
Singkat cerita, kini Rasti sudah tiba di mansion George dan dia segera di persilahkan masuk oleh pengawal yang menjaga pintu gerbang begitu mereka mengenali bahwa pengendara mobil itu adalah Rasti.
Rasti pun segera memakirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam mansion begitu pelayan di sana mempersilahkan dia masuk. Dia pun segera mendekati Zea yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Rasti segera berlari dan memeluk adiknya itu.
“Kak, kau di sini?” tanya Zea yang masih kaget melihat kedatangan sang kakak.
“Kau jahat kenapa kau sakit tidak memberitahuku? Apa kau sudah melupakan bahwa kau juga memiliki seorang kakak lagi?” ucap Rasti sambil melepas pelukannya.
Zea menatap Rasti dalam, “Kakak sudah mengetahuinya? Apa kak Zia yang mengatakannya?” tanya Zea.
“Apa itu penting aku tahu dari siapa? Sekarang katakan apa yang kau rasakan?” tanya Rasti menatap Zea dengan seksama dan dia menyadari bahwa adiknya itu sedikit pucat.
“Kak jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja.” Ucap Zea.
__ADS_1
“Baik-baik saja gimana? Penyakit kamu itu? Zea ayo kita melakukan pemeriksaan.” Ucap Rasti.
“Kak, apa kau tega membunuh dua keponakanmu?” tanya Zea.
Rasti yang baru mengetahui bahwa Zea hamil kembar pun hanya bisa menatap perut sang adik yang ternyata memang sudah besar, lebih besar dari kandungan pada umumnya untuk di umur kandungan yang baru 20 minggu.
“Mereka kembar? Twins?” tanya Rasti memastikan sambil memegang perut Zea.
Zea pun mengangguk, “Ya mereka kembar, twins kak. Aku mana mungkin tega membunuh kedua anakku kak dan jika pun dia hanya satu aku tetap tidak akan membunuhnya dengan rangkaian pemeriksaan yang akan aku jalani.” Ucap Zea.
“Kakak aku juga menyayangimu.” Balas Zea memeluk Rasti.
Cukup lama mereka bicara bahkan Rasti sampai di usir oleh Zea karena kakaknya itu tidak mau pergi padahal pekerjaan kantor banyak yang menunggunya. Dengan terpaksa Rasti pergi setelah di usir oleh sang adik bahkan dengan ancaman jika tidak pergi maka tidak boleh menemuinya lagi. Zea juga melakukan itu karena dia tahu sang kakak itu sangat sibuk, dia bersyukur memiliki Rasti yang menganggapnya adik padahal mereka tidak memiliki hubungan darah apapun.
__ADS_1
***
Kini Rasti dengan langkah gontai berjalan menuju ruangannya, “Nona muda!” sapa Gaby yang tidak di pedulikan oleh Rasti hingga Gaby pun segera menyentuh bahu nona bosnya itu.
“Ahh Gaby kau mengangetkanku. Bisa gak sih kalau jalan itu jangan suka muncul tiba-tiba macam hantu saja.” Ucap Rasti langsung nyelonong meninggalkan sang asisten yang masih bingung karena di katai hantu olehnya.
“Ahhh kan gara-gara nona muda sih katain hantu segala kan jadi lupa mau bilang bahwa,,”
Belum selesai Gaby bicara sudah terdengar teriakan dari dalam ruangan nona mudanya itu, “Gaby!! Siapa ini?” tanya Rasti keluar sambil menjewer seseorang yang memakai topeng serem.
Gaby yang melihat itu pun kaget, “Nona siapa dia?” tanya Gaby balik.
“Ouh astaga Gaby jika kau bertanya padaku maka aku harus bertanya kepada siapa?” ucap Rasti pusing.
__ADS_1
“Dan ini siapa sih? Iseng banget jadi orang.” Ucap Rasti lalu segera melepas topeng orang itu.
“Tuan Faris!!” teriak Rasti keras hingga membuat Gaby dan Faris refleks menutup telinganya.