Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 17


__ADS_3

Saat ini Pras sedang berada di vila dan memandang dalam Zia.


“Ada apa kak? Kenapa kau memandangku seperti itu?” tanya Zia.


“Gak ada apa-apa kok.” bohong Pras. Padahal dia memikirkan bagaimana dia harus mengatakan semua itu kepada Zia.


Pras pun memandangi wajah kedua anaknya dalam diam. Dia larut dalam pikirannya bagaimana dia harus membujuk Zia.


“Dek, ada yang ingin kakak katakan.” Ucap Pras akhirnya.


“Apa yang ingin kakak katakan?” tanya Zia.


“I-itu,,” ucap Pras terpotong karena tiba-tiba ponsel Zia bordering.


“Maaf ya kak, Zia izin menjawab telepon.” Izin Zia dan Pras pun hanya mengangguk.


Kurang lebih 15 menit Zia berbicara dengan salah satu pembeli langganannya. Setelah selesai Zia pun segera kembali, “Ohiya, maaf kak lama. Apa yang ingin kakak katakan?” tanya Zia.


“Ah, gak jadi kok. Gak penting. Sudah sana jika kau masih punya urusan sana kau kerjakan dulu, biar mereka kakak yang jaga.” Ucap Pras.


“Beneran gak jadi?” tanya Zia memastikan.


“Iya.” Jawab Pras.


“Baiklah jika begitu. Zia titip mereka sebentar yah.” Ucap Zia dan Pras hanya mengangguk.


Zia pun segera berlalu kemudian dia menengok kebelakang kembali untuk melihat Pras, “Aku tahu apa yang ingin kau katakan kak, aku harap kau tidak akan menyesalinya karena tidak mengatakannya tadi. Aku sudah memberimu kesempatan.” Batin Zia.


***


Seminggu kemudian, kini Zia sudah bersiap-siap untuk kembali. Zia memang belum memberitahukan perihal kepulangannya kepada kedua orang tuanya karena dia berencana memberikan kejutan untuk kedua orang tuanya.


Zia pun sudah mengatur semua barangnya, “Kak, kau yakin ingin kembali?” tanya Rasti.


“Iya. Tapi kau jangan khawatir karena kakak pasti akan terus menghubungimu.” Jawab zia.


“Terus bagaimana dengan usaha kita?” tanya Rasti.


“Bukankah kita sudah membicarakan ini?” tanya Zia balik.


“Iya, tapi aku gak yakin bisa menjalankan usaha ini kak.” Jawab Rasti.


“Kakak yakin kau bisa.” Ucap Zia sambil mengatur pakaiannya.


Sementara disisi lain.


“Apa kau bodoh? Kenapa kau belum mengatakan apapun padanya? Dia akan segera pulang hari ini.” ucap Andrew.


“Mami gak nyangka kau jadi seperti ini. Apa kau ingin kehilangannya lagi?” tanya Celine.


“Mih, Pih, aku sudah berusaha mengatakan padanya hanya saja selalu saja ada halangannya.” Jawab Pras.


“Lalu sekarang kau hanya akan diam saja?” tanya Andrew tajam.


“Gak pih aku pasti akan menghalanginya, aku akan mengatakan semuanya padanya hari ini.” ucap Pras.


“Lalu kenapa kau masih disini? Dia saat ini sudah bersiap-siap untuk pergi.” ucap Celine.


“Mih, aku masih harus menunggu Hans mengambil tes DNA dari rumah sakit.” Jawab Pras.


“Kenapa kau masih butuh tes DNA jika memang kau tahu mereka adalah anakmu?” tanya Celine.


“Mih, aku memang tahu mereka adalah anakku tapi bagaimana dengan Zia? Dia pasti akan menyangkalnya makanya dari itu aku harus membawa tes DNA itu agar dia tidak bisa mengelak.” Jawab Pras.


“Ah, kau lama.” Ucap Celine melemparkan sebuah kertas ke hadapan Pras.


“Apa ini?” tanya Pras.


“Itu adalah tes DNA. Itu adalah tes yang kami lakukan.” Ucap Celine.


“Kenapa kalian tidak mengatakannya dari seminggu yang lalu bahwa kalian sudah melakukan itu?” tanya Pras.


“Karena kami ingin tahu sampai mana perjuanganmu untuk mendapatkannya ternyata kau seperti ini, masih saja pengecut. ” ucap Andrew.


“Ingat kami tidak ingin kehilangan menantu seperti dia dan cucu seperti mereka. Mereka adalah pewaris dari Mahendra Group.” Lanjut Andrew.


