
Suasana gugup di kamar Rasti tidak jauh berbeda dengan kegugupan Faris yang sedang duduk di meja akad bersama penghulu yang akan menikahkan mereka. Yah, walaupun ini hanya akad saja tapi pernikahan ini resmi secara agama dan Negara. Rasti dan Faris hanya menunda untuk melaksanakan pesta pernikahannya.
Andrew pun segera duduk di hadapan Faris sebagai wali nikah untuk putrinya, dia memandang Faris yang mencoba menyembunyikan kegugupannya tapi Andrew tetap tahu bahwa pria itu tengah gugup hingga dia pun segera menepuk bahu Faris, “Tenanglah! Jangan gugup.” Ucap Andrew.
Faris pun memandang Andrew dan tersenyum, “Apa sudah bisa kita mulai?” tanya penghulu.
Andrew mengangguk begitupun dengan Faris lalu keduanya segera diarahkan untuk saling menjabat tangan begitu keduanya sudah siap dan seluruh keluarga juga sudah hadir.
“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Faris Hayyan Gifari bin Gifari Dirgantara dengan anak kandung perempuan saya Prasti Permata Mahendra binti Andrew Mahendra dengan mas kawin uang sebesar 1 miliar rupiah dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.”
__ADS_1
“Saya terima nikah dan kawinnya Prasti Permata Mahendra binti Andrew Mahendra dengan mas kawin uang sebesar 1 miliar rupiah dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.” Jawab Faris dengan lantang dan satu kali tarikan nafasnya.
“Gimana para saksi?” tanya penghulu kepada kedua saksi dan seluruh keluarga yang menyaksikan akad nikah itu dan langsung mendapat jawaban sah dari seluruh orang yang ada dalam ruangan itu.
Penghulu pun segera mengucap Alhamdulillah dan berdoa untuk pernikahan mereka.
Sementara Rasti yang di dalam kamarnya yang mendengar ijab qabul itu segera meneteskan air matanya karena bahagia bahwa ternyata dia sudah sah menikah dan statusnya kini sudah seorang istri. Zia segera memeluk Rasti, “Selamat sayang! kau saat ini sudah memiliki suami.” Ucap Zia.
“Kak, selamat untuk pernikahanmu. Aku ikut bahagia untukmu!” ucap Zea kemudian.
__ADS_1
Rasti pun mengangguk dan mengucap terima kasih kepada Zea lalu tidak lama kemudian Celine dan Alice segera masuk ke kamar itu untuk menjemput Rasti menuju meja akad menemui sang suami.
“Iss kenapa anak mami menangis begini?” tanya Alice segera menghapus air mata di pipi Rasti untuk saja make up yang dia pakai anti air hingga air matanya tidak merusak make up-nya.
“Ayo sayang kita temui suamimu.” Ucap Celine.
Rasti pun tersenyum dan segera menerima gandengan kedua maminya setelah Zia memastikan bahwa make upnya baik-baik saja. Kelima orang itu segere keluar dari kamar menuju ruang tamu di mana akad dilaksanakan.
Faris yang melihat kedatangan Rasti pun sudah berdiri dengan senyuman menyambut kedatangannya karena tidak menyangka bahwa gadis yang dia temui pertama kali di pertunangan sahabatnya sebagai calon tunangan sahabatnya kini gadis itu sudah sah sebagai istrinya padahal saat itu dia patah hati karena ternyata gadis yang dia temui di taman adalah gadis yang menjadi tunangan sahabatnya.
__ADS_1
Celine dan Alice segera menyerahkan tangan Rasti kepada Faris yang langsung menerimanya. Rasti dan Faris pun saling beradu pandang lalu Rasti segera mengecup punggung tangan sang suami dan Faris mengecup keningnya lalu keduanya segera bertukar cincin pernikahan.
Setelah itu mereka berdua segera menandatangani surat-surat pernikahan mereka dan kini keduanya sudah memegang buku nikah masing-masing. Acara akad nikah pun di lanjutkan dengan acara foto bersama dan diakhiri dengan makan siang bersama karena itu memang sudah menunjukkan waktu makan siang.