Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 20


__ADS_3

“Gak usah”


Semua orang yang ada di dalam segera menoleh ke arah pintu.


“Zayyan, Zayyah! Anak bunda.” Ucap Zia mendekati kedua anaknya yang saat ini sedang digendong oleh Celine dan Andrew.


“Mami, Papi, terima kasih sudah menjaga kedua anakku.” Ucap Zia.


“Itu sudah pasti kami lakukan karena mereka adalah cucu kami.” Ucap Andrew.


“Papi!” ucap Celine.


“Mih, itu memang benar walau bagaimanapun darah kita mengalir dalam darah mereka.” Ucap Andrew.


“Tuan memang benar, darah kalian memang mengalir dalam darah mereka. Tapi mereka tetap anakku dan selamanya akan menjadi anakku. Tuan mungkin memberi mereka nama keluarga tuan kepada mereka tapi kedua anakku hanya akan menyandang nama belakangku saja.” Ucap Zia.


“Kamu gak bisa melakukan itu karena nama mereka sudah diresmikan. Mereka adalah calon pewaris kami.” Ucap Andrew.


“Apa sekarang tuan ingin mengambil mereka dariku dengan menggunakan anakku untuk mengancamku?” tanya Zia.


“Nak, kami tidak bermaksud begitu. Kamu bisa membawa anakmu kemana saja.” Ucap Celine lembut.


“Gak bisa mih. Mereka adalah cucuku.” Ucap Andrew.


“Papi!” ucap Celine.


“Biarkan saja nyonya. Nyonya gak perlu membelaku sedikit pun dan aku tidak akan memberikan anakku kepada siapapun itu. Mereka hanyalah anakku.” Ucap Zia tidak mau mengalah.


“Aku akan mempertaruhkan segalanya untuk anakku, bahkan jika nyawaku sekalipun.” Lanjut Zia.


“Jangan keras kepala nak. Kau tetap akan kalah.” Ucap Andrew.


“Papi!” ucap Rasti.


Andrew mengabaikan Rasti dan memandang Pras yang kini sudah duduk diranjangnya, “Apa kamu belum mengatakan semuanya padanya?” tanya Andrew menatap putranya tajam.


“Apa masih ada yang kamu sembunyikan dariku kak? Berapa banyak yang kau sembunyikan dariku? Harus berapa kali aku memaafkanmu? Apa semua yang terjadi padaku tetap belum cukup?” tanya Zia memandang Pras dengan air mata yang sudah menetes bahkan tangannya pun bergetar. Rasti yang melihat itu segera mengambil Zayyan dari gendongan Zia karena Zayyah tetap ada dalam gendongan Celine.


Pras yang melihat Zia menangis segera mendekat dan memeluk Zia, “Maaf!” ucap Pras.


“Lepaskan aku kak!” ucap Zia mendorong Pras yang memeluknya.


“Zia, aku mohon dengarkan penjelasanku. Aku mohon!” ucap Pras memohon sambil bersimpuh di hadapan Zia.


“Cepat katakan! Aku memberimu waktu sepuluh menit menjelaskan semua kebohonganmu.” Ucap Zia menghapus air matanya.


Pras pun segera mengambil semua berkas yang sudah dia bawa dan juga semua berkas yang diantar oleh Hans. Dia menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewati.


Zia pun mendengar semuanya dengan baik, “Jadi kita sudah suami istri secara Negara?” tanya Zia sambil menatap buku nikah ditangannya.

__ADS_1


Pras pun hanya mengangguk, “Zia, Kita sudah menjadi pasangan suami istri secara negara, ayo kita wujudkan buku nikah itu. Ayo kita menikah, setidaknya lakukan ini untuk Zayyan dan Zayyah jika kau belum mencintaiku. ” ucap Pras.


“Kenapa kakak ingin menikah denganku? Apa karena aku gadis itu atau hanya karena Zayyan dan Zayyah atau karena rasa bersalahmu?” tanya Zia.


“Zia, sudah aku katakan, aku mencintaimu sebagai dirimu sebagai Zia. Semua yang aku lewati bersamamu adalah hal yang paling membahagiakan. Aku mencintaimu Zia, sangat mencintaimu.” Ucap Pras sungguh-sungguh.


Zia yang melihat mata Pras untuk mendeteksi kebohongan disana tapi sayang tidak ada kebohongan apapun disana.


“Kita berbeda kak, carilah gadis yang baik.” ucap Zia.


“Gak, aku hanya ingin menikah denganmu tidak untuk gadis manapun.” Ucap Pras penuh tekad.


“Ayo menikah!” ajak Pras lagi.


Zia tersenyum, “Kau senang sakit kak, ayo lebih baik sekarang kau istirahat. Aku akan memikirkannya, nanti jika setelah kau sembuh maka ayo menikah.” Ucap Zia.