“Ingat nak, Zia adalah gadis baik. Jika saja Mami memiliki putra lain selain dirimu maka pasti mami akan menyuruhnya menikahi Zia jika kau tidak mau hanya saja mami hanya memiliki kau.” Ucap Celine.


Pras pun hanya diam mendengar kedua orang tuanya dan dia menyadari bahwa dia memang pengecut, “Mih, Pih. Maafkan Pras. Pras janji akan membawanya ke rumah ini sebagai menantu dari keluarga Mahendra. Pras pergi dulu. Doakan Pras.” Ucap Pras segera berlalu.


“Pras, tunggu!” ucap Andrew.


“Ada apa lagi pih? Aku harus segera kesana. Jika tidak aku akan terlambat.” Ucap Pras.


“Ambilah ini. Kami harap itu bisa membantumu.” Ucap Andrew sambil menyerahkan beberapa dokumen.


“Apa ini pih?” tanya Pras sambil membuka dokumen itu.


“Buku nikah? Akta lahir Zayyan dan Zayyah?” tanya Pras kaget.


“Yah, kami yang mengurusnya.” jawab Andrew.


“Kok bisa? Kami kan belum menikah pih?” tanya Pras.

__ADS_1


Andrew hanya tersenyum, “Apa papi menggunakan kekuasaan papi?” tanya Pras.


“Hey, kau tidak berterimah kasih justru mengatakan itu? Asal kau tahu saja papi melakukan itu karena papi tidak ingin kedua cucu papi itu akan dicap sebagai anak lahir diluar nikah dan juga calon menantu papi akan dikatakan sebagai gadis yang tidak baik karena hamil diluar nikah. Padahal itu semua adalah kesalahanmu.” Ucap Andrew.


Pras pun segera memeluk papi dan maminya itu sambil mengucapkan terimah kasih karena dia tidak menyangka dia yang melakukan kesalahan tapi kedua orang tuanya mencoba memperbaiki kesalahan yang telah dia perbuat dengan tetap menjaga harga diri dari Zia dan kedua anaknya secara hukum. Yah, jadi Zia dan Pras sudah secara hukum tercatat sebagai pasangan suami istri begitupun dengan kedua anak mereka. Selain itu, saham dari Andrew dan Celine di perusahaan Mahendra Group sudah atas nama Zayyan dan Zayyah.


***


“Kak, kau yakin akan berangkat sekarang?” tanya Rasti lagi.


Zia pun hanya tersenyum, “Kenapa kamu selau menanyakan itu? Kamu seperti terkesan sedang mengulur waktu.” Ucap Zia.


“Ah, kakak! Aku hanya belum siap berpisah denganmu. Aku sudah terbiasa memiliki kakak perempuan.” Ucap Rasti sambil mengumpat kakaknya yang juga belum tiba sampai saat ini, “Awas saja jika kau tidak datang kak, aku akan membunuhmu nanti.” Batin Rasti.


Zia pun segera naik mobil yang sudah dia pesan.


“Zia!” panggil Pras tiba-tiba.


Zia pun menoleh sambil tersenyum, “Ada apa kak? Kenapa kau kesini?” tanya Zia.


“Turunlah dulu sebentar, aku ingin bicara.” Ucap Pras.


“Maaf kak, Zia harus pergi.” ucap Zia.


“Zia, aku mohon!” ucap Pras.


“Pak, jalan!” ucap Zia kepada sopir.


“Awas saja jika kau menjalankan mobilnya, aku akan menelpon bosmu dan menyuruhnya memecatmu.” Ancam Pras tajam.


“Kak, kenapa kau menghalangiku? Aku akan pergi kak. Jangan ancam sopirku seperti itu.” Ucap Zia.


“Baiklah sepertinya kau memang tidak ingin bicara berdua denganku. Baiklah jika memang itu keputusanmu, jika memang kau ingin pergi maka pergilah tapi kau harus meninggalkan Zayyan dan Zayyah disini.” Ucap Pras akhirnya, padahal dia tidak tega mengatakan itu hanya saja dia tidak tau lagi bagaimana dia harus menghalangi Zia untuk pergi, sementara Rasti yang melihat itu ingin rasanya dia memukul kakaknya itu.


“Kenapa aku harus meninggalkan anakku disini kak? Apa hak yang kau miliki sehingga kau harus memintaku untuk meninggalkan mereka?” tanya Zia akhirnya turun dari mobil.


“Ya-yah karena mereka adalah anakku. Mereka darah dagingku. Aku ayah mereka.” Ucap Pras.


*


*


*


Happy reading guys !!


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.


