
“Kenapa kau bisa mengalami kecelakaan seperti ini?” tanya Lian yang kini sudah di rumah sakit dengan di temani oleh sang istri.
“Biasalah boy laki-laki.” Jawab Faris enteng.
“Dasar ceroboh!” ucap Lian.
Seketika Faris teringat dengan Rasti karena tadi pagi Rasti juga mengatainya seperti itu, “Kalian tahu dari mana aku mengalami kecelakaan? Sepertinya aku belum menelponmu?” tanya Faris.
“Itu Rasti menelpon istriku.” Jawab Lian.
“Sungguh?” tanya Faris berbinar.
Lian pun mengangguk, “Apa kalian sudah memiliki hubungan?” selidik Lian.
Faris pun tertawa, “Ouh ayolah boy, bukankah kau tahu dia seperti apa?” ucap Faris.
“Ada apa? Apa tanganmu sakit?” tanya Lian begitu menyadari perubahan ekspresi Faris.
__ADS_1
“Gak ada kok hanya saja aku berharap dia datang karena tadi dia sudah berjanji akan datang setelah rapatnya selesai tapi sampai sekarang dia gak datang. Aku pikir dia sudah membuka hatinya untukku tapi ternyata aku saja yang banyak berharap.” Ucap Faris.
“Kak Faris salah, kak Rasti ingin datang, aku tahu walau dia tidak mengatakannya hanya saja dia harus meninjau proyek bersama kak Pras dan menemui klien sampai malam. Aku tahu dia pasti saat ini merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya.” Ucap Zea yang dari tadi hanya mendengar suami dan sahabatnya itu bicara.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Faris menatap gadis yang pernah mencuri hatinya itu walau sesaat.
“Dia menelponku dengan alasan agar aku menyampaikan kepada suamiku bahwa kak Faris sakit agar kami datang menjengukmu. Itu hanya alasan yang dia gunakan agar kami datang dan menemani kak Faris agar tidak kesepian sendiri di sini. Kak Rasti adalah orang paling peka di antara kami.” Jawab Zea.
“Benarkah begitu? Lalu kenapa dia tidak peka dengan perasaanku?” tanya Faris tertawa.
Faris pun hanya mengangguk, “Sudahlah kami akan menemanimu di sini. Tenang saja aku akan menemanimu karena berhubung pekerjaanku tidak banyak juga.” Ucap Lian menenangkan sahabatnya itu agar tidak sedih.
***
“Terima kasih atas makanannya dan semoga kerja sama kita berjalan lancar.” Ucap Rasti menyalami kliennya yang sama-sama wanita.
“Gak masalah. Apa kita gak pergi bersama saja?” tanya klien Rasti.
__ADS_1
“Gak usah nona karena saya masih harus ke suatu tempat.” Jawab Rasti.
Klien Rasti pun hanya mengangguk lalu mereka segera mengambil mobil masing dan berlalu menuju tujuan masing-masing. Rasti segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit dan di jalan dia singgah terlebih dahulu di supermarket membelikan beberapa makanan yang efektif untuk menyembuhkan luka.
Tidak lama dia segera sampai di rumah sakit dan memakirkan mobilnya di parkiran dan segera masuk menuju ruangan Faris yang ternyata Faris sedang makan dengan di suapi oleh Reno sang asisten.
“Nona Rasti!!” sapa Reno melihat Rasti masuk dan Faris dia tersenyum melihat Rasti yang datang dengan wajah lelahnya. Faris mengerti bahwa Rasti pasti langsung ke sini setelah bertemu kliennya.
Rasti pun hanya mengangguk, “Sini biar saya saja.” Pinta Rasti setelah meletakkan makanan yang dia bawa.
“Gak usah kamu pasti lelah kan? Kamu istirahat saja biar Reno yang menyuapiku.” Tolak Faris.
Rasti pun membiarkannya karena memang benar dia sangat lelah, “Ohiya apa yang kau bawa? Apa itu untukku?” tanya Faris.
“Ouh ini.” ucap Rasti lalu menyerahkan apa yang dia beli. Faris pun tersenyum menerimanya lalu segera menghabiskan makanannya dan makan apa yang di bawa Rasti.
“Terima kasih!”
__ADS_1