Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 84


__ADS_3

Cukup lama mereka berada di rumah Pras dan Zia, mereka baru pulang setelah sholat ashar. Lian sudah tentu saja pulang bersama Zea sang istri dan mobil Zea di tinggalkan di rumah sang kakak.


Sementara Faris yang hanya ikut bersama Lian dan tidak membawa mobil, Pras menyuruh Rasti mengantar Faris. Ingin rasanya Rasti menolak tapi tidak enak dengan Faris jadi dia pun terpaksa menyetujuinya. Sementara Faris dia hanya diam saja karena walaupun nanti Rasti menolak dia bisa menelpon Reno untuk menjemputnya tapi jika ada kesempatan bisa di antar oleh Rasti kenapa harus di lewatkan, begitu pikirnya.


Lian dan Zea serta Faris dan Rasti pun berpamitan kepada Zia dan Pras dan melaju menuju rumah masing-masing tapi sebelumnya mereka makan terlebih terdahulu.


Kurang lebih satu jam Rasti mengendarai mobil menuju rumah Faris, di perjalanan mereka berdua hanya diam saja tidak ada percakapan tapi satu hal yang pasti Faris sangat senang di antar oleh Rasti. Kini mereka sudah tiba di sebuah kediaman yang tidak kalah mewah dengan kediaman orang tua Rasti, “Terima kasih nona Rasti sudah mengantar saya kesini.” Ucap Faris lalu segera turun.


Rasti pun hanya mengangguk, “Hmm,, apa nona Rasti tidak ingin mampir dulu.” Tawar Faris sebelum menutup pintu mobil.


“Sepertinya lain kali saja tuan. Ini sudah hampir magrib.” Jawab Rasti.


“Oke baiklah tapi ingat lain kali tidak boleh menolak.” Ucap Faris tersenyum seketika perkataan Faris itu menyadarkan Rasti bahwa dia berharap bisa datang lagi ke kediaman ini.


“Ah baiklah tuan lebih baik saya pergi sekarang. Anda masuklah!” ucap Rasti mengendalikan kegugupannya.

__ADS_1


Faris pun lagi-lagi tersenyum, “Baiklah, hati-hati di jalan nona.” Ucap Faris lalu segera menutup pintu mobil Rasti.


Rasti pun segera melajukan mobilnya dan Faris hanya tersenyum melihat itu dan segera masuk ke kediaman orang tuanya dengan senyum sumringah bahkan penjaga rumah pun kaget melihat sikap tuan muda mereka itu yang terlihat sangat aneh tidak seperti biasanya. Faris pun tetap saja tersenyum bahkan sambil bernyanyi-nyanyi kecil memasuki rumahnya hingga membuat dua orang yang sedang duduk di ruang keluarga itu kaget melihatnya.


“Apa yang membuatmu seperti ini nak?” tegur Alice sang mami.


Faris pun seketika sadar dan melihat papi dan maminya dan segera mendekati keduanya lalu menyalaminya. Lagi-lagi hal itu membuat mereka kaget karena putra tunggal mereka itu tidak biasanya melakukan hal itu.


“Ada apa denganmu?” tanya Gifari sang papi.


“Hmm,, seharusnya kami yang bertanya kau aneh tiba-tiba saja menyalami kami.”timpal Alice.


“Apa aku tidak bisa melakukan itu, aku hanya ingin menghormati kalian.” Jawab Faris enteng.


“Itu sih baik hanya saja kami tidak terbiasa.” Ucap Gifari.

__ADS_1


“Kenapa sih mami dan papi, jika aku salah di marahi jika baik tidak di percayai.” Ucap Faris mengeluh.


“Masalahnya kau itu aneh.” Timpal Gifari.


“Ah sudahlah lebih baik aku membersihkan diri saja daripada bicara dengan papi dan mami yang mengatakan aku aneh.” Ucap Faris berlalu.


“Ee,, Faris siapa yang mengantarmu?” tanya Alice karena dia tahu bahwa putranya itu tidak membawa mobil karena sudah di antar Reno siang tadi.


“Ada deh!” jawab Faris cuek.


“Faris siapa dia? Apa calon menantu Mami?” teriak Alice.


“Doakan saja!” balas Faris berteriak sambil tersenyum membayangkan Rasti.


Sementara Alice semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2