Mohon maaf jika ada typo.


“Ada apa kak? Kenapa kau memandangku seperti itu?” tanya Zia.


“Gak ada apa-apa kok.” bohong Pras. Padahal dia memikirkan bagaimana dia harus mengatakan semua itu kepada Zia.


Pras pun memandangi wajah kedua anaknya dalam diam. Dia larut dalam pikirannya bagaimana dia harus membujuk Zia.


“Dek, ada yang ingin kakak katakan.” Ucap Pras akhirnya.


“Apa yang ingin kakak katakan?” tanya Zia.


“I-itu,,” ucap Pras terpotong karena tiba-tiba ponsel Zia bordering.


“Maaf ya kak, Zia izin menjawab telepon.” Izin Zia dan Pras pun hanya mengangguk.


Kurang lebih 15 menit Zia berbicara dengan salah satu pembeli langganannya. Setelah selesai Zia pun segera kembali, “Ohiya, maaf kak lama. Apa yang ingin kakak katakan?” tanya Zia.


“Ah, gak jadi kok. Gak penting. Sudah sana jika kau masih punya urusan sana kau kerjakan dulu, biar mereka kakak yang jaga.” Ucap Pras.


“Beneran gak jadi?” tanya Zia memastikan.


“Iya.” Jawab Pras.


“Baiklah jika begitu. Zia titip mereka sebentar yah.” Ucap Zia dan Pras hanya mengangguk.


Zia pun segera berlalu kemudian dia menengok kebelakang kembali untuk melihat Pras, “Aku tahu apa yang ingin kau katakan kak, aku harap kau tidak akan menyesalinya karena tidak mengatakannya tadi. Aku sudah memberimu kesempatan.” Batin Zia.


***


Seminggu kemudian, kini Zia sudah bersiap-siap untuk kembali. Zia memang belum memberitahukan perihal kepulangannya kepada kedua orang tuanya karena dia berencana memberikan kejutan untuk kedua orang tuanya.


Zia pun sudah mengatur semua barangnya, “Kak, kau yakin ingin kembali?” tanya Rasti.


“Iya. Tapi kau jangan khawatir karena kakak pasti akan terus menghubungimu.” Jawab zia.


“Terus bagaimana dengan usaha kita?” tanya Rasti.


“Bukankah kita sudah membicarakan ini?” tanya Zia balik.


“Iya, tapi aku gak yakin bisa menjalankan usaha ini kak.” Jawab Rasti.


“Kakak yakin kau bisa.” Ucap Zia sambil mengatur pakaiannya.


Sementara disisi lain.

__ADS_1


“Apa kau bodoh? Kenapa kau belum mengatakan apapun padanya? Dia akan segera pulang hari ini.” ucap Andrew.


“Mami gak nyangka kau jadi seperti ini. Apa kau ingin kehilangannya lagi?” tanya Celine.


“Mih, Pih, aku sudah berusaha mengatakan padanya hanya saja selalu saja ada halangannya.” Jawab Pras.


“Lalu sekarang kau hanya akan diam saja?” tanya Andrew tajam.


“Gak pih aku pasti akan menghalanginya, aku akan mengatakan semuanya padanya hari ini.” ucap Pras.


“Lalu kenapa kau masih disini? Dia saat ini sudah bersiap-siap untuk pergi.” ucap Celine.


“Mih, aku masih harus menunggu Hans mengambil tes DNA dari rumah sakit.” Jawab Pras.


“Kenapa kau masih butuh tes DNA jika memang kau tahu mereka adalah anakmu?” tanya Celine.


“Mih, aku memang tahu mereka adalah anakku tapi bagaimana dengan Zia? Dia pasti akan menyangkalnya makanya dari itu aku harus membawa tes DNA itu agar dia tidak bisa mengelak.” Jawab Pras.


“Ah, kau lama.” Ucap Celine melemparkan sebuah kertas ke hadapan Pras.


“Apa ini?” tanya Pras.


“Itu adalah tes DNA. Itu adalah tes yang kami lakukan.” Ucap Celine.


“Kenapa kalian tidak mengatakannya dari seminggu yang lalu bahwa kalian sudah melakukan itu?” tanya Pras.


“Karena kami ingin tahu sampai mana perjuanganmu untuk mendapatkannya ternyata kau seperti ini, masih saja pengecut. ” ucap Andrew.


“Ingat kami tidak ingin kehilangan menantu seperti dia dan cucu seperti mereka. Mereka adalah pewaris dari Mahendra Group.” Lanjut Andrew.


