
Zea pun hanya mengikutinya, “Sungguh?” tanya Zea menatap sang suami.
Lian pun mengangguk, “Kecuali jika kau memintanya aku tidak akan menolak.” Lanjut Lian tersenyum.
“Ah kakak!!” ucap Zea.
Lian pun tertawa segera membawa Zea ke pelukannya, “Tenang sayang jangan takut. Aku hanya bercanda. Aku akan menunggu sampai kau siap.” Ucap Lian lembut lalu mengecup kepala sang istri.
Zea pun menengahkan kepalanya menatap sang suami, “Maaf, Zea belum siap memberikannya malam ini. Zea tahu itu hak kakak tapi Zea,,” ucap Zea.
“Sudah sayang aku mengerti. Okay jangan pikirkan apapun. Lagian hal itu juga memang tidak bisa kita lakukan sekarang karena aku tahu kita kelelahan karena pesta tadi. Kita bisa melakukan itu lain kali.” Ucap Lian lembut.
“Terima kasih kak.” Ucap Zea memeluk suaminya itu.
“Apa sekarang kau sudah tidak malu memelukku seperti ini sayang?” goda Lian jahil.
Zea pun segera melepas pelukannya lalu menunduk, “Hahah,, kau bisa memelukku sayang sepuasmu. Bukankah aku ini sudah milikmu. Kita tidak lagi berdosa sayang melakukannya bahkan yang lebih dari itu saja tidak berdosa.” Ucap Lian tersenyum.
__ADS_1
“Kakak!!” ucap Zea.
“Hahahh, baiklah aku tidak akan menggodamu sayang. Lebih baik kita tidur. Aku lelah!” ucap Lian lalu segera berbaring di ranjang.
“Ayo berbaring di sini. Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu.” Ucap Lian yang melihat Zea ragu.
“Hmm,, Zea bersih-bersih dulu.” Ucap Zea segera menuju kamar mandi. Lian pun mengangguk lalu menyusul istrinya itu untuk bersih-bersih juga.
Setelah itu mereka segera berbaring bersama dan tidur. Tidak ada yang terjadi antara mereka seperti janji Lian kecuali pelukan itu pun atas izin dari Zea. Mereka pun segera tertidur lelap mungkin karena memang kelelahan karena prosesi penikahan mereka tadi.
***
“Hmm,, bagaimana tadi malam?” goda Rasti.
“Apanya yang bagaimana?” tanya Zea pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Rasti.
“Hahah,, apa kau sedang malu? Baiklah kakak tidak akan menanyakannya.” Ucap Rasti.
__ADS_1
“Kami belum melakukannya kak.” Ucap Zea.
“Kenapa?” tanya Zia yang ikut mendengar pembicaraan kedua adiknya itu.
“Yah, karena Zea belum siap.” Jawab Zea malu.
Zia dan Rasti pun hanya tersenyum, “Tapi ingat dek jika nanti Lian meminta haknya kamu harus memberikannya. Kita sebagai perempuan harus bisa mengerti mereka karena mereka tidak selamanya harus menahan hasrat mereka. Jadi jika dia memintanya kau harus memberikannya.” Jelas Zia.
Zea pun mengangguk mengerti, “Ah sudah jangan bahas hal itu. Lebih baik kau terima ini, ini hadiah dariku untuk pernikahanmu. Kau harus menerimanya tidak boleh menolak.” Ucap Rasti segera menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Zea.
“Kakak,, i-ini. Terima kasih kak.” Ucap Zea memeluk Rasti. Setelah itu mereka segera bergabung dengan para pria di ruang tamu.
“Lian, ini hadiah kakek untukmu.” Ucap George memberikan dua tiket pesawat untuk mereka.
Lian pun menerimanya, “Terima kasih kek.” Jawabnya.
George pun mengangguk, “Kalian tidak usah memikirkan apapun karena semua sudah siap kalian tinggal berangkat saja. Ohiya tiket pesawatnya jam 10.00. Kalian siap-siap saja. Kakek harap setelah kembali akan ada cicit di perut Zea.” Ucap George.
__ADS_1
“Doakan saja kek.” Jawab Lian sementara Zea hanya tersenyum malu mendengarnya.
Semua keluarga pun memberikan hadiah mereka setelah itu Zea dan Lian segera siap-siap ke bandara untuk pergi bulan madu.