Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 45


__ADS_3

“Kakak, maaf aku telat.” Ucap Zea segera masuk ke ruangan kakaknya.


“Gak apa-apa dek. Bagaimana ujiannya?” tanya Zia yang saat itu sedang makan di suapi oleh Alya.


“Alhamdulillah berjalan lancar kak.” Jawab Zea setelah dia menyalami para orang tua di ruangan itu terakhir dia menyalami Zia dan Pras.


“Syukurlah.” Ucap Zia.


Zea pun segera duduk lalu memeriksa denyut nadi kakaknya dan memeriksa infus yang terpasang, “Kak, apa kau sudah merasakan sakit?” tanya Zea.


Zia pun tersenyum, “Kau tenanglah. Kakak baru mengalami kontraksi palsu kok.” jawab Zia.


Zea pun hanya mengangguk, “Tapi kak denyut nadinya semakin cepat sepertinya sebentar lagi kau akan segera melahirkan. Aku yakin saat ini kau sedang mengalami kontraksi. Iya kan?” tanya Zea menatap kakaknya itu.


Lagi-lagi Zia hanya tersenyum, “Tunggu sebentar aku akan panggilkan dokter untuk memindahkanmu ke ruang bersalin.” Ucap Zea segera keluar.


Sementara Pras yang mendengar itu segera mendekati istrinya itu yang sudah selesai makan, “Apa benar kau mengalami kontraksi?” tanya Pras memegang lengan istrinya itu.


Zia pun hanya tersenyum, “Jangan tersenyum baby, jika memang sakit katakan.” Ucap Pras.


Zia pun hanya memegang tangan Alya erat. Tidak lama kemudian Zea kembali beserta dokter kandungan yang akan menangani Zia.


Zia pun segera di bawah ke ruang bersalin dengan di temani oleh Pras dan Alya tentunya. Celine tidak ikut masuk ke dalam karena dia sudah kembali ke rumah Pras dan Zia untuk menjemput kedua cucunya.


Saat sudah masuk ke ruang bersalin ternyata Zia sudah pembukaan lima. Satu jam kemudian akhirnya pembukaan Zia lengkap karena ini kelahiran kedua untuk Zia jadi proses pembukaannya cepat.


Zia pun melahirkan sambil beristigfar sementara Pras meneteskan air mata melihat perjuangan istrinya itu untuk melahirkan buah cinta mereka ke dunia. Lagi-lagi dia terpikir bagaimana saat Zia melahirkan si kembar yang saat itu hanya ditemani oleh Hanifa.

__ADS_1


Zia yang sedang berfokus untuk melahirkan anaknya itu pun memegang erat lengan sang suami dan juga Alya. Pras yang merasakan sakit di lengannya hanya dia saja karena dia tahu pasti yang di rasakan Zia jauh lebih sakit dari itu. Dia ikhlas memberikan lengannya itu untuk istrinya jika memang itu bisa meredakan rasa sakit yang di alami istrinya.


30 menit berlalu akhirnya suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin itu. Semuanya mengucap syukur sementara Pras menciumi wajah sang istri sambil melafalkan kata terima kasih berulang kali. Zia pun hanya tersenyum menanggapinya karena saat ini dia sedang berfokus untuk pengeluaran plasenta.


30 menit kemudian, kini Zia sudah di pindahkan ke ruang rawatnya kembali dengan box bayi yang sudah ada di dekat ranjangnya. Proses kelahiran anak ketiganya itu berjalan dengan sangat lancar. Seluruh keluarga memandang bayi mungil itu dengan tersenyum dan bahagia.


Begitupun dengan Zayyan dan Zayyah yang sedang ada dalam gendongan Andrew dan Gibran, “Apa kalian senang memiliki adik?” tanya Gibran yang sedang menggendong Zayyan. Kedua balita itu pun mengangguk dan tersenyum lalu meminta untuk di turunkan dan mendekati box bayi.


“Kak, selamat untukmu!” ucap Rasti yang baru saja tiba saat Zia di pindahkan ke ruang rawat.


“Untukmu juga selamat kak. Sekarang kau sudah memiliki tiga anak. Ee,, keponakanku ini cowo atau cewe?” tanya Rasti beralih melihat keponakannya yang saat ini di kelilingi oleh kedua balita yang menatap bayi mungil itu dengan berbinar.


