Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 188


__ADS_3

Sementara di tempat para keluarga berkumpul yang melihat apa yang di lakukan Faris untuk Rasti pun tersenyum, “Aku yakin kakinya kak Rasti lecet itu.” ucap Zea.


“Kau benar.” jawab Zia tersenyum karena dia juga mengalaminya.


“Apalagi tamu yang datang sepertinya lebih banyak.” Ucap Zea lagi yang memang mereka berempat duduk semeja dengan anak-anak mereka yang memang tidak di hadirkan karena mereka ingin menjaga privasi anak-anak mereka.


“Untung saja Faris gercep membelikan sepatu untuk adikku itu.” timpal Pras.


“Kamu benar by, aku bahagia melihat dia menemukan suami yang dia cintai dan juga mencintainya seperti harapannya.” Balas Zia.


“Iya seperti kita.” Ucap Pras lalu memeluk istrinya itu dari samping.


“Seperti kita juga kan dear.” Ucap Lian tidak mau kalah.


Seketika empat orang itu pun tertawa kecil.


***


Akhirnya menyalami para tamu undangan sudah selesai dan kini tibalah pelemparan bunga dan seperti biasa para jomblo segera berkumpul untuk menerima bunga itu.


Zea tersenyum melihat hal itu, “Kenapa kau tersenyum sayang?” tanya Lian sambil memeluk istrinya itu dari samping.


“Gak apa-apa. Aku hanya teringat pelemparan bunga saat pernikahan kita.” Jawab Zea.


“Yah, kau memberikannya kepada Rasti.” Ucap Lian.

__ADS_1


“Bukan hanya kepada Rasti karena Rasti dan Faris saling berbagi bunga itu.” timpal Zia.


“Benarkah?” tanya Zea yang memang tidak mengetahui itu.


“Iya, saat itu mereka tidak mempercayai hal seperti ini tapi ternyata mungkin sudah takdirnya bahkan saat itu Faris dengan bercanda mengajak Rasti menikah dengannya dan ternyata doanya di ijabah kini mereka sudah menikah.” Jawab Zia.


“Wahh,, aku gak tahu ternyata--” ucap Zea.


“Memang sudah jodoh mereka.” Timpal Pras.


“Kau benar by.” Jawab Zia.


Setelah para tamu pamit pulang acara di lanjutkan dengan foto bersama para keluarga dan saat itulah para anak-anak di izinkan datang dan ikut berfoto bersama.


***


Rasti pun tersenyum, “Kamu juga sangat cantik sayang.” puji Rasti balik kepada keponakannya itu.


“Zayyan juga tampan.” Gumam Zayyan.


Para keluarga yang mendengar itu pun terkekeh karena ternyata sifat Zayyan yang pencemburu itu masih ada walau sejak kelahiran Zeyyan sifat itu sudah menghilang tapi di saat-saat tertentu Zayyan akan memperlihatkan kecemburuannya.


“Yah kamu juga sangat tampan.” Puji Rasti.


“Kakak, kenapa putramu itu masih saja pencemburu begitu seperti dirimu.” Bisik Rasti kepada Pras.

__ADS_1


“Tentu saja harus begitu karena aku harus mewariskan sifatku kepadanya.” Balas Pras.


Zia yang mendengarnya hanya tersenyum menggeleng.


***


Kini sudah selesai acara berfoto bersama dan para keluarga inti berkumpul untuk makan bersama. Rasti dan Faris pun ikut bergabung duduk bersama mereka.


Para asisten mereka juga ikut makan bersama, “Aunty Zea!” panggil Zayyan mendekati Zea yang menggendong putra bungsunya.


“Iya sayang, ada apa?” tanya Zea.


“Gak ada apa-apa. Aunty ini siapa?” tanya Zayyan.


“Coba tebak.” Balas Zea.


“Aunty, mereka sangat mirip. Aku tidak bisa menebaknya.” Jawab Zayyan lesu.


Zea pun tersenyum, “Dia Vero.” Jawab Zea.


Zayyan pun mengangguk, “Berarti dia adikku paling kecil, kalau begitu aku ingin memberikan sesuatu kepadanya. Boleh kan aunty?” izin Zayyan.


Zea pun mengangguk lalu Zayyan segera memasangkan kalung di leher Vero sementara Zayyah juga melakukan yang sama kepada Varo yang ada dalam pangkuan Lian.


Rasti dan Faris yang melihat itu pun tersenyum, “Kalungnya kok sama dengan yang punya aunty.” Ucap Rasti.

__ADS_1


__ADS_2