Tanpa mereka sadari kini di ruangan itu hanyalah mereka berdua.


“Aku sehat-sehat saja Zia, aku baik-baik aja. Lihat!” ucap Pras.


“Kau sedang sakit kak.” Ucap Zia.


“Gak, ayo kita menikah. Aku sudah sembuh.” Ucap Pras.


“Ahh,, baiklah. Marilah kita menikah. Aku ingin hari ini kita menikah dan di rumah sakit ini.” ucap Zia.


“Kamu yakin ingin menikah disini?” tanya Pras lagi.


“Kak, aku hanya butuh akad saja. Aku gak butuh apapun. Mungkin dulu aku memang bermimpi menikah secara mewah dan meriah tapi semua itu berbeda sekarang. Aku hanya ingin akad saja.” Ucap Zia.


“Maaf! Itu semua terjadi padamu karena aku.” Ucap Pras merasa bersalah.


“Jangan merasa bersalah kak. Itu mungkin sudah bagian dari takdirku. Aku bahagia dengan itu karena dengan begitu aku mendapatkan dua malaikat kecil yang sangat tampan dan cantik. Aku sudah berdamai dengan takdirku kak.” Ucap Zia.


“Ah, kenapa jadi begini sih? Bagaimana ini? Apa kita tidak jadi menikah?” tanya Zia.


“Apa gak bisa kita tunda dulu? Kita akan menikah besok saja.” Ucap Pras.


“Tidak untuk besok atau hari lainnya. Jika kakak memang ingin menikah maka itu hari ini. Jika tidak maka lupakan semua tentangku dan anak-anak, anggap saja kita tidak pernah bertemu.” Ucap Zia.


“Baiklah jika begitu, ayo kita menikah hari ini.” ucap Pras karena dia tidak ingin kehilangan Zia lagi.


“Baiklah, kita menikah disini. Tapi aku ingin wali nikahku adalah ayahku. Aku ingin ayah, ibu dan adikku ada disini.” Ucap Zia.


“Baiklah, itu bisa diatur.” Ucap Pras.


“Tapi apa kamu yakin ingin menikah disini?” tanya Zia.


“Gak boleh, kalian harus menikah dirumah.” Ucap Andrew tiba-tiba masuk tepat saat Zia ingin menjawab

__ADS_1


“Dan kamu gak boleh menolaknya Zia.” Lanjut Andrew menatap Zia.


“Terimah kasih sayang.” Ucap Celine.


“Kakak!” ucap Rasti.


“Terima kasih nak, maafkan papi tadi mengatakan semua itu padamu. Itu papi lakukan hanya untuk menguji ketegasan yang kau miliki karena menantu kami harus memiliki ketegasan apalagi untuk mendampingi pria pengecut seperti dia.” Ucap Andrew menunjuk putranya.


“Pih, jangan katakan juga. Aku tahu aku memang pengecut tapi gak usah diperjelas.” Ucap Pras.


Semua itu membuat semua orang tertawa.


“Kamu jangan khawatirkan apapun, kalian akan menikah hari ini tapi tidak di rumah sakit. Untuk orang tuamu dan adikmu, Hans sudah pergi menjemput mereka. Jadi kau jangan khawatir pernikahanmu tetap akan dihadiri oleh orang tuamu.” Ucap Celine.


“Terima kasih mih.” Ucap Zia.


“Iya, kau harus memanggil seperti itu jangan pernah panggil seperti tadi lagi.” Ucap Celine.


“Maaf!” ucap Zia.


“Gak apa-apa sayang.” Ucap Celine.


“Apa sekarang kau akan menjadi kakak iparku?” ucap Rasti memeluk Zia karena Zayyan sudah Pras gendong. Zia pun hanya tersenyum dan membalas pelukan Rasti.


“Ra, mami serahkan kakak iparmu kepadamu. Pokoknya mami tahu menantu mami harus cantik dan anggun. Ingat jaga menantu mami dengan baik.” ucap Celine.


“Siap Mih. Aku akan membuat kakak ipar lebih cantik lagi.” Ucap Rasti.


“Pras, segera kamu urus biaya perawatanmu. Mami dan Papi harus segera ke rumah.” Ucap Andrew.


Pras pun segera mengurus biaya perawatannya, Andrew dan Celine segera balik ke rumah dengan membawa kedua cucu mereka untuk mempersiapkan pernikahan dadakan putra mereka. Sementara Rasti mengajak Zia untuk pergi ke salon dan butik untuk membeli gaun pernikahan untuk Zia.


Pras yang sudah mengurus biaya pendaftarannya, dia juga segera menuju butik untuk membeli sebuah jas. Setelah itu dia kembali ke rumah utama keluarganya karena pernikahan akan dilaksanakan disana.


*


*


Wah, akhirnya Pras dan Zia akan menikah.😊


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻🙏🏻


Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻😉

__ADS_1


__ADS_2