“Ingat nak, Zia adalah gadis baik. Jika saja Mami memiliki putra lain selain dirimu maka pasti mami akan menyuruhnya menikahi Zia jika kau tidak mau hanya saja mami hanya memiliki kau.” Ucap Celine.


Pras pun hanya diam mendengar kedua orang tuanya dan dia menyadari bahwa dia memang pengecut, “Mih, Pih. Maafkan Pras. Pras janji akan membawanya ke rumah ini sebagai menantu dari keluarga Mahendra. Pras pergi dulu. Doakan Pras.” Ucap Pras segera berlalu.


“Pras, tunggu!” ucap Andrew.


“Ada apa lagi pih? Aku harus segera kesana. Jika tidak aku akan terlambat.” Ucap Pras.


“Ambilah ini. Kami harap itu bisa membantumu.” Ucap Andrew sambil menyerahkan beberapa dokumen.


“Apa ini pih?” tanya Pras sambil membuka dokumen itu.


“Buku nikah? Akta lahir Zayyan dan Zayyah?” tanya Pras kaget.


“Yah, kami yang mengurusnya.” jawab Andrew.


“Kok bisa? Kami kan belum menikah pih?” tanya Pras.


Andrew hanya tersenyum, “Apa papi menggunakan kekuasaan papi?” tanya Pras.


“Hey, kau tidak berterimah kasih justru mengatakan itu? Asal kau tahu saja papi melakukan itu karena papi tidak ingin kedua cucu papi itu akan dicap sebagai anak lahir diluar nikah dan juga calon menantu papi akan dikatakan sebagai gadis yang tidak baik karena hamil diluar nikah. Padahal itu semua adalah kesalahanmu.” Ucap Andrew.


Pras pun segera memeluk papi dan maminya itu sambil mengucapkan terimah kasih karena dia tidak menyangka dia yang melakukan kesalahan tapi kedua orang tuanya mencoba memperbaiki kesalahan yang telah dia perbuat dengan tetap menjaga harga diri dari Zia dan kedua anaknya secara hukum. Yah, jadi Zia dan Pras sudah secara hukum tercatat sebagai pasangan suami istri begitupun dengan kedua anak mereka. Selain itu, saham dari Andrew dan Celine di perusahaan Mahendra Group sudah atas nama Zayyan dan Zayyah.


***


“Kak, kau yakin akan berangkat sekarang?” tanya Rasti lagi.


Zia pun hanya tersenyum, “Kenapa kamu selau menanyakan itu? Kamu seperti terkesan sedang mengulur waktu.” Ucap Zia.


“Ah, kakak! Aku hanya belum siap berpisah denganmu. Aku sudah terbiasa memiliki kakak perempuan.” Ucap Rasti sambil mengumpat kakaknya yang juga belum tiba sampai saat ini, “Awas saja jika kau tidak datang kak, aku akan membunuhmu nanti.” Batin Rasti.


Zia pun segera naik mobil yang sudah dia pesan.


“Zia!” panggil Pras tiba-tiba.


Zia pun menoleh sambil tersenyum, “Ada apa kak? Kenapa kau kesini?” tanya Zia.


“Turunlah dulu sebentar, aku ingin bicara.” Ucap Pras.


“Maaf kak, Zia harus pergi.” ucap Zia.


“Zia, aku mohon!” ucap Pras.


“Pak, jalan!” ucap Zia kepada sopir.


“Awas saja jika kau menjalankan mobilnya, aku akan menelpon bosmu dan menyuruhnya memecatmu.” Ancam Pras tajam.


“Kak, kenapa kau menghalangiku? Aku akan pergi kak. Jangan ancam sopirku seperti itu.” Ucap Zia.


“Baiklah sepertinya kau memang tidak ingin bicara berdua denganku. Baiklah jika memang itu keputusanmu, jika memang kau ingin pergi maka pergilah tapi kau harus meninggalkan Zayyan dan Zayyah disini.” Ucap Pras akhirnya, padahal dia tidak tega mengatakan itu hanya saja dia tidak tau lagi bagaimana dia harus menghalangi Zia untuk pergi, sementara Rasti yang melihat itu ingin rasanya dia memukul kakaknya itu.


“Kenapa aku harus meninggalkan anakku disini kak? Apa hak yang kau miliki sehingga kau harus memintaku untuk meninggalkan mereka?” tanya Zia akhirnya turun dari mobil.


“Ya-yah karena mereka adalah anakku. Mereka darah dagingku. Aku ayah mereka.” Ucap Pras.


*


*


*


Happy reading guys !!😊

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻


Mohon maaf jika ada typo.🙏🏻


__ADS_2