan meminta kepada Adan selain itu juga ada banyak pelayan di sini.” Ucap George.
Zea pun mengangguk, “Baiklah jika begitu Zea izin ke kamar dulu yaa kek.” Izin Zea dan di balas anggukan oleh George.
George pun hanya menatap kepergian cucu mantunya itu dengan sedih, “Lihatnya Adan dia yang sakit tapi dia masih mengkhawatirkan orang lain. Betapa beruntungnya aku di masa tuaku memiliki cucu mantu seperti dia.” Ucap George kepada pelayannya itu.
“Anda benar tuan. Nyonya muda sangat menyayangi anda, dia tidak hanya menyayangi tuan muda saja tapi keluarga tuan muda juga di anggapnya keluarga bahkan pelayan dan bodyguard di sini selalu dia perhatikan. Kami tidak bisa membayangkan jika suatu hari dia pergi.” balas Adan sedih.
__ADS_1
“Aku tidak akan mengizinkannya pergi, kita harus menyelamatkannya. Aku tidak ingin melihat cucuku lagi menjadi manusia yang hidup tanpa jiwa lagi. Aku juga tidak ingin tinggal sendiri lagi.” Ucap George.
“Tuan tenang saja, kita akan melakukan yang terbaik untuknya. Kami juga tidak ingin kehilangan nyonya seperti dia.” Balas Adan.
***
Dua hari berlalu, “Kakak, aku datang!” ucap Zea berteriak.
Zia yang melihat kedatangan adiknya itu pun segera menyambutnya, “Dek, kenapa kesini? Kamu itu harus istirahat gak boleh kelelahan.” Ucap Zia khawatir.
“Ouh kakak jangan jadi seperti suamiku dan juga kakek yang apa-apa gak boleh. Kak aku bosan tidak ada yang aku kerjakan di Mansion karena kak Lian dan kakek melarangku ini itu. Jadi aku mohon kak biarkan aku menghirup udara segar sekarang. Lagian aku juga merindukan keponakanku dan perlu kau tahu juga kak, aku ini hanya kurang sehat saja tidak sekarat.” Ucap Zea lalu segera menuju ketiga keponakannya yang bermain di ruang keluarga.
__ADS_1
Zia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan segera mengikuti sang adik, “Kau masih saja bisa ceria padahal orang di sekitarmu begitu mengkhawatirkan keadaanmu.” Gumam Zia.