
“Ck, jika kalian itu ingin mencari saksi jangan anak bayi dong mana bisa mereka bicara. Jelas-jelas kalian tadi menindasku.” Balas Rasti masih memeluk sang suami.
“Yaa sudah baiklah kami minta maaf yaa!” ucap Zia dan Zea bersamaan tapi mereka tersenyum.
“Tuh lihat mereka menindasku lagi. Suamiku lihatlah istrimu ini sedang di tindas di depan matamu.” Ucap Rasti dramatis.
“Kak Faris bagian mananya dari perkataan kami yang menindas kak Rasti? Kami gak melakukan apapun kami hanya meminta maaf.” Ucap Zea masih sibuk dengan buahnya yang di suapi oleh Lian.
“Ck, kalian itu bukan meminta maaf karena jika meminta maaf gak tersenyum begitu seolah-olah menertawakanku.” Balas Rasti.
“Ouh astaga lalu haruskah kami meminta maaf dengan dingin bahkan sinis?” tanya Zea.
“Kakak ipar, sebenarnya apa yang terjadi? A-aku gak mengerti apa yang membuat kalian begini?” ucap Faris bingung dengan apa yang terjadi.
“I-itu sebenarnya--” Ucap Zia
__ADS_1
“Kakak ipar jika kau mengatakannya maka aku akan memarahimu.” Potong Rasti.
“Ahh adik ipar jika memang kau ingin tahu tanyakan sendiri kepada istrimu karena aku masih tidak ingin mencari masalah dengan adikku.” Balas Zia.
“Kalian ini seperti anak kecil saja.” Ucap Pras yang langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga wanita di dalam ruangan itu. Pras pun yang di tatap seperti itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Hahahh, lucu sekali ekspresimu itu kakak ipar. Makanya jangan mencari masalah dengan singa betina yang sedang dalam buas-buasnya.” Ucap Lian tertawa tapi tidak menyadari kini tatapan ketiga wanita itu sudah berbalik menatapnya.
“Zea, harus kita apakan suamimu ini yang menyamakan kita dengan singa?” tanya Zia menatap adiknya.
“Emm kakak ipar aku hanya bercanda. Tolong jangan lakukan itu. Dear, tolong bantulah suamimu ini.” pinta Lian menatap sang istri.
“Suami? Siapa itu?” tanya Zea dan tetap fokus pada makanannya.
“Huft,, bro tolong bantu aku?” pinta Lian kepada Faris.
__ADS_1
“Awas saja kakak membantunya. Jika nanti membantunya maka aku pun akan memasukkanmu bersama sahabatmu itu ke dalam kandang buaya agar kalian bisa terus sama-sama di sana.” Ucap Rasti menatap tajam suaminya.
“Ehh maaf yaa boy untuk kali ini aku belum bisa membantumu, aku masih menyayangi diriku.” Ucap Faris.
“Kakak ipar!” pandang Lian menatap Pras tapi Pras hanya memutar kepalanya tidak memandang Lian.
“Rasakan saja sendiri hukumanmu itu. Jangan libatkan aku karena aku juga masih menyayangi diriku.” Balas Pras cuek.
Lian pun seketika lesu dan kembali menatap sang istri yang asik dengan buah yang dia makan dari tadi, “Dear, kakak ipar, tolong jangan lakukan itu yaa. Aku janji tidak akan mengatakan itu lagi.” Bujuk Lian.
“Emm,, tergantung!” jawab Zia.
Tiba-tiba, “Assalamu’alaikum!” ucap beberapa orang dari luar ruangan. Faris dan Rasti yang di dekat pintu pun segera membukakan pintu bagi mereka yang ternyata asisten mereka.
“Kalian datang?” sambut Lian girang karena dia bisa terhindar dari hukumannya berkat kedatangan mereka.
__ADS_1
“Lian jangan senang dulu karena hukumanmu tetap berlanjut.” Ucap Zia, senyum Lian yang tadi terbit seketika hilang begitu mendengar ucapan Zia. Lian pun menatap sang istri tapi yang di tatap justru seolah-olah tidak melihatnya.