
Kini Rasti sedang sibuk dengan proyek yang sedang perusahaannya kerjakan sehingga untuk membahas kelanjutan perjodohannya dengan Lian pun belum terpikirkan.
“Dek, bagaimana hubunganmu dengan nak Lian?” tanya Andrew pada putrynya itu saat mereka sarapan bersama sebelum Rasti berangkat ke kantor.
Rasti yang saat itu sedang fokus dengan sarapannya pun melihat ke arah sang papi, “Hubungan kami baik-baik aja kok.” jawab Rasti.
“Beneran baik-baik aja kan?” Celine ikut bertanya.
“Mami kok nanyanya gitu?” tanya Rasti balik.
“Ya gak apa-apa sayang. Pasalnya kamu belum pernah mengajaknya ke rumah dan kami dengar kalian baru dua kali bertemu.” Jawab Celine.
“Apa mami dan papi menyuruh seseorang mematai-mataiku?” tanya Rasti.
“Itu demi kebaikanmu nak.” jawab Andrew.
“Ah terserahlah. Percuma juga aku menolak jika papi dan mami sudah memutuskannya.” Ucap Rasti pasrah.
“Sudahlah jangan bahas itu. Kami ingin bertanya apa kalian sudah membicarakan hubungan kalian ke depannya? Ingat nak, kamu itu sudah sangat cocok menikah. Kami juga ingin memeluk cucu darimu.” Ucap Celine.
“Ouh ayolah Mih. Aku masih mudah dan baru beberapa bulan lalu mengambil alih perusahaan Mami. Masa iya harus segera menikah. Apa kalian sudah bosan melihatku tinggal di rumah ini?” tanya Rasti merajuk.
“Bukan begitu sayang. Kami sangat senang kau tinggal di sini hanya saja kami juga ingin melihat putri kami ini segera menikah.” Ucap Celine lembut.
“Hmm,, terserahlah. Aku memang gak pernah menang jika harus berdebat dengan Mami dan Papi. Perjodohan ini kan kalian yang mengaturnya maka lanjutkan saja ke langkah berikutnya jika memang kalian menginginkannya. Aku akan menerima semua keputusan kalian. Sudah dulu yaa Mih Pih aku berangkat kerja dulu.” Pamit Rasti menyalami kedua orang tuanya itu lalu segera pergi.
Celine dan Andrew pun hanya mengangguk, sementara Rasti yang sudah sampai di garasi mobilnya hanya menghela nafas, “Aku saja gak tahu apa dia mencintaiku atau tidak? Tapi kalian sangat mengingkan pernikahan ini.” gumam Rasti lalu segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke perusahaannya.
***
__ADS_1
Zea pun sangat sibuk dengan belajarnya untuk UKOM karena dia harus segera mendapatkan surat izin praktiknya. Dia yang sangat sibuk dengan belajar hingga tidak sempat bertemu lagi dengan Lian dan hanya bisa memandang kalung dan cincin pemberian pria itu. Dia juga sudah memutuskan untuk kembali menganggap pria itu sebagai tunangan kakaknya. Bukankah memang seperti itu dari awal.
Bagi Zea cukup beberapa jam saja dia bisa menikmati waktu dengan orang yang dia cintai itu sudah lebih dari cukup.
Sementara di sisi lain, “Alan, apa kau mengetahui siapa yang kakek temui akhir-akhir ini?” tanya Lian karena dia curiga dengan seseorang yang selalu mengikutinya akhir-akhir ini dan dia menebak bahwa orang yang mengikutinya itu pasti suruhan kakeknya.
“Hmm i-itu tuan besar tidak menemui siapapun. Dia selalu di Mansion utama tapi setiap minggu ada mantan asisten ayah anda datang menemuinya tapi tujuannya untuk apa kami belum mengetahuinya.” Jawab Alan.
“Hmm,, lalu bagaimana dengan orang yang akhir-akhir ini mengikutiku. Apa orang itu suruhan kakek?” tanya Lian.
“O-orang itu bukan suruhan tuan besar.” Jawab Alan.
“Lalu suruhan siapa?” tanya Lian.
“I-itu orangnya nona Rasti.” Jawab Alan ragu.
“Rasti? Rasti Permata Mahendra maksudmu?” tanya Lian tidak percaya.
“Menurutmu kenapa dia melakukan itu?” tanya Lian kepada asistennya itu.
