Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 48


__ADS_3

Sementara sang pria hanya menatap kepergian Zea, tiba-tiba dia melihat ada dua orang yang sepertinya sedang mengikuti Zea dan segera menangkapnya, “Susul gadis itu.” Ucap pria itu segera berlari masuk mobilnya.


Pria yang satunya itu pun hanya bisa berlari menyusul tuan mudanya itu, “Cepat jalan! Ikuti mobil itu, jangan sampai tertinggal.” Perintahnya.


“Tapi tuan,,”


“Jalan atau tidak gajimu bulan ini hangus.” Ancamnya.


Pria itu pun yang sepertinya asisten pria itu pun hanya bisa menurutinya karena tidak ingin kehilangan gajinya. Dia pun segera malajukan mobilnya mengikuti mobil di depannya.


Sementara di mobil lain, “Lepas! Kalian siapa? Kenapa menangkapku?” tanya Zea berteriak.


“Diam jika kau ingin selamat.”


Zea pun diam karena saat ini dia memang sedang ketakutan. Dia hanya berdoa semoga ada yang menolongnya. Tiba-tiba mobil itu mengerem dengan mendadak, “Hey, apa kau tidak bisa menyetir dengan baik?” tanya pria yang ada di dekat Zea.


“Lihatlah ada yang menghalangi kita.” Jawab pria yang menyetir mobil.


Zea yang melihat siapa yang keluar dari mobil di depannya pun hanya bisa berharap semoga mereka memang berniat menolongnya, “Keluar! Lepaskan gadis itu.”


“Siapa kalian?”


Tanpa ba bi bu pria yang di luar itu pun segera membuka pintu mobil dan menarik pria yang di samping Zea dan memukulnya. Akhirnya terjadi baku hantam antara pria yang menculik Zea dan pria yang tadi di taman. Dua lawan dua memang seimbang tapi tetap saja pria yang di taman itu yang menang dan membuat pria yang menculik Zea itu lari dan segera melajukan mobilnya.


Tapi sebelumnya Zea sudah keluar dari mobil, “Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu.


Zea pun hanya mengangguk, “Terima kasih sudah menolong saya. Jika tidak ada anda maka saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Saya berhutang budi kepada anda.” Ucap Zea.


Pria itu pun tersenyum, “Jika memang kau ingin berterima kasih, bisakah kau mengobati luka ini?” pinta pria itu sambil menunjuk bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.


“Ah, baiklah. Apa kalian membawa alat P3K di mobil kalian?” tanya Zea kepada pria yang satunya.


Pria itu pun segera mengambilkan P3K di mobil, “Ini nona.”


Zea pun menerimanya lalu segera membuka alat P3K itu yang ternyata obat yang ada di sana sangat lengkap. Dia pun segera menyiapkannya dengan cepat dan mengoleskannya ke bibir pria yang di taman itu, “Ini mungkin akan sedikit perih.” Ucap Zea lalu segera mengoleskan alcohol ke bibir pria itu.


Sementara pria itu pun hanya mengangguk dan menatap manik mata Zea yang baginya sangat cantik. Dia sebenarnya tidak merasakan sakit dan luka sekecil itu pasti tidak akan terasa tapi dia hanya ingin merasakan perhatian dari gadis cantik di hadapannya itu yang sudah berhasil mencuri perhatiannya saat di taman.


Zea pun segera menyelesaikannya, “Sudah.” Ucap Zea tersenyum lalu merapikan alat P3K dan menyerahkan kepada pria yang satunya.

__ADS_1


“Sekali lagi terima kasih sudah menolong saya. Saya pamit.” ucap Zea berlalu pergi.


“Tunggu!” tahan pria itu


Zea pun berbalik dan kembali menatap pria itu, “Tidak bisakah saya tahu namamu?” tanya pria itu.


Zea pun tersenyum, “Apa itu penting?” pria itu pun mengangguk.


“Baiklah, saya Zeandra panggil saja Zea.” Ucap Zea.


Pria itu juga tersenyum, “Zea, nama yang cantik. Saya Faris Hayyan panggil saja Faris.” Ucap pria itu.


