
“Ahh,, menyebalkan! Tuan Faris yang terhormat lebih baik anda sekarang cepat pergi dari sini sebelum saya mengusir anda.” Ucap Rasti kesal.
Faris yang mendengar perkataan Rasti pun segera menghentikan tawanya, “Sayang, apa kamu tega mengusir calon suamimu yang sedang sakit ini?” tanya Faris dengan bibir mengerucut.
“Jangan berakting lagi tuan Faris. Saya bosan melihatnya. Segeralah pulang dan jangan ganggu saya.” balas Rasti tanpa melihat Faris.
“Huh baiklah. Tapi sebelum itu aku minta maaf atas semuanya. Tadi itu bercanda sayang. Mau kan memaafkan calon suamimu ini?” Faris menatap Rasti dengan intens.
“Hmm,, aku pikir-pikir dulu. Sudah sana pulang!” usir Rasti.
“Gak sebelum kamu memaafkan saya.” jawab Faris.
“Ouh God. Baiklah calon suami yang tampan dan juga baik hati calon istrimu ini memaafkan semuanya. Puas?” tanya Rasti menatap Faris yang tengah cengesan.
“Ihh kok calon istri kaya terpaksa sih. Yang tulus dong sayang.” ucap Faris tersenyum.
__ADS_1
Rasti yang melihat itu pun menjadi malas bercampur kesal, “Ouh ayolah jangan membuatku malas. Tuan Faris lebih baik anda sekarang pulang dan terserah anda mau percaya dengan perkataan saya tadi atau tidak. Pulang sebelum saya memanggil keamanan untuk mengusir anda.” Balas Rasti.
“Hmm,, baiklah aku akan pergi calon istri. Tega banget sih sama calon suami sendiri.” Balas Faris mendumel.
“Bodo amat! Salah sendiri membuatku kesal. Mana aku masih pusing dengan Zea lagi.” Gumam Rasti yang masih bisa di dengar oleh Faris.
“Zea siapa? Apa Zea istrinya Lian? Ada apa dengannya?” tanya Faris beruntun.
Rasti yang mendengar itu pun segera menatap Faris, “Ayo jawab calon istri. Ada apa dengan Zea?” ulang Faris.
“Apa? Penyakit jantung? Lalu bagaimana dengan Lian sekarang? Aku yakin dia pasti sedang terpuruk.” Duga Faris.
Rasti pun mengangguk, “Sepertinya tuan Lian memang sedang terpuruk bahkan mungkin lebih terpuruk daripada Zea.” Duga Rasti juga.
“Apa kamu sudah melihat adikmu itu?” tanya Faris.
__ADS_1
Rasti pun mengangguk, “Tentu saja aku sudah menjenguknya. Jika belum aku pasti merasa menjadi kakak yang buruk. Aku tahu terakhir saja aku merasa tidak becus apalagi jika aku tidak menjenguknya.” Ucap Rasti.
“Kapan kau menjenguknya? Dan sejak kapan adikmu itu di diagnosa penyakit jantung?” tanya Faris.
“Huh banyak banget sih pertanyaannya. Yang pasti aku baru mengetahuinya tadi dan seluruh keluarga juga baru mengetahuinya kemarin sedangkan dia di diagnosa penyakit jantung itu sebulan yang lalu.” Jawab Rasti.
“Ahh jadi kau terlambat tadi datang ke kantor masih pergi menjenguknya?” tebak Faris dan langsung mendapat anggukan dari Rasti.
Faris pun terdiam lalu tiba-tiba dia bersuara, “Bukankah Zea itu sedang hamil? Lalu bagaimana dengan penyakitnya?” tanya Faris keras hingga membuat Rasti kaget.
“Ouh Astagfirullah Yaa Allah. Kau membuatku kaget tuan Faris.” Ucap Rasti mengelus dadanya.
“Itu dia juga yang membuat semuanya buruk karena saat ini dia sedang hamil dan kehamilannya itu memburuk penyakitnya. Selain itu juga dia belum ingin memeriksa secara keseluruhan tentang penyakitnya karena tidak ingin membahayakan kandungannya. Hmm,, tau ahh aku pusing. Aku takut ini membuat pengobatannya terlambat. Ahh aku takut membayangkannya jika nanti,,” ucap Rasti sedih hingga tidak bisa melanjutkan perkataannya.
“Tuan Faris bagaimana jika aku harus kehilangan adikku? Aku tidak ingin kehilangannya tapi aku hanya bisa mendukung keputusan yang dia ambil walau dengan berat hati.” Lanjut Rasti.
__ADS_1