“Sepertinya dia hanya ingin tahu kegiatan calon tunangannya saja karena kami sudah mengintrogasi orang itu dan dia menjawab seperti itu.” Jawab Alan.
“Ah baiklah. Kalau begitu kau lanjutkan saja pekerjaanmu.” Ucap Lian. Alan pun segera keluar dari ruangan tuan mudanya itu.
Sementara di dalam Lian menganalisa kenapa Rasti mengirim orang untuk mematai-matainya. Lian juga bukan orang bodoh yang percaya dengan mudah alasan seperti itu. Dia yakin pasti ada sesuatu yang telah terjadi yang tidak dia ketahui. Dia pun akhirnya memutuskan menelpon seseorang untuk mencari tahu hal itu.
***
Sementara di sisi lain, Rasti setelah menyelesaikan peninjauan proyek yang sedang di tanganinya pun segera menuju ruangan kerjanya, “Apa sudah ada kabar tentang itu?” tanya Rasti kepada Gaby asisten pribadinya yang sekaligus merangkap sekretarisnya.
__ADS_1
“I-itu,,” ucap Gaby ragu.
“Katakan saja. Jangan ragu.” Ucap Rasti duduk di meja kerjanya.
“Orang yang nona tempatkan untuk mengawasi tuan Lian sudah di introgasi oleh asistennya.” Ucap Gaby.
“Tapi nona tenang saja. Dia sudah mengatakan seperti apa yang sudah kita sampaikan.” Lanjut Gaby.
Rasti pun mengangguk mengerti, “Kau boleh keluar” ucap Rasti.
Dia pun memikirkan hal itu lalu tersenyum dan mengambil telepon untuk menelpon seseorang.
***
Seminggu berlalu, kini Zia sudah di rumah sakit karena dia sudah mengalami kontraksi sejak dini hari. Pras pun segera melarikan istrinya itu ke rumah sakit dengan segera padahal kontraksi yang Zia rasakan baru kontraksi palsu.
“Baby, apa sakit?” tanya Pras yang melihat istrinya itu berjalan kesana kemari di ruang rawat.
Zia pun tersenyum lalu mendekati suaminya itu dan mengecup pipi suaminya sekilas, “Gak apa-apa kok. Ini gak sakit. Bukankah ini kehamilan keduaku, kenapa hubby sangat khawatir.” Ucap Zia.
“Bagaimana aku tidak khawatir jika kau kesakitan seperti itu. Lagian kali ini aku menemanimu melahirkan sebagai suami sedangkan dulu,,” ucap Pras tiba-tiba terdiam karena mengingat kejadian di mana Zia melahirkan anak-anaknya dulu yang hanya bisa mendengar tangisan bayi dari luar ruang bersalin sedangkan kini dia harus menemani istrinya itu melahirnya jadi tentu saja perasaannya jauh lebih berat.
Lagi-lagi Zia tersenyum mendengar suaminya itu bicara, “Sudahlah, jangan ingat yang dulu, aku sudah melupakannya. Bukankah saat ini hubby ada bersamaku. Itu biarlah menjadi bagian dari takdir kita.” Ucap Zia.
“Maaf!” ucap Pras lagi.
“Stst,, jangan minta maaf. Kita sama-sama salah saat itu.” Ucap Zia tersenyum.
Pras pun memeluk istrinya itu dengan erat karena istrinya itu memiliki banyak stok kebaikan sehingga memaafkannya. Untuk itulah kenapa Pras selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Zia dan selalu melarang ini itu saat dia hamil ini karena dia ingin menebus rasa bersalahnya tidak menemani Zia saat dia hamil si kembar.
__ADS_1
Zia pun kembali berjalan-jalan di ruangan itu agar kepala bayi segera turun ke panggul. Ini adalah pengalaman melahirkan yang kedua untuknya jadi dia sudah tidak begitu takut. Pras memang menyarankan untuk melakukan operasi saja tapi di tolaknya karena dia tetap ingin melahirkan secara normal.
Tidak lama kemudian Andrew, Celine, Alya dan Gibran tiba bersamaan dan segera menuju ruang rawat Zia. Mereka menemani Zia di ruangan itu walau ada Pras juga di sana. Hanya Rasti dan Zea yang tidak kelihatan karena Zea saat ini sedang mengikuti UKOM sementara Rasti sibuk dengan proyeknya.