
“Mungkin aku memang pernah menyukai Zea tapi aku sadar mungkin itu hanya sebatas mengaguminya saja tapi jika Rasti aku tidak bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan yang pastinya aku bahagia jika bersamanya.” Ucap Faris.
Reno pun hanya mengangguk mengerti karena memang benar tuannya itu akan terlihat berbeda jika bersama Rasti, “Lagian juga Zea adalah istri sahabatku sekarang. Apa salahnya aku menyukai wanita lain.” Lanjut Faris.
“Tapi tuan mereka,,” ucap Reno terpotong.
“Aku tahu yang kau khawatirkan karena mereka adalah kakak adik walau bukan sedarah. Lalu apa salah aku menyukai Rasti? Kau juga tenang saja aku akan meyakinkan hatiku dulu karena untuk meyakinkannya butuh mental yang kuat dan aku juga sekarang bukan mencari kekasih lagi tapi seorang istri. Aku bosan mendengar Mami mengoceh tiada batas.” Ucap Faris.
Reno pun akhirnya mengerti dan hanya bisa berdoa semoga tuan mudanya itu segera menemukan cinta sejatinya, “Kau juga jangan hanya fokus dengan kisah cintaku. Kau juga temukan cintamu.” Ucap Faris sebelum asistennya itu keluar.
“Aku akan mencarinya juga tuan tapi nanti setelah kau menemukan nona muda.” Balas Reno tersenyum.
***
__ADS_1
Tiga bulan berlalu hingga kini Zea belum juga mengandung, “Kak!” ucap Zea lesu dan sedih begitu keluar dari kamar mandi sambil membawa tespeck di tangannya yang hanya garis satu. Zea selalu melakukan tespeck jika menstruasinya sudah lewat tapi ternyata tanggal menstruasinya tidak teratur.
Lian yang melihat ekspresi sedih dari istrinya itu pun langsung memeluknya, “Sudah gak apa-apa. Mungkin Allah masih ingin kita berduaan dulu.” Ucap Lian menenangkan Zea karena jika tidak istrinya itu akan menangis.
“Tapi kak aku ingin segera hamil kasihan kakek dia ingin segera melihat cicitnya.” Ucap Zea yang sudah meneteskan air mata di pelukan suaminya itu.
“Tenang sayang, jangan khawatirkan kakek, dia pasti mengerti. Okay jangan pikirkan lagi itu kita hanya bisa berusaha dan berdoa agar segera di berikan keturunan. ” ucap Lian.
“Tapi,,”
“Bagaimana jika aku tidak bisa hamil?” tanya Zea menatap suaminya.
“Sudah jangan katakan aneh-aneh. Bukankah kita sudah ke dokter dan semuanya baik-baik saja. Mungkin belum rezeki kita sayang. Jangan sedih yaa!!” ucap Lian.
__ADS_1
Zea pun akhirnya mengangguk walau Lian tahu bahwa istrinya itu pasti akan tetap menangis diam-diam. Lian pun segera mengajak Zea untuk sarapan bersama. Zea tidak memiliki mood sarapan makanannya hanya dia aduk-aduk.
Lian pun hanya diam saja karena dia tahu istrinya itu butuh waktu. setelah sarapan dia segera pamit pergi ke perusahaan.
“Zea, ada apa nak? Kenapa kakek perhatikan kamu sedih?” tanya George menatap cucu menantunya itu yang kini hanya melamun menemaninya menonton. Yah, Lian sudah meminta izin kepada Zia bahwa hari ini Zea belum masuk ke klinik.
“Hmm gak ada kok kek.” Jawab Zea.
George tersenyum, “Siapa yang ingin kau bohongi? Kakek? Ayo katakan ada apa.” Ucap George.
“Kek, bagaimana jika aku tidak bisa memberimu cicit?” tanya Zea sambil menahan tangisnya.
George pun tersenyum ternyata dugaannya benar bahwa cucu menantunya itu memikirkan hal itu, “Kakek yakin kau pasti akan hamil tapi mungkin belum sekarang. Kalian itu masih muda dan kalian juga menikah baru 4 bulan lalu. Kamu jangan pikirkan apapun, jika sudah waktunya kalian pasti akan memiliki anak. Kamu jangan khawatirkan kakek kan ada anak-anak kakakmu yang bisa kau ajak kesini. Mereka juga sudah termasuk cicit bagi kakek.” Ucap George.
__ADS_1
“Terima kasih kek.” Ucap Zea.
“Sudah jangan pikirkan itu lagi.” Ucap George.