Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 170


__ADS_3

Faris masih menikmati menatap wajah memerah sang istri lalu kemudian tersenyum, “Jika kamu belum bersedia saya bisa menunggu.” Ucap Faris lalu melepaskan kungkungannya dan berbaring di samping istrinya dengan tangan yang memeluk istrinya erat untuk meredakan gairahnya yang sempat naik hanya dengan melihat wajah cantik istrinya itu dari jarak dekat. Faris mengatakan hal itu karena dia mengerti bahwa mungkin istrinya itu belum siap dan dia tidak ingin memaksakan kehendak walau itu adalah haknya. Dia bisa menunggu sampai istrinya itu siap walau itu mungkin sedikit menyiksanya karena dia sebagai pria dewasa yang normal tentu saja tidak akan tahan tidur bersama wanita yang sudah sah menjadi istrinya tanpa bisa berbuat lebih.


Rasti pun menatap sang suami dan dia mengerti saat ini suaminya itu sedang menahan sesuatu. Dia merasakannya karena tubuh mereka mereka yang sangat dekat pengaruh pelukan suaminya. Rasti pun menatap wajah sang suami dengan mata tertutup dan dia mengangkat sedikit wajahnya dan satu kecupan mendarat di bibir sang suami.


Cup

__ADS_1


Faris yang merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya pun segera membuka matanya dan dia melihat wajah dekat istrinya itu yang kini sedang tersenyum, “Kamu,,” ucap Faris tertahan karena kecupan untuk kedua kalinya mendarat di bibirnya.


“Rasti siap kok kak tapi--” ucap Rasti terpotong karena Faris langsung mengecup bibirnya dan bukan hanya sekedar kecupan seperti yang dilakukan Rasti karena itu adalah ciuman dan Faris semakin memperdalam ciumannya. Rasti yang kaget akan hal itu pun mencoba menyesuaikan dirinya karena ini memang ciuman pertama kalinya. Dia membalas ciuman sang suami hanya dengan mengikuti nalurinya dan ciuman itu pun semakin panas dan baru Faris lepas saat mereka merasa bahwa asupan oksigen di tubuh mereka hampir habis.


Faris mengelus bibir sang istri yang sudah memerah dan membengkak karena ulahnya itu dengan jarinya dan saat dia akan membuat tanda kepemilikan di leher sang istri Rasti menahannya, “Jika ingin melanjutkannya kita harus sholat dulu. Aku tahu mungkin nafsu kakak saat ini sudah naik tapi aku--” ucap Rasti memerah malu untuk membahas hal yang intim seperti itu.

__ADS_1


Rasti pun hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami yang saat ini menggendongnya.


Sekitar kurang lebih 30 menit akhirnya Faris dan Rasti sudah selesai menunaikan ibadah dua rakaat itu dengan penuh hikmat. Faris setelah selesai berdoa segera mengecup kening istrinya dan Rasti mencium tangan sang suami.


Rasti segera bangkit membereskan alat sholat mereka dan dia melepas mukenahnya dan kini terlihatlah rambut panjangnya yang masih terikat itu di mata Faris. Faris mengagumi semua yang ada pada istrinya itu. Dia yang memang sudah melihat rambut istrinya tadi saat mereka wudhu sama-sama tetap masih saja terkagum dengan rambut terawat istrinya dan dia segera mendekat ke istrinya yang sedang melihat mukenahnya lalu segera menarik ikatan rambut istrinya hingga kini rambut itu sudah tergerai dengan indah dan langsung Faris cium dengan dalam seolah menikmati aroma rambut sang istri.

__ADS_1


Rasti pun membiarkannya dan tetap fokus menyimpan alat sholat mereka dan begitu selesai Faris langsung menggendongnya menuju ranjang dan Rasti pun hanya mengalungkan tangannya dileher sang suami. Dia sudah siap menyerahkan kewajibannya kepada suaminya itu dengan bahagia dan apa yang harus terjadi pada pasangan yang saling mencintai itu terjadilah untuk meraih kenikmatan dunia bersama.


__ADS_2