Zea pun mengangguk, “Kalau begitu saya pamit.” Zea pun segera berlalu pulang dengan taxi.


“Gadis yang menarik.” Ucap Faris tersenyum.


“Tuan!” panggil asistennya.


“Baiklah, ayo jalan. Segera temui mami dan papi.” Ucap Faris


***


“Ada apa?” tanya Lian.


“I-itu nona Zea di culik.” Ucap Alan ragu.


“Apa? Zea? Di culik?” tanya Lian segera berdiri.


“Iya tuan tapi kata pengawal yang mengawasi nona Zea sudah ada pria yang menolong nona Zea dan kini nona Zea sudah tiba di rumah tuan Pras dengan baik.” jelas Alan.


“Lalu apa yang dikerjakan pengawal sampai Zea bisa diculik?” tanya Lian marah.


“I-itu,,” ucap Alan.


“Huh, lebih baik sekarang kita temui kakek. Sepertinya dia memang tidak main-main dengan ancamannya. Aku yakin ini pasti ulah kakek dan untuk pria yang menolong Zea aku harus tahu siapa dia.” Ucap Lian segera turun karena dia ingin segera menemui sang kakek.


Alan pun mengikuti tuannya itu dan segera melajukan mobil menuju Mansion utama.


***

__ADS_1


“Kakek! Kakek!” panggil Lian begitu tiba di Mansion. Dia sangat kesal saat ini.


“Ada apa kamu teriak-teriak di Mansion kakek?” tanya George tajam.


“Kakek apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau menculiknya?” tanya Lian marah.


“Ouh jadi kau sudah tahu? Bukankah sudah ku katakan aku akan melakukan apapun untuk bisa memisahkan kalian. Aku tidak main-main dengan itu. Hari ini dia bisa selamat tapi tidak untuk lain kali.” Ucap George.


“Kek, kenapa kau melakukan ini padaku?” teriak Lian.


“Kau sudah tahu jawabannya.” Ucap George.


“Kenapa kau selalu memaksakan kehendakmu kek?” tanya Lian.


“Aku tidak suka aturan yang kubuat di langgar begitu saja. Jika ayahmu bisa kutaklukan lalu kenapa kau tidak.” Ucap George.


“Apa maumu kek?” teriak Lian.


“Setujui perjodohan itu maka aku jamin gadis itu aman. Aku tidak akan menyentuhnya. Semua pilihan ada di tanganmu.” Ucap George berlalu.


Lian pun seketika lemas seperti tidak bertenaga, “Baiklah, aku turuti keinginanmu kek. Tapi kau harus menepati janjimu untuk tidak menyakitinya.” Ucap Lian pasrah.


George pun tersenyum, “Itu baru cucuku. Keputusan yang bijak.” Balas George berbalik.


“Ohiya, lusa kalian harus melakukan fitting untuk pertunangan kalian. Ingat jangan sampai kau terlambat.” Ucap George berlalu.


Sementara Lian ingin rasanya dia berteriak tapi tidak bisa, “Tuan!” panggil Alan.


Lian pun segera berdiri, “Bawa aku ke bar.” Ucap Lian.


Alan yang mendengar hal itu pun kaget pasalnya tuan mudanya itu untuk kali kedua ini dia meminta ke bar. Pertama kalinya saat kedua orang tuanya meninggal, Lian untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di tempat haram itu. Dia minum di sana sampai benar-benar mabuk hingga harus di rawat. Dan kali ini dia meminta kesana lagi. Untuk itulah Alan kaget karena dia melihat tuannya itu semakin berubah saat bertemu dengan Zea.


Tuan mudanya itu semakin religius dan pernah Alan mendengar tuannya itu ingin berubah ingin mengenal lebih dekat tuhannya. Dia ingin sepadan dengan Zea katanya.


“Tuan, kau yakin akan pergi kesana?” tanya Alan saat mereka sudah di mobil.


“Bawa saja Alan, jangan banyak bertanya.” Ucap Lian.


Alan pun hanya diam saja dan segera melajukan mobil menuju bar seperti keinginan tuannya.

__ADS_1


__ADS_2