
“Tara!” ucap Rasti dan Zia lalu membantu membuka penutup mata Zea.
Zea pun membuka matanya dan melihat apa yang ada di hadapannya, “I-ini--” tunjuk Zea lalu berbalik menatap suaminya yang berada di belakang.
“Iya sayang seperti pikiranmu. Kamu kan ingin bertetangga dengan kami. Jadi inilah rumahmu tepat di samping rumah kak Zia dan kak Pras. Kita akan bertetangga nanti.” Ucap Rasti.
Zea pun segera tersenyum bahagia dan memeluk Rasti dan Zia erat, “Ahh aku tidak menyangka bahwa hadiah yang kak Lian katakan ini. Terima kasih! Tapi bukankah rumah ini sudah ada pemiliknya?” tanya Zea.
“Itu karena kak Pras yang membantunya dear.” Jawab Lian.
“Apa kamu lupa kawasan ini adalah milik kak Pras. Jadi sebenarnya rumah ini gak memiliki pemilik.” Ucap Rasti.
“Ahh terima kasih boo, terima kasih kak, kakak ipar. Aku sangat menyukai kejutan ini. Aku tidak menyangka bahwa aku akan bertetangga dengan kalian.” Ucap Zea memeluk sang suami.
Semua orang pun hanya tersenyum melihat hal itu, “Tapi bagaimana dengan kakek?” tanya Zea.
__ADS_1
“Kita akan mengajaknya kesini dan mansion tetap ada di sana. Kita akan menyuruh pelayan untuk mengurusnya. Kau gak perlu khawatir karena kakek sudah menyetujui ini.” ucap Lian. Zea pun hanya mengangguk saja.
Setelah itu mereka berenam segera masuk ke dalam kediaman itu untuk melihat-lihat dan seperti kediaman Zia dan Pras maka kediaman itu pun sama modelnya dan terdiri dari dua lantai.
Setelah puas melihat mereka segera kembali ke rumah Pras dan Zia melalui pintu penghubung yang sengaja di buat agar rumah ketiganya terhubung satu sama lain tanpa harus berkeliling dari pintu gerbang utama jika ingin bertemu.
***
Kini ke enam orang itu sedang berada di rumah Zia dan Pras sedang makan siang bersama, “Ahh kalau aku tahu begini kita mengajak mereka kesini boo. Aku jadi merindukan mereka.” Ucap Zea.
“Zea, kalian harus hadir yaa di pesta pernikahanku.” Ucap Rasti.
“Tentu saja kak, aku pasti akan hadir. Ohiya lusa kan?” tanya Zea dan Rasti mengangguk.
“Kita berangkatnya dari sini dek.” Ucap Zia.
__ADS_1
“Kalau begitu aku besok akan ke sini.” Jawab Zea.
“Okay, kita sepakati begitu saja.” sambung Lian.
***
Dua hari kemudian, hari ini tepat pesta pernikahan Rasti dan Faris dilaksanakan di sebuah gedung yang masih milik keluarga Mahendra. Pesta pernikahan ini sangat mewah seperti pernikahan Pras dan Zia serta Lian dan Zea yang sebelumnya dilaksanakan di tempat yang sama juga. Walau ini tinggallah resepsi untuk keduanya tapi tetap saja sangat mewah dan begitu banyak tamu yang hadir dari berbagai kalangan terlebih di dominasi oleh relasi bisnis dari para keluarga.
Rasti dan Faris sudah hadir di pelaminan mereka dengan di apit oleh kedua orang tua masing-masing. Rasti sangat cantik dengan gaunnya bagaikan princes serta Faris pun sangat tampan laksana pangeran yang siap menjemput kekasih hatinya. Keduanya tersenyum bahagia menyalami para tamu mereka yang begitu banyak itu.
“Kenapa sayang? Apa kamu pegal?” tanya Faris yang melihat istrinya mulai meringis.
“Kakiku sakit, sepertinya efek kelamaan memakai higheels.” Jawab Rasti.
Faris yang mendengarnya langsung berjongkok dan melihat kaki istrinya, “Kak, apa yang kau lakukan. Ayo berdirilah! Masih banyak tamu yang harus kita layani. Tenang saja aku masih bisa menahannya.” Ucap Rasti menolak sang suami untuk melihat kakinya.
__ADS_1
Faris pun menatap Rasti sekilas lalu dia pergi memanggil sang asisten, Reno yang di panggil pun segera mendekat dan Faris segera membisikkan sesuatu lalu kembali lagi menemani sang istri, “Apa yang kakak katakan kepada Reno?” tanya Rasti berbisik.