
Rasti pun menghela nafasnya begitu selesai bercerita, “Jadi kakak sudah tahu dari awal?” tanya Zea malu menatap Rasti.
Rasti pun segera memeluk adiknya itu dan mengangguk, “Hmm,, sebenarnya aku gak tahu tapi saat pertemuan keduaku dengan tuan Lian aku menyadari sesuatu karena tuan Lian terus menatapmu saat itu. Aku jujur cemburu saat itu karena calon tunanganku justru memandang gadis lain.” Ucap Rasti tertawa.
“Maaf!” ucap Zea.
“Jangan meminta maaf. Kamu gak salah sayang. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa memprediksikan kita jatuh cinta kepada siapa. Aku justru merasa bersalah karena menjadi orang ketiga di antara kalian. Untung saja aku menyadarinya sebelum terlambat.” Ucap Rasti.
Lian yang melihat interaksi Rasti dan Zea pun menjadi terharu akan hubungan mereka karena mereka yang tidak memiliki ikatan darah rela berkorban satu sama lain untuk orang yang mereka sayangi.
Lian pun mendekati Rasti dan tunangannya itu, cie,, cie,, sudah tunangan,, hmm berenti balik ke topic, “Maafkan aku nona Rasti tanpa sadar aku menyakitimu.” Ucap Lian meminta maaf.
Rasti pun mantan tunangannya itu sambil tersenyum, “Tuan Lian jangan meminta maaf, aku juga memang tidak ingin menikah dengan seorang laki-laki yang tidak mencintaiku. Hmm,, aku berbahagia untuk kalian, tuan Lian tolong jaga adikku ini dengan baik jika tidak maka aku akan mencarikan dia laki-laki lain dan langsung menikahkannya.” Ucap Rasti mengancam. Seluruh keluarga pun tertawa melihat itu.
Lian pun mengangguk mantap, “Nona Rasti jangan khawatir aku pasti akan menjaganya dengan baik.” ucap Lian sambil menatap wanitanya itu dengan tulus.
__ADS_1
“Ya sudah semuanya kalau begitu ayo dek berdiri yang cantik di samping tuan Lian. Aku ingin mengabadikan kalian.” Ucap Rasti yang langsung menyuruh Zea.
Zea pun hanya bisa menurut dan akhirnya seluruh keluarga pun berfoto-foto.
“Maafkan Zea mami, papi!” ucap Zea kepada Celine dan Andrew.
Celine dan Andrew pun tersenyum lalu memeluk Zea, “Jangan minta maaf sayang. Kamu gak salah. Mami dan Papi ikut bahagia untukmu.” Ucap Celine dan diangguki Andrew.
Lian yang melihat gadisnya sedang bersama Celine dan Andrew pun mendekatinya, “Tuan, Nyonya maafkan saya!” ucap Lian.
“Maaf nyonya. Maaf untuk semua kesalahanku.” Ucap Lian.
“Sudahlah kau jangan meminta maaf, lebih baik kau jaga baik-baik putri kecil kami ini. Awas saja sampai lecet.” Ucap Andrew mengancam lalu memeluk pria yang hampir jadi menantunya itu.
“Saya janji tuan akan menjaganya dengan baik.” ucap Lian.
__ADS_1
“Jangan panggil tuan. Panggil papi seperti Zea memanggil kami.” Pinta Andrew dan di angguki oleh Celine.
“Baik Pih, Mih.” Ucap Lian.
Setelah itu dia mendekati calon mertuanya, “Om, tante saya Alvan Aulian Putra panggil saja Lian, maaf baru menemui kalian.” Ucap Lian.
Gibran pun langsung memeluk calon menantunya itu, “Gak apa-apa nak. Satu yang papa minta tolong jaga putri kecilku itu dengan baik.” ucap Gibran.
“Tentu pa.” jawab Lian.
“Tante!” Ucap Lian beralih kepada Alya.
“Panggil Mama, Mama titip yaa putri manja kami itu.” Ucap Alya.
Lian pun mengangguk, “Tentu ma.” Jawabnya.
__ADS_1
Zea yang melihat itu hanya tersenyum karena dia tidak menyangka hari ini dia akan bertunangan dengan pria yang di cintainya dan juga mencintainya.