Semua keluarga pun menatap Pras dan Zia karena mereka memang belum mengetahui jenis kelamin anggota baru keluarga mereka itu. Tentu saja kecuali Pras dan Alya yang menemani Zia melahirkan.


“Dia cowo kok.” jawab Zia.


Zayyah yang mendengar itu pun tersenyum seperti mengerti bahwa Rasti baru saja memberikan selamat untuknya. Sementara Zayyan ikut tersenyum lalu meraih tangan kecil mungil itu seolah-olah memintanya untuk berteman menjaga Zayyah nanti. Entah kenapa sikap cemburu Zayyan itu tidak timbul. Biasanya tidak boleh ada yang memuji Zayyah dia pasti akan menangis jika tidak di puji juga.


Pras yang melihat putra sulungnya itu pun segera mendekatinya dan menggendongnya, “Wow, putra ayah kau paling mengerti. Sekarang kau dan adik harus menjaga Zayyah dengan baik. Kalian harus melindunginya dan menyayanginya.” Ucap Pras yang langsung mendapat anggukan dari putra sulungnya itu.


Sementara seluruh keluarga pun tertawa melihat anggukan dari Zayyan itu. Sedangkan Zia hanya bisa tersenyum karena dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan putrinya itu yang mungkin akan di kelilingi oleh tiga pria posesif nanti.


“Hey, kakak siapa nama keponakan baru kami ini?” tanya Zea.


“Ah, iya siapa nak?” tanya Celine.


“Zeyyan.” Ucap Pras.

__ADS_1


“Kami ingin menyamakan nama putra kami. Jadi hanya beda satu huruf saja. Dia Ruzeyyan Azzaky Mahendra.” Lanjut Pras menatap putra bungsunya itu yang masih damai dengan mimpinya.


“Bagus, jadi keponakan kami nanti Zayyan,Zayyah dan Zeyyan. Wow tripel Z.” ucap Rasti.


Semua keluarga pun menyetujui nama itu untuk anggota baru keluarga mereka. Lagi-lagi Andrew segera memberikan sahamnya yang masih 5% di perusahaan Mahendra Group untuk cucunya itu. Kini dia hanya tinggal memiliki saham di perusahaan sang istri.


***


Sementara di sisi lain, Lian yang mendengar bahwa istri dari presdir Mahendra Group baru saja melahirkan pun segera menuju ke rumah sakit di mana Zia di rawat. Dia memberanikan datang menemui calon kakak iparnya itu. Entahlah dia pun gak tahu siapa yang akan menjadi kakak iparnya.


Dia sangat berharap untuk menjadi adik ipar dari istri sang presdir tapi sampai saat ini dia belum bisa membatalkan perjodohan konyol dengan adik presdir Mahendra Group. Jadi dia datang kesana dengan dua identitas, sebagai tunangan adik sang presdir juga sebagai pria yang mencintai adik dari istri sang presdir.


Lian datang ke rumah sakit tidak lupa membawa buah tangan tentunya. Kurang lebih 45 menit dia mengendarai mobilnya, kini tibalah dia di rumah sakit di mana Zia ada. Dia pun segera masuk ke ruangan VVIP No.1 setelah menanyakan kepada resepsionis rumah sakit ruang rawat Ziandra Putry Malik.


“Assalamu’alaikum, selamat sore!” salam Lian.


Semua keluarga yang ada dalam ruangan itupun menoleh ke arah sumber suara, “Wa’alaikumsalam.”


“Tuan Lian.” Sapa Pras yang langsung mengenali Lian.


“Ah, iya tuan Pras.” Jawab Lian canggung karena seluruh keluarga ada di sana.


“Ah duduk nak.” ucap Gibran.


Lian pun segera duduk tapi tidak lupa dia memberikan buah tangan yang dia bawa, “Terima kasih sudah menyempatkan datang tuan Lian.” Ucap Zia yang saat itu sedang menggendong Zeyyan.


Lian pun hanya tersenyum lalu dia memandang seseorang yang sedang menunduk di sudut.

__ADS_1


__ADS_2